Meski terlihat tenang, Gunung Slamet tetap berbahaya
Kamis, 13 Maret 2014 - 00:05 WIB
Meski terlihat tenang, Gunung Slamet tetap berbahaya
A
A
A
Sindonews.com - Gunung Slamet yang lama 'tertidur pulas' bisa berpotensi mengalami erupsi. Kondisi itu bisa terjadi kapanpun dalam waktu yang tidak ditentukan.
Kepala Program Studi Pasca Sarjana Fakultas Teknik Jurusan Teknik Geologi Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Agung Harijoko, mengatakan, hal itu ditunjukkan dengan kesamaan antara Gunung Slamet dengan Gunung Kelud yang berkarakter tenang.
"Jangan dikira gunung yang sudah lama tidak erupsi maka gunung itu aman. Siklus itu dilihat dari waktu terakhir suatu gunung erupsi. Ada yang siklus empat tahunan seperti Merapi, itu artinya biasanya setiap empat tahun terjadi erupsi. Tapi, ilmu pengetahuan tidak bisa membaca kepastian waktu siklus itu kapan terjadi," jelasnya saat diwawancarai, Rabu 12 Maret 2014.
Kendati demikian, dia membantah jika meningkatnya status Gunung Slamet lantaran terpengaruh dengan letusan Gunung Kelud beberapa waktu lalu.
Menurutnya, setiap gunung api memiki kantong magma sendiri-sendiri yang berada di bawah gunung. Erupsi bisa terjadi karena ada jalan dari kantong magma menuju permukaan atau puncak suatu gunung api.
"Erupsi satu gunung dengan gunung lainnya berlainan. Syarat utama gunung api bisa erupsi itu harus mendapat suplai magma dari dapurnya. Supaya dapat suplai, harus ada jalan bagi magma menuju permukaan sehingga terjadi erupsi," terangnya.
Baca:
Gunung Slamet semburkan asap hitam
Cerita rakyat, asal-usul Gunung Slamet
Takut meletus, warga berduyun-duyun pantau Gunung Slamet
Kepala Program Studi Pasca Sarjana Fakultas Teknik Jurusan Teknik Geologi Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Agung Harijoko, mengatakan, hal itu ditunjukkan dengan kesamaan antara Gunung Slamet dengan Gunung Kelud yang berkarakter tenang.
"Jangan dikira gunung yang sudah lama tidak erupsi maka gunung itu aman. Siklus itu dilihat dari waktu terakhir suatu gunung erupsi. Ada yang siklus empat tahunan seperti Merapi, itu artinya biasanya setiap empat tahun terjadi erupsi. Tapi, ilmu pengetahuan tidak bisa membaca kepastian waktu siklus itu kapan terjadi," jelasnya saat diwawancarai, Rabu 12 Maret 2014.
Kendati demikian, dia membantah jika meningkatnya status Gunung Slamet lantaran terpengaruh dengan letusan Gunung Kelud beberapa waktu lalu.
Menurutnya, setiap gunung api memiki kantong magma sendiri-sendiri yang berada di bawah gunung. Erupsi bisa terjadi karena ada jalan dari kantong magma menuju permukaan atau puncak suatu gunung api.
"Erupsi satu gunung dengan gunung lainnya berlainan. Syarat utama gunung api bisa erupsi itu harus mendapat suplai magma dari dapurnya. Supaya dapat suplai, harus ada jalan bagi magma menuju permukaan sehingga terjadi erupsi," terangnya.
Baca:
Gunung Slamet semburkan asap hitam
Cerita rakyat, asal-usul Gunung Slamet
Takut meletus, warga berduyun-duyun pantau Gunung Slamet
(rsa)