Keluarga tak izinkan jasad Yulanda Rifan diautopsi

Senin, 29 Juli 2013 - 04:58 WIB
Keluarga tak izinkan...
Keluarga tak izinkan jasad Yulanda Rifan diautopsi
A A A
Sindonews.com – Tim gabungan dari Polda Jawa Tengah dan Polres Magelang dibantu warga sekitar, masih melakukan penyisiran di lereng Gunung Sumbing sekitar lokasi penimbunan tiga mayat laki - laki di Dusun Petung, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang.

Tiga mayat itu diduga korban pembunuhan oleh Muhyaroh, tersangka yang diduga melakukan tindak pidana penipuan modus penggandaan uang.

Tiga mayat itu, salah satu di antaranya adalah Yulanda Rifan (sebelumnya ditulis Yolanda Irfan) alias Irfan (36). Dua mayat lain, sejauh ini belum dapat diidentifikasi petugas.

Irfan adalah putra Guru Besar Hukum Pidana Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Profesor Barda Nawawi Arief. Irfan sendiri merupakan dosen Arsitektur Undip, juga seorang pebisnis properti sesuai keahliannya.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Tengah, Komisaris Besar Purwadi Ariyanto mengatakan jenazah Irfan dilakukan visum luar, setelah tiba di RS Bhayangkara Semarang pada Sabtu 27 Juli malam.

“Ada bekas benturan benda tumpul di kepala, dan di dada korban. Di kaki ada bekas jeratan. Di lokasi sendiri, tim masih melakukan penyisiran,” ungkapnya saat dikonfirmasi wartawan, kemarin.

Sedianya, polisi akan melakuan autopsi jenazah Irfan. Namun urung dilakukan karena pihak keluarga tidak memberi izin dan menolak dengan tegas permintaan petugas.

Purwadi mengatakan pihaknya cukup kesulitan membongkar tuntas kasus ini, karena tersangkanya tewas.

“Dua jenazah lainnya belum diketahui identitasnya. Kepada masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarganya, bisa melapor ke kantor polisi terdekat atau Polres Magelang atau Polda Jawa Tengah,” tambahnya.

Sementara itu, keterangan yang dihimpun KORAN SINDO di Tim Forensik Kedokteran Kesehatan Polda Jawa Tengah, tiga mayat yang ditemukan di lokasi rata – rata kondisinya sudah membusuk dan terdapat bekas jeratan, tak terkecuali jasad Yulanda Rifan.

Luka – luka di tubuh korban, tidak dapat diidentifikasi dengan jelas mengingat kondisi jasadnya yang sudah membusuk. Terkait jasad Irfan, petugas cukup kesulitan memastikan penyebab kematian maupun kapan kematiannya, karena tidak dilakukan proses autopsi.

“Identifikasinya yang sementara diperoleh, dua korban ini laki – laki dewasa muda, kondisi pembusukan hampir sama, dan sudah mengalami mumifikasi. Kemungkinan karena faktor udara dingin di lokasi. Tadi pagi sudah mulai dilakukan autopsi, sekarang tim masih bekerja mencari tahu kapan dan penyebab kematiannya. Sejauh ini belum diketahui siapa identitas mereka, pihak keluarga juga belum ada yang melapor,” kata seorang petugas yang enggan disebut identitasnya.

Sementara itu, paman korban, Farda Nawawi Arief mengatakan polisi wajib menuntaskan perkara ini. Ia menduga kejahatan ini dilakukan secara sindikasi.

“Berdasarkan fakta, saya yakin kejahatan ini dilakukan teamwork. Saya tidak yakin, kalau tersangkanya tunggal. Salah satunya, ponakan saya ini tinggi besar, kalau kejadian itu (diserang Muhyaroh) pasti ngelawan dia, wong tersangkanya itu lebih kecil. Itu fakta, fakta intelijen,” ungkap mantan Kepala Kejaksaan Negeri Jepara dan Asisten Pembinaan Kejaksan Tinggi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) itu.

Melalui keterangan resmi di rumah duka, kompleks Perumahan Undip, Jalan Sukun Raya, RT06/RW16, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, usai pemakaman, adik Profesor Barda Nawawi itu menegaskan pihak keluarga memang menolak dengan tegas autopsi jenazah.

“Sekarang saya tanya apa kepentingan autposi itu? Untuk kepentingan penyelidikan, terkait alat dan barang bukti. Alat bukti itu apa dalam masalah ini? Lihat Pasal 184 KUHAP, ada keterangan terdakwa, keterangan saksi, surat, petunjuk, keterangan ahli. Minimum untuk suatu perkara itu dua alat bukti. Autopsi itu keterangan ahli, bisa juga diperoleh dari visum. Kalau visum, kami memang memersilakan,” tandasnya.

Tiga mayat sebelumnya ditemukan tim pada Sabtu 27 Juli siang di lokasi berdekatan. Lokasinya di tegalan milik Muhyaroh (45) tersangka yang tewas karena meloncat ke jurang pada Kamis 25 Juli dini hari, dan menarik Perwira Unit Sub Direktorat III Jatanras Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Tengah, Komisaris Polisi Anumerta Yahya R Lihu yang akhirnya ikut tewas.
(lns)
Berita Terkait
7 Fakta Kasus Hogi Minaya:...
7 Fakta Kasus Hogi Minaya: Suami Bela Istri, Berujung Tersangka
Pencari Brondolan Sawit...
Pencari Brondolan Sawit Ditemukan Tewas Mengapung di Kolam
Polisi Tembak Polisi...
Polisi Tembak Polisi di Lampung Tengah, Akibatkan 1 Tewas
Diduga Depresi, Polisi...
Diduga Depresi, Polisi Tewas Bunuh Diri di Jakpus
Hendak Selesaikan Perselisihan...
Hendak Selesaikan Perselisihan Warga, Polisi di Bengkulu Tewas Dibacok 3 Orang
Kronologis Polisi Tewas...
Kronologis Polisi Tewas Dibacok saat Hendak Selesaikan Perselisihan Warga di Bengkulu
Berita Terkini
MNC Vision Network-MNC...
MNC Vision Network-MNC Peduli Salurkan Bantuan Seragam dan Sembako di Panti Asuhan Anak Ceria Indonesia Depok
5 jam yang lalu
Resmi Dibuka, DAIKIN...
Resmi Dibuka, DAIKIN Proshop Alvamega Hadirkan Solusi Tata Udara Premium di Serpong
5 jam yang lalu
300 Siswa-Warga Dapatkan...
300 Siswa-Warga Dapatkan Pemeriksaan Mata dan Kacamata Gratis
5 jam yang lalu
Bongkar Gudang Penyimpanan...
Bongkar Gudang Penyimpanan Kosmetik Impor Ilegal di Tangerang, BPOM Ungkap Modus Operandi dan Peredaran
5 jam yang lalu
Stop Polemik, Prof Dede:...
Stop Polemik, Prof Dede: Pengelolaan Yayasan Diserahkan ke Pemerintah melalui UIN Jakarta
7 jam yang lalu
Hari Lingkungan Hidup...
Hari Lingkungan Hidup Sedunia, UMJ Tanam 3.650 Bibit Pohon di Ciputat
9 jam yang lalu
Infografis
10 Pesawat Tempur Paling...
10 Pesawat Tempur Paling Laku di Pasaran, Juaranya Tak Terduga
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved