Sering banjir, warga Bojonggede rusak kantor pengembang
Jum'at, 23 November 2012 - 17:11 WIB
Sering banjir, warga Bojonggede rusak kantor pengembang
A
A
A
Sindonews.com - Puluhan warga Perumahan Artha Sentosa, Desa Waringin Jaya, Kecamatan Bojonggede, mengamuk di kantor pemasaran milik pengembang.
Mereka kesal dengan pihak pengembang perumahan lantaran setiap melakukan pembangunan rumah baru tidak memperhatikan dampaknya terhadap pemukiman yang sudah jadi. Sehingga saat hujan turun, warga selalu terkena banjir.
Saat puluhan warga perumahan tersebut datang ke kantor pemasaran, tidak ada satu pun petugas dari pihak pengembang yang menemuinya. Kekesalan warga tersebut akhirnya memuncak dengan merusak kantor pemasaran dan melempar semua kaca jendela dengan batu hingga pecah.
Sebagian warga yang masih dalam keadaan emosi juga mencoret-coret tembok yang kemudian merangsek masuk ke dalam dan membakar semua kursi serta berkas-berkas penting milik perusahaan pengembang perumahan itu.
Seorang warga Perumahan Artha Sentosa M Yusuf (46) mengungkapkan, aksi protes yang berujung dengan aksi pengrusakan kantor pemasaran karena selama ini keluhan warga soal banjir tak pernah ditanggapi.
"Kita sudah bosan meminta agar mereka memperbaiki aliran sungai yang menjadi penyebab banjir namun tidak pernah ada tanggapan dari pihak pengembang," terang Yusuf, di Kantor Pemasaran Perumahan Artha Sentosa, Jumat (23/11/2012).
Menurut Yusuf, sebelumnya perumahan itu merupakan lokasi yang bebas banjir. Namun setelah pengembang memperbanyak rumah yang dijualnya, justru kini sering terkena banjir.
"Mereka hanya memperbanyak rumah, tapi tidak pernah memperbaiki saluran drainase dan sungai yang melintas di perumahan, sehingga banjir melanda rumah kami," terangnya.
Hal senada diungkapkan Julfikar (52), menurutnya, ada 350 rumah warga yang terkena banjir dan tersebar di empat blok, yakni Blok B,C,D dan E.
"Meski hujannya kecil, aliran sungai yang ada di belakang perumahan sering meluap, bahkan jika hujan besar air setinggi 50 centimeter masuk dan menggenangi rumah," keluhnya.
Menurutnya, langganan banjir yang melanda empat blok di perumahan tersebut mulai terjadi sejak 2009 lalu. Namun pihak pengembang tetap saja tidak menyelesikan masalah tersebut.
"Makanya hari ini adalah puncak kekesalan kami dengan datang langsung ke kantor pengembang untuk meminta pertanggungjawabannya," terangnya.
Mereka kesal dengan pihak pengembang perumahan lantaran setiap melakukan pembangunan rumah baru tidak memperhatikan dampaknya terhadap pemukiman yang sudah jadi. Sehingga saat hujan turun, warga selalu terkena banjir.
Saat puluhan warga perumahan tersebut datang ke kantor pemasaran, tidak ada satu pun petugas dari pihak pengembang yang menemuinya. Kekesalan warga tersebut akhirnya memuncak dengan merusak kantor pemasaran dan melempar semua kaca jendela dengan batu hingga pecah.
Sebagian warga yang masih dalam keadaan emosi juga mencoret-coret tembok yang kemudian merangsek masuk ke dalam dan membakar semua kursi serta berkas-berkas penting milik perusahaan pengembang perumahan itu.
Seorang warga Perumahan Artha Sentosa M Yusuf (46) mengungkapkan, aksi protes yang berujung dengan aksi pengrusakan kantor pemasaran karena selama ini keluhan warga soal banjir tak pernah ditanggapi.
"Kita sudah bosan meminta agar mereka memperbaiki aliran sungai yang menjadi penyebab banjir namun tidak pernah ada tanggapan dari pihak pengembang," terang Yusuf, di Kantor Pemasaran Perumahan Artha Sentosa, Jumat (23/11/2012).
Menurut Yusuf, sebelumnya perumahan itu merupakan lokasi yang bebas banjir. Namun setelah pengembang memperbanyak rumah yang dijualnya, justru kini sering terkena banjir.
"Mereka hanya memperbanyak rumah, tapi tidak pernah memperbaiki saluran drainase dan sungai yang melintas di perumahan, sehingga banjir melanda rumah kami," terangnya.
Hal senada diungkapkan Julfikar (52), menurutnya, ada 350 rumah warga yang terkena banjir dan tersebar di empat blok, yakni Blok B,C,D dan E.
"Meski hujannya kecil, aliran sungai yang ada di belakang perumahan sering meluap, bahkan jika hujan besar air setinggi 50 centimeter masuk dan menggenangi rumah," keluhnya.
Menurutnya, langganan banjir yang melanda empat blok di perumahan tersebut mulai terjadi sejak 2009 lalu. Namun pihak pengembang tetap saja tidak menyelesikan masalah tersebut.
"Makanya hari ini adalah puncak kekesalan kami dengan datang langsung ke kantor pengembang untuk meminta pertanggungjawabannya," terangnya.
(rsa)