Penderita DBD di Makassar meningkat 100 persen
Kamis, 01 Agustus 2013 - 02:22 WIB
Penderita DBD di Makassar meningkat 100 persen
A
A
A
Sindonews.com - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Makassar mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap wabah Demam Berdarah Dengue (DBD), terutama pada cuaca tak menentu seperti saat ini.
Kepala Dinkes Makassar dr Naisyah Tun Asikin mengatakan, jumlah penderita di Kota Makassar sampai pertengahan tahun di bulan Juni, meningkat tajam hingga 168 orang. Satu orang diantaranya tidak tertolong.
Dibandingkan dengan 2012, jumlah penderita DBD hanya hanya 86 orang dengan kasus kematian dua orang. Sementara di tahun 2011, kasus DBD hanya 85 orang, dua diantarnya meninggal dunia.
“Seharusnya sekarang sudah masuk musim kemarau, tapi ternyata masih hujan yang menyebabkan genangan dimana-mana. Akibatnya, angka penderita naik signifikan. Karena itu, disituasi tidak menentu seperti ini, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan,” ungkap Naisyah, kepada wartawan, Rabu (31/7/2013).
Dia memprediksi, jumlah ini akan terus meningkat. Diperkirakan pada November mendatang, curah hujan akan tinggi di Makassar. Sementara nyamuk aedes aegypti yang membawa virus penyakit, ini sangat menyukai lokasi yang lembab.
Untuk itu, pihaknya telah mengintensifkan fogging. Terutama pada lokasi rawan dan menjadi langganan wabah DBD setiap hari.
Berdasarkan data Dinkes Makassar, empat kecamatan yang rawan penyebaran DBD yakni Kecamatan Manggala, Biringkanaya, Tamalanrea, dan Panakkukang.
Daerah-daerah ini merupakan permukiman padat penduduk. Dia mencontohkan, kecamatan Tamalanrea yang sedang giat-giatnya membangun kompleks perumahan di berbagai titik. Di perumahan tersebut ada yang ditinggali dan tidak ditinggali.
Kaleng-kaleng cat yang ditinggalkan tukang, akhirnya menjadi tempat bertumbuhnya jentik dan menyerang warga perumahan yang tinggal di kompleks tersebut.
Masyarakat juga bisa mendapatkan bubuk abate secara gratis di 43 puskesmas, dan 42 puskesmas pembantu (pustu) yang tersebar di Kota Makassar. Jika menemukan keluarga dalam kondisi panas, segera periksakan ke puskesmas terdekat. Petugas pun sudah diinstruksikan, pasien panas harus dicurigai terinfeksi nyamuk demam berdarah.
“Jangan menunggu sampai timbul bintik merah, apalagi darah keluar dari hidung. Karena, ini menunjukkan pembuluh darah sudah pecah dan biasanya sulit diselamatkan. Begitu panas periksakan saja kepuskes, gratis,” jelasnya.
Masyarakat juga diminta untuk menggiatkan program 3 M, yakni Menguras, Menutup, dan Menanam wadah atau tempat yang dapat menjadi tempat nyamuk DBD berkembang biak. Apalagi, nyamuk ini berkembang digenangan air bersih, dan bukan air kotor.
Tidak jauh berbeda dengan data Dinkes Makassar, data di RS Labuang Baji juga menunjukkan peningkatan angka pasien DBD. Menurut Kepala Instalasi Rekam Medik Labuang Baji Diana, hampir setiap hari masuk antara satu sampai dua pasien DBD.
Untuk Maret 99 pasien, April 115, Mei 85, dan Juni 88 pasien. Sementara hingga 22 Juli, jumlah penderita penyakit ini telah mencapai 55 pasien yang didominasi oleh anak-anak. Bandingkan dengan bulan Juli 2012 yang hanya 27 kasus.
“Tahun ini memang tinggi dibanding tahun lalu. Kalau tahun lalu DBD itu hanya diperingkat 10 untuk jumlah penderita, sementara tahun ini masuk dalam tiga besar jumlah penderita,” katanya.
Di tempat terpisah, Ketua Komisi C Dewan perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Makassar Irianto Ahmad meminta Dinkes melakukan langkah-langkah untuk menangani wabah DBD yang selalu muncul.
