Ternyata Jokowi geram dengan rapat MRT
Rabu, 28 November 2012 - 20:23 WIB
Ternyata Jokowi geram dengan rapat MRT
A
A
A
Sindonews.com – Keluarnya Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dari ruang rapat pembahasan proyek Mass Rapid Transit (MRT) ternyata tidak sekedar salat Ashar belaka. Jokowi ternyata geram dengan jalannya rapat.
"Tadi sudah dengar semuanya. Sudah jelas belum tadi? Iya belum jelas, ngapain suruh saya memutuskan,” tukas Jokowi kepada wartawan di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu (28/11/2012).
Menurut Jokowi, pemaparan MRT yang berlangsung di ruangan rapat belum matang. Sehingga tidak ada gunanya untuk diputuskan secepatnya. Ketidakmatangan itu ada pada kalkulasi yang belum selesai.
Jokowi menjelaskan, Return of Investment (ROI)-nya masih dalam kajian. Kalkulasinya belum matang, bagaimana bisa diambil keputusan.
“Saya disuruh memutuskan di saat ROI belum jelas, kalkulasi belum matang. Nanti dulu,” tegas Jokowi.
Selain permasalahan ROI, hal-hal yang ada terkait mega proyek itu juga harus dijelaskan secara transparan kepada masyarakat.
“Seharusnya pembahasan ini bisa menghasilkan sesuatu, yang bisa disampaikan secara transparan kepada masyarakat Jakarta. Jika belum jelas, untuk apa disosialisasikan kepada masyarakat,” katanya kesal.
"Tadi sudah dengar semuanya. Sudah jelas belum tadi? Iya belum jelas, ngapain suruh saya memutuskan,” tukas Jokowi kepada wartawan di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu (28/11/2012).
Menurut Jokowi, pemaparan MRT yang berlangsung di ruangan rapat belum matang. Sehingga tidak ada gunanya untuk diputuskan secepatnya. Ketidakmatangan itu ada pada kalkulasi yang belum selesai.
Jokowi menjelaskan, Return of Investment (ROI)-nya masih dalam kajian. Kalkulasinya belum matang, bagaimana bisa diambil keputusan.
“Saya disuruh memutuskan di saat ROI belum jelas, kalkulasi belum matang. Nanti dulu,” tegas Jokowi.
Selain permasalahan ROI, hal-hal yang ada terkait mega proyek itu juga harus dijelaskan secara transparan kepada masyarakat.
“Seharusnya pembahasan ini bisa menghasilkan sesuatu, yang bisa disampaikan secara transparan kepada masyarakat Jakarta. Jika belum jelas, untuk apa disosialisasikan kepada masyarakat,” katanya kesal.
(stb)