BLH segera cek sungai dekat lumpur
Rabu, 05 Maret 2014 - 18:52 WIB
BLH segera cek sungai dekat lumpur
A
A
A
Sindonews.com - Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sidoarjo akan segera mengambil sample air di beberapa sungai yang menjadi pembuangan air lumpur. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kondisi terakhir seberapa parah pencemaran terjadi.
Selama ini ada keluhan dari petani dan petambak di kawasan Kecamatan Tanggulangin dan sekitarnya atas kualitas air yang tercampur air lumpur. Disinyalir air lumpur itu membuat petani dan petambak gagal panen.
Untuk itulah, BLH akan mengecek beberapa sungai yang menjadi jalur pembuangan air lumpur. Seperti di sungai di kawasan Kalitengah, Sungai Ketapang, Kali Alo dan lainnya.
"Kami ingin tahu air sungai itu apakah masih memenuhi standar mutu atau tidak," ujar Kepala BLH Sidoarjo Siswojo, Rabu (5/3/2014).
Siswojo menambahkan, pihaknya memang rutin mengambil sample air di beberapa sungai yang selama ini diduga tercemari limbah perusahaan, maupun limbah rumah tangga. Khusus untuk sungai di sekitaran lumpur mendapat perhatian khusus.
Dengan adanya pengecekan tersebut, lanjut mantan Kabag Humas Pemkab Sidoarjo ini, bisa dijadikan perbandingan kondisi sungai di sekitar lumpur saat ini dan beberapa tahun lalu.
Paling tidak akan diketahui seberapa jauh air sungai yang tercemar lumpur pengaruhnya terhadap pertanian dan pertambakan.
Untuk mengetahui seberapa jauh dampak pencemaran lumpur, BLH mengambil sample di sungai yang langsung terhubung dengan lokasi pembuangan air lumpur. "Dengan mengecek di sungai kawasan Kalitengah atau Ketapang bisa langsung diketahui seberapa jauh pengaruh lumpur," ujar Siswojo.
Selama ini lumpur yang keluar dari pusat semburan dibuang ke Sungai Porong dan beberapa aliran sungai kecil lainnya. Namun, jika mengecek kondisi Sungai Porong dikhawatirkan sudah tercampur dengan limbah lainnya.
Sebab, Sungai Porong bukan saja melintas di kawasan Sidoarjo, namun melintas di beberapa daerah yang terdapat sejumlah perusahaan.
Sekedar diketahui, pembuangan lumpur ke Sungai Ketapang dan sekitarnya membuat petani dan petambak gerah. Pasalnya, sejak air lumpur mencemari sungai itu, bahkan sampai ke Kali Alo membuat hasil panen menurun drastis.
"Untuk tambak yang mengambil air dari sungai jalur pembuangan lumpur rata-rata hasil panennya menurun drastis. Bukan hanya panen udang, namun budidaya bandeng dan ikan lainnya sulit berkembang," ujar Yasak, salah seorang petambak asal Banjarasri, Tanggulangin.
Petani dan petambak sebenarnya sudah seringkali protes ke BPLS agar tidak membuang air lumpur ke sungai di sebelah utara pusat semburan. Namun, kondisi lumpur di pond (kolam penampungan) di sisi utara yang juga penuh membuat air lumpur mengalir ke Sungai Ketapang dan sekitarnya.
Selama ini ada keluhan dari petani dan petambak di kawasan Kecamatan Tanggulangin dan sekitarnya atas kualitas air yang tercampur air lumpur. Disinyalir air lumpur itu membuat petani dan petambak gagal panen.
Untuk itulah, BLH akan mengecek beberapa sungai yang menjadi jalur pembuangan air lumpur. Seperti di sungai di kawasan Kalitengah, Sungai Ketapang, Kali Alo dan lainnya.
"Kami ingin tahu air sungai itu apakah masih memenuhi standar mutu atau tidak," ujar Kepala BLH Sidoarjo Siswojo, Rabu (5/3/2014).
Siswojo menambahkan, pihaknya memang rutin mengambil sample air di beberapa sungai yang selama ini diduga tercemari limbah perusahaan, maupun limbah rumah tangga. Khusus untuk sungai di sekitaran lumpur mendapat perhatian khusus.
Dengan adanya pengecekan tersebut, lanjut mantan Kabag Humas Pemkab Sidoarjo ini, bisa dijadikan perbandingan kondisi sungai di sekitar lumpur saat ini dan beberapa tahun lalu.
Paling tidak akan diketahui seberapa jauh air sungai yang tercemar lumpur pengaruhnya terhadap pertanian dan pertambakan.
Untuk mengetahui seberapa jauh dampak pencemaran lumpur, BLH mengambil sample di sungai yang langsung terhubung dengan lokasi pembuangan air lumpur. "Dengan mengecek di sungai kawasan Kalitengah atau Ketapang bisa langsung diketahui seberapa jauh pengaruh lumpur," ujar Siswojo.
Selama ini lumpur yang keluar dari pusat semburan dibuang ke Sungai Porong dan beberapa aliran sungai kecil lainnya. Namun, jika mengecek kondisi Sungai Porong dikhawatirkan sudah tercampur dengan limbah lainnya.
Sebab, Sungai Porong bukan saja melintas di kawasan Sidoarjo, namun melintas di beberapa daerah yang terdapat sejumlah perusahaan.
Sekedar diketahui, pembuangan lumpur ke Sungai Ketapang dan sekitarnya membuat petani dan petambak gerah. Pasalnya, sejak air lumpur mencemari sungai itu, bahkan sampai ke Kali Alo membuat hasil panen menurun drastis.
"Untuk tambak yang mengambil air dari sungai jalur pembuangan lumpur rata-rata hasil panennya menurun drastis. Bukan hanya panen udang, namun budidaya bandeng dan ikan lainnya sulit berkembang," ujar Yasak, salah seorang petambak asal Banjarasri, Tanggulangin.
Petani dan petambak sebenarnya sudah seringkali protes ke BPLS agar tidak membuang air lumpur ke sungai di sebelah utara pusat semburan. Namun, kondisi lumpur di pond (kolam penampungan) di sisi utara yang juga penuh membuat air lumpur mengalir ke Sungai Ketapang dan sekitarnya.
(lns)