Jembatan Citamiang menelan 2 korban jiwa
Kamis, 06 Maret 2014 - 15:57 WIB
Jembatan Citamiang menelan 2 korban jiwa
A
A
A
Sindonews.com - Sejak dibangun sekira 60 tahun yang lalu, Jembatan Rawayan Citamiang, di Desa Cikondang, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut, sering mengalami kerusakan. Karena jembatan tersebut merupakan akses utama yang paling vital di Desa Cikondang, warga juga telah sering memperbaikinya.
Tentunya perbaikan yang dilakukan hanya bersifat seadanya dan alakadarnya. Tak heran, jika jembatan yang membentang sepanjang 80 meter di atas Sungai Cisanggiri ini tidak memiliki jaminan ketahanan yang memadai.
Warga setempat juga sudah lelah menghitung berapa kali jembatan ini mengalami kerusakan. Yang jelas, dari beberapa kerusakan parah yang pernah terjadi, setidaknya ada dua korban jiwa dari warga yang terjatuh saat harus menggunakannya untuk menyebrang.
“Pada tahun 2000 lalu, seorang warga di dusun kami yang bernama Memed terjatuh dari atas jembatan ke bawah. Memed sempat mengalami lumpuh dan menderita patah tulang, karena membentur bebatuan cadas di sungai,” kata Wawan Setiawan, Ketua RW09, Dusun Citamiang, Desa Cikondang, Kecamatan Cisompet, Kamis (6/3/2014).
Sementara enam tahun berikutnya, yaitu pada 2006, seorang warga atas nama Ratna meninggal dunia, juga karena terjatuh dari atas jembatan dan membentur bebatuan cadas.
“Kami sudah berpuluh-puluh kali mengajukan permohonan kepada pemerintah agar jembatan ini diperbaiki atau diganti dengan yang permanen agar lebih aman. Namun kenyataannya bantuan tidak pernah datang,” jelasnya.
Karena jembatan ini merupakan satu-satunya penghubung penting empat dusun di Desa Cikondang, maka warga pun berusaha melakukan perbaikan yang bersifat swadaya. Keempat dusun di Desa Cikondang yang menjadikan jembatan ini sebagai sarana vital yaitu Dusun Citamiang, Hegar, Bentar, dan Nangorak.
Jembatan Citamiang menjadi penghubung keempat dusun tadi dengan pusat pemerintahan desa dan sarana pendidikan seperti sekolah.
“Biasanya yang diganti dalam perbaikan itu hanya mengganti kayu atau bambu pijakan. Karena bagian ini yang sering rusak. Namun menjadi semakin parah sejak salah satu kawat baja yang melintang di jembatan putus, pada Selasa 4 Maret 2014 lalu. Jembatannya jadi miring dan nyaris putus,” ungkapnya.
Menurut Wawan, Sungai Cisanggiri yang membelah Dusun Citamiang ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan sejumlah sungai lain di Garut. Pasalnya, sungai ini memiliki cekungan yang sangat dalam.
“Kalau di tempat lain, meski jembatannya rusak, warga masih bisa melintas dengan cara turun ke sungai. Namun di sini berbeda, karena cekungan sungainya lumayan dalam, yaitu hingga enam meter. Satu batang bambu utuh yang belum dipotong pun pernah hilang saat warga akan mengukur kedalamannya," paparnya.
Karena tidak ada pilihan, warga terpaksa tidak bisa turun ke sungai, dan tetap memilih melintasi Jembatan Citamiang, kendati harus bertaruh nyawa.
Baca juga:
Siswa tantang maut lintasi Jembatan Citamiang
Tentunya perbaikan yang dilakukan hanya bersifat seadanya dan alakadarnya. Tak heran, jika jembatan yang membentang sepanjang 80 meter di atas Sungai Cisanggiri ini tidak memiliki jaminan ketahanan yang memadai.
Warga setempat juga sudah lelah menghitung berapa kali jembatan ini mengalami kerusakan. Yang jelas, dari beberapa kerusakan parah yang pernah terjadi, setidaknya ada dua korban jiwa dari warga yang terjatuh saat harus menggunakannya untuk menyebrang.
“Pada tahun 2000 lalu, seorang warga di dusun kami yang bernama Memed terjatuh dari atas jembatan ke bawah. Memed sempat mengalami lumpuh dan menderita patah tulang, karena membentur bebatuan cadas di sungai,” kata Wawan Setiawan, Ketua RW09, Dusun Citamiang, Desa Cikondang, Kecamatan Cisompet, Kamis (6/3/2014).
Sementara enam tahun berikutnya, yaitu pada 2006, seorang warga atas nama Ratna meninggal dunia, juga karena terjatuh dari atas jembatan dan membentur bebatuan cadas.
“Kami sudah berpuluh-puluh kali mengajukan permohonan kepada pemerintah agar jembatan ini diperbaiki atau diganti dengan yang permanen agar lebih aman. Namun kenyataannya bantuan tidak pernah datang,” jelasnya.
Karena jembatan ini merupakan satu-satunya penghubung penting empat dusun di Desa Cikondang, maka warga pun berusaha melakukan perbaikan yang bersifat swadaya. Keempat dusun di Desa Cikondang yang menjadikan jembatan ini sebagai sarana vital yaitu Dusun Citamiang, Hegar, Bentar, dan Nangorak.
Jembatan Citamiang menjadi penghubung keempat dusun tadi dengan pusat pemerintahan desa dan sarana pendidikan seperti sekolah.
“Biasanya yang diganti dalam perbaikan itu hanya mengganti kayu atau bambu pijakan. Karena bagian ini yang sering rusak. Namun menjadi semakin parah sejak salah satu kawat baja yang melintang di jembatan putus, pada Selasa 4 Maret 2014 lalu. Jembatannya jadi miring dan nyaris putus,” ungkapnya.
Menurut Wawan, Sungai Cisanggiri yang membelah Dusun Citamiang ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan sejumlah sungai lain di Garut. Pasalnya, sungai ini memiliki cekungan yang sangat dalam.
“Kalau di tempat lain, meski jembatannya rusak, warga masih bisa melintas dengan cara turun ke sungai. Namun di sini berbeda, karena cekungan sungainya lumayan dalam, yaitu hingga enam meter. Satu batang bambu utuh yang belum dipotong pun pernah hilang saat warga akan mengukur kedalamannya," paparnya.
Karena tidak ada pilihan, warga terpaksa tidak bisa turun ke sungai, dan tetap memilih melintasi Jembatan Citamiang, kendati harus bertaruh nyawa.
Baca juga:
Siswa tantang maut lintasi Jembatan Citamiang
(san)