Panwaslu: Jokowi dan Rahmat Yasin berbeda

Jum'at, 15 Maret 2013 - 15:59 WIB
Panwaslu: Jokowi dan...
Panwaslu: Jokowi dan Rahmat Yasin berbeda
A A A
Sindonews.com - Panwaslu Jabar menegaskan, ada perbedaan mendasar antara dugaan pelanggaran Pilgub Jabar 2013 oleh Rahmat Yasin dan Joko Widodo (Jokowi).

Ketua Panwaslu Jabar Ihat Subihat menjelaskan, Rahmat Yasin sebagai Bupati Kabupaten Bogor yang juga Ketua DPW PPP Jabar diduga melakukan pelanggaran kampanye saat pemenangan Ahmad Heryawan (Aher)-Deddy Mizwar (Demiz) di Bojong Gede, Kab Bogor, Februari lalu. Kini dia ditetapkan tersangka oleh Polres Depok.

Saat itu, tutur Ihat, pengawas menemukan pria yang akrab disapa RY itu ternyata tercantum dalam Surat Keputusan (SK) Tim Kampanye Aher-Demiz. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 bahwa pejabat negara harus melakukan cuti saat melakukan kampanye.

"Kalau masuk SK Tim Kampanye berarti harus dalam 12 hari cuti di luar tanggungan negara. Cuti diajukan sebelum 12 hari jadwal jadwal," jelas Ihat, kepada wartawan, via telepon, Jumat (15/3/2013).

Menurutnya, keputusan Panwaslu Bogor yang melimpahkan dugaan pelanggaran RY itu sudah tepat, karena sebelumnya telah melewati proses gelar perkara. Dalam gelar perkara, RY terbukti melanggar pasal 75 sampai 80 UU 32 Tahun 2004 berikut unsur pidananya.

"Sekarang perkaranya sudah di kejaksaan, sudah dilimpahkan dari Polres Depok ke kejaksaan," katanya.

Ia menegaskan, semua pejabat yang mengikuti atau hadir dalam kampanye Pilgub Jabar 2013, telah diperiksa kemungkinan pelanggarannya. Salah satunya Gubernur GKI Jakarta Jokowi yang menjadi jurkam pasangan yang diusung PDIP Rieke-Teten.

"Beda dengan Jokowi yang tak masuk kerja pada saat kampanye Rieke-Teten sehingga hanya pelanggaran administratif saja, jadi beda kasusnya (RY) dengan Jokowi," tambahnya.

Selain itu, pihaknya juga memproses pejabat-pejabat lain. Namun kebanyakan para pejabat itu tak masuk dalam SK Tim Kampanye, sehingga tak memenuhi unsur-unsur pelanggaran kampanye.

"Banyak pejabat yang hanya hadir saja atau duduk-duduk saja sebagai undangan dalam kampanye," tuturnya.

Lanjutnya, dalam memproses dugaan pelanggaran pihaknya meneliti berbagai unsur pelanggaran. Pihaknya juga menerima masukan dari kepolisian dan kejaksaan setempat.

"Jadi tidak benar kalau Panwas diskrimninasi," tandasnya.
(rsa)
Berita Terkait
KPU Terima Perbaikan...
KPU Terima Perbaikan Berkas 4 Paslon Cagub-Cawagub Jabar
Ridwan Kamil Buka-bukaan...
Ridwan Kamil Buka-bukaan Sebut Mudah Menang jika Maju Pilkada Jabar
PDIP Bakal Usung Figur...
PDIP Bakal Usung Figur Kejutan di Pilgub Jabar, Siapa Itu?
Profil Pendidikan 4...
Profil Pendidikan 4 Paslon Cagub Jabar 2024, Ada yang dari SD hingga S3 di Luar Negeri
Pilkada, Ini Tujuh Sosok...
Pilkada, Ini Tujuh Sosok Pjs Bupati/Wali Kota yang Dikukuhkan Ridwan Kamil
Ilham Habibie Sowan...
Ilham Habibie Sowan ke DPP PKS Pagi Ini, Bahas Apa?
Berita Terkini
BMKG Sebut Siklon Tropis...
BMKG Sebut Siklon Tropis Jangmi Menguat, Ini Dampak Cuacanya bagi Indonesia
29 menit yang lalu
Polemik Film Pesta Babi,...
Polemik Film Pesta Babi, Aktivis Jakarta: Pancasila Mengajarkan Kritik Beradab
36 menit yang lalu
Jelang Akhir Libur Panjang,...
Jelang Akhir Libur Panjang, 40.714 Penumpang Kereta Mulai Kembali ke Jakarta
1 jam yang lalu
Jadi Tersangka, Bos...
Jadi Tersangka, Bos WO di Jaktim yang Tipu Puluhan Calon Pengantin Ditahan
2 jam yang lalu
Polisi Tangkap Sopir...
Polisi Tangkap Sopir Taksi Online yang Mengamuk di Tol JORR, Ini Tampangnya
2 jam yang lalu
Pemprov Jakarta Bebaskan...
Pemprov Jakarta Bebaskan Denda Pajak Kendaraan selama 3 Bulan, Ini Syaratnya
4 jam yang lalu
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved