Penularan HIV/AIDS di Kota Malang meningkat
Jum'at, 30 November 2012 - 12:59 WIB
Penularan HIV/AIDS di Kota Malang meningkat
A
A
A
Sindonews.com - Angka penularan HIV/AIDS di Kota Malang di kalangan ibu dan anak terus mengalami peningkatan sejak 1997 sampai 2012. Peningkatan tersebut secara kumulatif mencapai angka 16 persen untuk ibu rumah tangga dan 3,5 persen untuk anak.
Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Dinas Kesehatan Kota Malang, Nusindrati, mengatakan, setiap tahunnya tren penularan pada ibu rumah tangga selalu meningkat.
Peningkatan tersebut, katanya, disebabkan minimnya pengetahuan para ibu rumahtangga tentang penularan penyakit mematikan ini. Selain itu, faktor terpenting adalah dari para suami yang memang kurang terbuka kepada istri jika dirinya sering "jajan" di luar.
"Akibatnya, istri dan anak-anak yang menjadi korban," ungkap Nusindrati menjelaskan kepada wartawan, Jumat (30/11/2012).
Untuk itu, pihaknya terus melakukan pendekatan semua pihak dan organisasi yang peduli HIV/AIDS untuk gencar melakukan sosialisasi terkait penularan HIV/AIDS. Sosialisasi ini juga ditujukan kepada para suami agar lebih terbuka dan mau berhubungan seks secara aman jika memang dirinya pernah "jajan" di luar.
Minimnya pengetahuan para ibu rumah tangga ini juga bisa dilihat dari sedikitnya kesadaran warga yang mau dan atas inisiatif sendiri memeriksakan diri dengan mendatangi klinik Voluntary Counseling and Testing (VCT).
"Dari 700 warga yang memiliki potensi besar tertular HIV AIDS, hanya 17 orang saja yang mau memerikaskan diri dengan mendatangi klinik VCT," katanya.
Menurutnya, 17 orang yang mau melakukan VCT ini karena kemauan sendiri. Sedangkan sisanya harus ada kerjasama dari para relawan dan petugas kesehatan yang pro aktif menjemput bola. Ia mengakui jika masih banyak warga yang belum memahami fungsi dari VCT itu sendiri, sehingga hanya sedikit yang mau memeriksakan dirinya ke VCT.
Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Dinas Kesehatan Kota Malang, Nusindrati, mengatakan, setiap tahunnya tren penularan pada ibu rumah tangga selalu meningkat.
Peningkatan tersebut, katanya, disebabkan minimnya pengetahuan para ibu rumahtangga tentang penularan penyakit mematikan ini. Selain itu, faktor terpenting adalah dari para suami yang memang kurang terbuka kepada istri jika dirinya sering "jajan" di luar.
"Akibatnya, istri dan anak-anak yang menjadi korban," ungkap Nusindrati menjelaskan kepada wartawan, Jumat (30/11/2012).
Untuk itu, pihaknya terus melakukan pendekatan semua pihak dan organisasi yang peduli HIV/AIDS untuk gencar melakukan sosialisasi terkait penularan HIV/AIDS. Sosialisasi ini juga ditujukan kepada para suami agar lebih terbuka dan mau berhubungan seks secara aman jika memang dirinya pernah "jajan" di luar.
Minimnya pengetahuan para ibu rumah tangga ini juga bisa dilihat dari sedikitnya kesadaran warga yang mau dan atas inisiatif sendiri memeriksakan diri dengan mendatangi klinik Voluntary Counseling and Testing (VCT).
"Dari 700 warga yang memiliki potensi besar tertular HIV AIDS, hanya 17 orang saja yang mau memerikaskan diri dengan mendatangi klinik VCT," katanya.
Menurutnya, 17 orang yang mau melakukan VCT ini karena kemauan sendiri. Sedangkan sisanya harus ada kerjasama dari para relawan dan petugas kesehatan yang pro aktif menjemput bola. Ia mengakui jika masih banyak warga yang belum memahami fungsi dari VCT itu sendiri, sehingga hanya sedikit yang mau memeriksakan dirinya ke VCT.
(azh)