“Kalau yang terlanjur terkena segera bawa ke rumah sakit. Tapi yang kita minta adalah pencegahan. Kita berharap Dinkes menyiapkan bubuk abate atau fogging dititik-titik yang rawan terkena DBD,” tandasnya.
Kepala Dinkes Makassar dr Naisyah Tun Asikin mengatakan, jumlah penderita di Kota Makassar sampai pertengahan tahun di bulan Juni, meningkat tajam hingga 168 orang. Satu orang diantaranya tidak tertolong.
Dibandingkan dengan 2012, jumlah penderita DBD hanya hanya 86 orang dengan kasus kematian dua orang. Sementara di tahun 2011, kasus DBD hanya 85 orang, dua diantarnya meninggal dunia.
“Seharusnya sekarang sudah masuk musim kemarau, tapi ternyata masih hujan yang menyebabkan genangan dimana-mana. Akibatnya, angka penderita naik signifikan. Karena itu, disituasi tidak menentu seperti ini, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan,” ungkap Naisyah, kepada wartawan, Rabu (31/7/2013).
Dia memprediksi, jumlah ini akan terus meningkat. Diperkirakan pada November mendatang, curah hujan akan tinggi di Makassar. Sementara nyamuk aedes aegypti yang membawa virus penyakit, ini sangat menyukai lokasi yang lembab.
Untuk itu, pihaknya telah mengintensifkan fogging. Terutama pada lokasi rawan dan menjadi langganan wabah DBD setiap hari.
Berdasarkan data Dinkes Makassar, empat kecamatan yang rawan penyebaran DBD yakni Kecamatan Manggala, Biringkanaya, Tamalanrea, dan Panakkukang.
Daerah-daerah ini merupakan permukiman padat penduduk. Dia mencontohkan, kecamatan Tamalanrea yang sedang giat-giatnya membangun kompleks perumahan di berbagai titik. Di perumahan tersebut ada yang ditinggali dan tidak ditinggali.
Kaleng-kaleng cat yang ditinggalkan tukang, akhirnya menjadi tempat bertumbuhnya jentik dan menyerang warga perumahan yang tinggal di kompleks tersebut.
Masyarakat juga bisa mendapatkan bubuk abate secara gratis di 43 puskesmas, dan 42 puskesmas pembantu (pustu) yang tersebar di Kota Makassar. Jika menemukan keluarga dalam kondisi panas, segera periksakan ke puskesmas terdekat. Petugas pun sudah diinstruksikan, pasien panas harus dicurigai terinfeksi nyamuk demam berdarah.
“Jangan menunggu sampai timbul bintik merah, apalagi darah keluar dari hidung. Karena, ini menunjukkan pembuluh darah sudah pecah dan biasanya sulit diselamatkan. Begitu panas periksakan saja kepuskes, gratis,” jelasnya.
Masyarakat juga diminta untuk menggiatkan program 3 M, yakni Menguras, Menutup, dan Menanam wadah atau tempat yang dapat menjadi tempat nyamuk DBD berkembang biak. Apalagi, nyamuk ini berkembang digenangan air bersih, dan bukan air kotor.
Tidak jauh berbeda dengan data Dinkes Makassar, data di RS Labuang Baji juga menunjukkan peningkatan angka pasien DBD. Menurut Kepala Instalasi Rekam Medik Labuang Baji Diana, hampir setiap hari masuk antara satu sampai dua pasien DBD.
Untuk Maret 99 pasien, April 115, Mei 85, dan Juni 88 pasien. Sementara hingga 22 Juli, jumlah penderita penyakit ini telah mencapai 55 pasien yang didominasi oleh anak-anak. Bandingkan dengan bulan Juli 2012 yang hanya 27 kasus.
“Tahun ini memang tinggi dibanding tahun lalu. Kalau tahun lalu DBD itu hanya diperingkat 10 untuk jumlah penderita, sementara tahun ini masuk dalam tiga besar jumlah penderita,” katanya.
Di tempat terpisah, Ketua Komisi C Dewan perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Makassar Irianto Ahmad meminta Dinkes melakukan langkah-langkah untuk menangani wabah DBD yang selalu muncul.
“Kalau yang terlanjur terkena segera bawa ke rumah sakit. Tapi yang kita minta adalah pencegahan. Kita berharap Dinkes menyiapkan bubuk abate atau fogging dititik-titik yang rawan terkena DBD,” tandasnya.
(san)