Isu daging oplosan, tidak pengaruhi pedagang bakso
Kamis, 13 Desember 2012 - 18:15 WIB
Isu daging oplosan, tidak pengaruhi pedagang bakso
A
A
A
Sindonews.com – Adanya isu penggunaan daging babi celeng sebagai bahan dasar pembuatan bakso, tidak mempengaruhi sejumlah pedagang bakso.
Heri (42) pedagang bakso yang biasa berjualan di Jalan Soeroso ini menilai, pengoplosan daging yang dilakukan tukang bakso, aksi bunuh diri yang dapat mematikan penghasilan mereka sebagai pedagang bakso.
"Itu mah hanya aksi orang gila saja mbak. Kita cari uang di Jakarta, dia malah bikin bakso dari bahan gituan," ujar pria yang sudah berprofesi tukang baksi selama 15 tahun ini, sambil melayani pembeli di depan Menteng Huis, Jakarta Pusat, Kamis (13/12/2012).
Heri tidak mengkhawatirkan omsetnya akan menurun akibat ulah pedagang bakso, yang tidak bertanggung jawab. Dia percaya, pembelinya adalah pelanggan yang memang sudah mengetahui kualitas baksonya.
"Saya tidak khawatir," tambah Heri.
Serupa dengan Heri, Sudarto (53) tidak merasa takut pelanggannya akan kabur. Karena dia percaya akan niatnya berdagang.
Menurut pria yang sudah berdagang di Stasiun Cikini sejak Tanggal 9 bBulan 9 Tahun 1999 ini yakin, jika dia berjualan dengan cara yang halal, rezekipun akan mengikuti.
"Saya tidak takut dengan isu daging babi. Karena saya muslim dan pasti tidak menggunakan daging babi. Ya rezeki kita ada yang ngatur," terang Sudarto.
Namun, Sudarto memiliki cara agar dia tetap bisa bertahan menggeluti profesi ini.
"Harga daging mahal, nah kalo saya, bakso yang semula seharga Rp8 ribu, sekarang saya jual Rp9 ribu. Dari pada harus pakai jalan begitu," tukasnya.
Belum lama, ditemukan pedagang bakso yang berjualan di daerah Cipete, Jakarta Selatan menggunakan daging babi celeng sebagai bahan dasar pembuatan bakso.
Tidak hanya itu, dalam sidaknya Petugas Dinas Peternakan dan Perikanan Jakarta Utara juga menemukan hal yang sama di daerahnya.
Heri (42) pedagang bakso yang biasa berjualan di Jalan Soeroso ini menilai, pengoplosan daging yang dilakukan tukang bakso, aksi bunuh diri yang dapat mematikan penghasilan mereka sebagai pedagang bakso.
"Itu mah hanya aksi orang gila saja mbak. Kita cari uang di Jakarta, dia malah bikin bakso dari bahan gituan," ujar pria yang sudah berprofesi tukang baksi selama 15 tahun ini, sambil melayani pembeli di depan Menteng Huis, Jakarta Pusat, Kamis (13/12/2012).
Heri tidak mengkhawatirkan omsetnya akan menurun akibat ulah pedagang bakso, yang tidak bertanggung jawab. Dia percaya, pembelinya adalah pelanggan yang memang sudah mengetahui kualitas baksonya.
"Saya tidak khawatir," tambah Heri.
Serupa dengan Heri, Sudarto (53) tidak merasa takut pelanggannya akan kabur. Karena dia percaya akan niatnya berdagang.
Menurut pria yang sudah berdagang di Stasiun Cikini sejak Tanggal 9 bBulan 9 Tahun 1999 ini yakin, jika dia berjualan dengan cara yang halal, rezekipun akan mengikuti.
"Saya tidak takut dengan isu daging babi. Karena saya muslim dan pasti tidak menggunakan daging babi. Ya rezeki kita ada yang ngatur," terang Sudarto.
Namun, Sudarto memiliki cara agar dia tetap bisa bertahan menggeluti profesi ini.
"Harga daging mahal, nah kalo saya, bakso yang semula seharga Rp8 ribu, sekarang saya jual Rp9 ribu. Dari pada harus pakai jalan begitu," tukasnya.
Belum lama, ditemukan pedagang bakso yang berjualan di daerah Cipete, Jakarta Selatan menggunakan daging babi celeng sebagai bahan dasar pembuatan bakso.
Tidak hanya itu, dalam sidaknya Petugas Dinas Peternakan dan Perikanan Jakarta Utara juga menemukan hal yang sama di daerahnya.
(stb)