Frekuensi radio relawan menjamur, diperlukan penataan

Selasa, 24 Desember 2013 - 05:02 WIB
Frekuensi radio relawan...
Frekuensi radio relawan menjamur, diperlukan penataan
A A A
Sindonews.com - Diperlukan penataan frekuensi radio milik relawan kebencanaan di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Ini dibutuhkan supaya memudahkan koordinasi dan memilih sumber informasi terpercaya.

“Di Magelang ini, terdapat lebih dari 30 saluran radio di frekuensi berbeda, yang dipakai relawan bencana. Hanya saja, kelemahan antarrelawan karena komunikasinya lewat radio belum menyatu,” ujar Ketua Kompag Merapi Kabupatenen Magelang, Bejo, Senin (23/12/2013).

Dia mengatakan, para relawan yang berasal dari masing-masing komunitas memakai saluran VHF (very high frequency). Akibatnya, apabila dari masing-masing frekuensi itu menyiarkan satu obyek kejadian yang sama, maka penerima akan menginterpretasikan kejadian secara berbeda seiring penyampaian masing-masing komunitas.

Hingga saat ini belum dilakukan penyeragaman atau metode penataan saluran yang dipakai para relawan kebencanaan. “Belum ada yang menyepakati saluran mana yang dipakai sebagai media utama. Orari dan RAPI diharapkan mampu berperan dalam hal ini,” lanjutnya.

Dikatakannya, diperlukan inisiatif dari pengguna saluran FHV di kalangan relawan untuk mengawali pembahasan soal spektrum frekuensi. Instansi di tingkat provinsi dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) juga diminta menangkap aspirasi di kalangan relawan perihal penataan informasi via gelombang radio.

“Rata-rata masih bingung kepada siapa harus mengadu? Sehingga sampai sekarang, masih jalan masing-masing. Sejak tahun 2010 sampai sekarang, pengguna saluran dari komunitas relawan semakin banyak,” kata dia.

Koordinator Jalin Merapi, Sukiman mengatakan, penertiban frekuensi diperlukan supaya informasi yang tersiar akurat. Tak sedikit para operator frekuensi menyiarkan kabar kurang tepat yang justru menimbulkan gejolak di wilayah rawan bencana.

“Baik itu melalui HT atau radio komunitas, memang perlu adanya pengaturan. Terutama saat terjadi bencana dan bagaimana pemanfaatan fasilitas tersebut? Apakah untuk menyiarkan informasi penting dan akurat atau hanya sekadar bergaya?” kata dia.

Dia menengarai banyak terjadi pelanggaran ihwal pemanfaatan spektrum frekuensi radio, khususnya di kawasan Merapi. Dirinya berharap pemerintah daerah dan BPBD mampu bersikap lebih tegas guna mengurai persoalan tersebut.
(lal)
Berita Terkait
Mentransformasi Jaminan...
Mentransformasi Jaminan Sosial sebagai Budaya Masyarakat
Seminar Ketahanan Sosial...
Seminar Ketahanan Sosial Budaya, TNI AU Belajar Dinamisasi Budaya di DIY
Perkuat Sikap Toleransi...
Perkuat Sikap Toleransi lewat Pendekatan Sosial Budaya
Budaya Baca di Tengah...
Budaya Baca di Tengah Gempuran Media Sosial
7 Kelebihan Gen Z yang...
7 Kelebihan Gen Z yang Bisa dicontoh Semua Generasi
Pj Wali Kota Izinkan...
Pj Wali Kota Izinkan Pelaksanaan Event Sosial Budaya
Berita Terkini
MNC Vision Network-MNC...
MNC Vision Network-MNC Peduli Salurkan Bantuan Seragam dan Sembako di Panti Asuhan Anak Ceria Indonesia Depok
26 menit yang lalu
Resmi Dibuka, DAIKIN...
Resmi Dibuka, DAIKIN Proshop Alvamega Hadirkan Solusi Tata Udara Premium di Serpong
36 menit yang lalu
300 Siswa-Warga Dapatkan...
300 Siswa-Warga Dapatkan Pemeriksaan Mata dan Kacamata Gratis
47 menit yang lalu
Bongkar Gudang Penyimpanan...
Bongkar Gudang Penyimpanan Kosmetik Impor Ilegal di Tangerang, BPOM Ungkap Modus Operandi dan Peredaran
1 jam yang lalu
Stop Polemik, Prof Dede:...
Stop Polemik, Prof Dede: Pengelolaan Yayasan Diserahkan ke Pemerintah melalui UIN Jakarta
3 jam yang lalu
Hari Lingkungan Hidup...
Hari Lingkungan Hidup Sedunia, UMJ Tanam 3.650 Bibit Pohon di Ciputat
4 jam yang lalu
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved