Peristiwa dramatis perobekan bendera Belanda di Oranje Hotel

Rabu, 06 November 2013 - 09:47 WIB
Peristiwa dramatis perobekan...
Peristiwa dramatis perobekan bendera Belanda di Oranje Hotel
A A A
BENDERA tiga warna milik Belanda, di puncak gedung Hotel Yamato (Oranje Hotel), diturunkan pemuda. Warna biru pada bendera itu disobek hingga tersisa dwi warna, Merah dan Putih. Pekikan merdeka pun menggema.

Itulah satu penggalan peristiwa heroik dan dramatis, di awal berdirinya Republik Indonesia, pada 17 Agustus 1945. Kisah ini diceritakan dengan menyentuh oleh salah satu pelaku peristiwa 10 November 1945 Sutomo.

Dalam catatannya, pria yang akrab disapa Bung Tomo ini melukiskan saat-saat sebelum dan sesudah peristiwa itu terjadi. Dimulai dari siaran proklamasi oleh Kantor Berita DOMEI, di sebuah desa, di Surabaya, Jawa Timur.

Mendengar kabar itu, dengan spontan penduduk desa mengibarkan sang saka Merah Putih. Hampir disetiap pelosok kampung, mulai dari lorong-lorong sempit, hingga jalan-jalan utama desa, terpasang bendera Merah Putih.

Serdadu Jepang yang menyaksikan peristiwa itu pun tertegun. Mereka tampak kagum dengan semangat pemuda. Tersenyum simpul, mereka ikut berbahagia bersama rakyat dari sebuah bangsa yang baru merdeka.

Tidak lama kemudian, Soekarno kembali berpidato. Dia menegaskan posisi Indonesia sebagai bangsa yang merdeka. Namun, nadanya terdengar ragu, hingga terjadilah satu kekosongan sejarah.

Di sinilah, pemuda mengambil peranan penting. Mereka mulai menurunkan bendera Jepang, dan mengibarkan bendera merah putih, tepat di hadapan bayonet serdadu Nippon yang terhunus.

Inilah satu percobaan pemindahan lambang kekuasaan oleh Republik Indonesia yang pertama. Kendati tidak berjalan mulus, akhirnya pemuda berhasil menguasai seluruh kantor-kantor pemerintahan di Jawa Timur.

Di tengah suasana merdeka itu, Belanda mencoba menjalankan rencana busuknya dengan mendirikan benteng di markas Palang Merah Internasional (PMI). Mereka memanfaatkan hubungan NICA dan Jepang.

NICA merupakan sebagian dari kekuatan sekutu. Beberapa waktu kemudian, diterjunkan sekelompok sedadu penerjun payung, di Surabaya. Peristiwa ini langsung menimbulkan tanda tanya republik.

Peristiwa pemukulan fotografer Kantor Berita Antara Abdul Wahab oleh pemuda NICA Inlander, di depan Oranje Hotel (sekarang bernama Hotel Majapahit) di Jalan Tunjungan No.65 Surabaya, tempat para pemuda Belanda dan serdadu payung berkumpul, menambah kecurigaan republik.

Hingga akhirnya, pada 31 Agustus 1945, saat Hari Ulang Tahun Ratu Belanda Wilhelmina, pihak Belanda meminta izin kepada pembesar di Surabaya agar dibiarkan memasang bendera tri warna di tengah revolusi.

Permintaan itu pun ditolak. Hal ini menimbulkan kekecewaan dari para pemuda Belanda, dan kawan-kawannya. Mereka kemudian membentuk gerombolan-gerombolan, untuk memancing kerusuhan dan emosi pemuda.

Puncaknya terjadi pada 18 September 1945. Dua orang pemuda Belanda Ploegman dan Spit mengibarkan bendera tri warna di puncak gedung Oranje Hotel. Peristiwa itu dengan cepat menyulut emosi rakyat.

Tidak terlalu lama, rakyat sudah berkumpul di sekitar hotel. Mereka membawa parang, pedang, tombak, dan bambu runcing. Di dalam hotel, sudah banyak pemuda Belanda, dan pasukan penerjun payung.

Kemudian tentara Jepang datang dengan bayonet terhunus. Kehadiran tentara Nippon membakar emosi rakyat yang menyambutnya dengan lemparan batu. Bentrokan pun pecah. Lemparan batu langsung menghujani Oranje Hotel.

Ketika rakyat meringsek masuk ke dalam gedung, meletuslah suara tembakan. Mendengar tembakan pihak Belanda, massa bukan malah takut. Tetapi makin berani. Sekarang, senjata yang mereka bawa sudah mulai digunakan.

Saat bentrokan hebat terjadi, beberapa pemuda republik menerobos masuk, coba ke atas gedung. Namun seorang jatuh, setelah dipukul dari belakang oleh pemuda Belanda berbadan kekar.

Sampai akhirnya, pemuda republik berhasil menurunkan tri warna, dan merobek warna biru hingga tinggal tampak warna merah dan putih saja. Kemudian, bendera dwi warna itu dikibarkan lagi.

Pekikan merdeka mengiringi naiknya sang Merah Putih. Sebelum membubbarkan diri, para pemuda sempat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Dalam peristiwa ini, Ploegman dinyatakan tewas.

Setelah peristiwa itu, sikap pemuda semakin berani. Mereka mulai merebut mobil tentara Nippon, dilanjutkan dengan melucuti senjata tentara Nippon. Senjata-senjata inilah yang digunakan pihak republik dalam pertempuran dasyat 10 November 1945.
(san)
Berita Terkait
Peringatan Hari Pahlawan...
Peringatan Hari Pahlawan di Bulukumba Digelar Sederhana
Peringatan Hari Pahlawan...
Peringatan Hari Pahlawan di Aceh Besar Khidmat
Peringatan Hari Pahlawan...
Peringatan Hari Pahlawan dI Tengah Pandemi Covid-19
Peringatan Hari Pahlawan...
Peringatan Hari Pahlawan di Parepare, Begini Pesan Wali Kota
Pimpin Upacara Peringatan...
Pimpin Upacara Peringatan Hari Pahlawan, Ini Pesan Gubernur Sulsel
Daftar Nama 6 Tokoh...
Daftar Nama 6 Tokoh Penerima Gelar Pahlawan Nasional
Berita Terkini
Suami Istri Pemilik...
Suami Istri Pemilik Hanania Travel Ditetapkan Jadi Tersangka Penipuan Jemaah Umrah
55 menit yang lalu
Wali Kota Semarang:...
Wali Kota Semarang: Butuh Komitmen Bersama dalam Pemberantasan Korupsi
1 jam yang lalu
Kasus Debt Collector...
Kasus Debt Collector dan Nasabah Digerebek di Purworejo Berakhir Damai
2 jam yang lalu
Tidar Jakarta Barat...
Tidar Jakarta Barat Yakin Sudaryono Mampu Perkuat Tata Kelola Program MBG
2 jam yang lalu
Ketua HMI Merauke: PSN...
Ketua HMI Merauke: PSN Harus Tingkatkan Pendidikan dan Kesejahteraan Orang Asli Papua
3 jam yang lalu
Polisi Sudah Periksa...
Polisi Sudah Periksa 10 Saksi di Kasus Dugaan Penghinaan Profesi Wartawan oleh Hotman Paris
3 jam yang lalu
Infografis
Pau Cubarsi, Pemain...
Pau Cubarsi, Pemain Muda Terbaik Piala Dunia 2026 yang Pernah Main di Solo
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved