Wilayah pesisir Maros mulai kekeringan

Selasa, 10 September 2013 - 15:49 WIB
Wilayah pesisir Maros...
Wilayah pesisir Maros mulai kekeringan
A A A
Sindonews.com - Memasuki musim kemarau panjang di bulan September ini, sejumlah wilayah mulai mengalami kekeringan. Utamanya yang berada di daerah pesisir. Seperti terlihat di Desa Pajjukang, Tunikamaseang, Tuppabbiring, Minasaupa, dan Ampekale.

Di desa ini, warga terpaksa menggunakan sumur umum yang berjarak sampai 500 meter untuk mengambil air. Namun, air di sumur itu hanya bisa digunakan untuk mencuci dan mandi. Sementara untuk memenuhi kebutuhan memasak, dan minum, warga terpaksa harus membeli air Rp10.000 per tiga jerigen.

Salah satu warga Desa Pajukukang, Ambo Sakka yang ditemui menuturkan, kekeringan di desa ini sering terjadi saat musim kemarau. Memang ada beberapa sumur umum. Namun, dua diantaranya sudah mengering. Alhasil, warga yang berada di Tunikamase, Minasaupa, terpaksa harus mengambil di sumur umum di Desa Pajukukang.

"Biasanya kalau musim begini, ada tujuh desa yang mengambil air di sumur ini. Untuk memenuhi kebutuhan mandi, dan mencuci mereka. Tapi sekarang tinggal empat desa. Karena yang lain sudah berusaha membuat sumur sendiri. Meski itu air yang didapat air asin," ungkapnya, kepada wartawan, Selasa (10/9/2013).

Sementara itu, pemilik sumur umum Mardiah menuturkan, terkadang pada pagi hari sumur tersebut dipenuhi warga yang ingin mandi dan mencuci. Sebagian warga juga ada yang mengambil air dengan menggandeng menggunakan sepeda motor.

"Ada beberapa yang mandi di sini, ada juga yang membawa pulang dengan menggandeng. Mungkin karena jaraknya jauh," ungkapnya.

Dia menuturkan, upaya warga mendapatkan air bersih dengan cara membeli dikarenakan pemerintah daerah sama sekali tidak melirik warga di sana untuk dimasukkan air bersih. Warga sendiri enggan berpangku tangan menunggu bantuan dari pemerintah.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Maros Yudhi Indra Jaya menjelaskan, pihaknya belum menerima laporan dari pemerintah setempat tentang lokasi mana saja yang mengalami kekeringan.

Namun berdasarkan pengalaman, diakuinya Kecamatan Bontoa paling sering mengalami kekeringan. Karenanya, BPBD meminta kepada warga untuk berhati-hati terhadap api yang sekecil apa pun. Karena ditakutkan hal itu akan memicu kebakaran. Utamanya untuk area persawahan.
(san)
Berita Terkait
Awal Musim Kemarau 2024...
Awal Musim Kemarau 2024 Diprediksi Mundur, Ini Rincian Daerahnya
Puncak Kemarau di Maros...
Puncak Kemarau di Maros Diprediksi Pada Bulan Agustus
56% Wilayah Indonesia...
56% Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau Sejak Awal Juli 2023
37,7% Wilayah Indonesia...
37,7% Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau, BMKG: Waspada Dampak Kekeringan
BMKG Laporkan 21 Daerah...
BMKG Laporkan 21 Daerah di Indonesia Tidak Hujan Selama 2 Bulan Lebih
BMKG Laporkan 63% Wilayah...
BMKG Laporkan 63% Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau hingga Akhir Juli 2023
Berita Terkini
Ketahanan Pangan Nasional,...
Ketahanan Pangan Nasional, Nestl Salurkan 90 Sapi Perah Impor di Jatim
25 menit yang lalu
PASTI Indonesia Desak...
PASTI Indonesia Desak Polda Kalteng Hentikan Kasus Babe Aldo dan Ditangani Bareskrim
42 menit yang lalu
Diskominfo Tangsel Bagikan...
Diskominfo Tangsel Bagikan Transformasi Digital Pelayanan Publik ke BPSDMD Jateng
7 jam yang lalu
Bersama Rumah Baca Empat...
Bersama Rumah Baca Empat Jagoan, MNC Peduli Berbagi Buku Dongeng dan Lomba Mewarnai
7 jam yang lalu
Pemkot Tangsel-Kemensos...
Pemkot Tangsel-Kemensos Gelar Bakti Sosial Terintegrasi, Warga Rasakan Manfaat Beragam Layanan
7 jam yang lalu
MR.D.I.Y. Perluas Program...
MR.D.I.Y. Perluas Program Menginspirasi Generasi Inovator, Jangkau 8.600 Anak
8 jam yang lalu
Infografis
10 Jurusan yang Mulai...
10 Jurusan yang Mulai Ditinggalkan dan 6 Prodi Primadona Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved