Pemerintak cuek, warga nekat gali situs kuno
Rabu, 07 November 2012 - 09:46 WIB
Pemerintak cuek, warga nekat gali situs kuno
A
A
A
Sindonews.com - Bangunan kuno yang diduga berusia ratusan tahun untuk tempat upacara keagamaan ditemukan di tengah sawah di Demak, Jawa Tengah (Jateng). Penggalian oleh warga setempat dikhawatirkan merusak bangunan asli, karena dilakukan secara swadaya dengan peralatan seadanya.
Warga Desa Pilangrejo, Kecamatan Wonosalam terus menggali situs kuno yang ditemukan di tengah sawah. Setelah penggalian hingga kedalaman sekitar tiga meter situs mulai terlihat bentuknya. Kondisi bagian atas tampak tatanan bata merah yang berserakan, karena sebagian telah diambil warga untuk dibawa pulang. Sementara di bawahnya terlihat susunan bata merah yang tertata rapi berbentuk bujur sangkar berukuran 2,5x2,5 meter persegi.
Sepintas bentuk bangunan mirip pura atau tempat ibadah umat Hindu dengan desain bangunannya hampir sama dengan Menara Kudus. Bangunan tersusun dari batu bata merah berbagai ukuran dan bentuk. Pada setiap sambungan dan bagian luar batu bata terdapat lapisan putih yang berguna sebagai plester. Selain merekatkan sambungan antar batu bata, plester itu juga sebagai pelindung tembok bangunan dari hujan atau panas matahari agar tidak mudah runtuh dan lumutan.
Menurut salah seorang warga, Sutrisno sejak sebulan lalu warga desanya secara swadaya bergiliran terus menggali situs kuno tersebut. Warga hanya menggunakan peralatan sekedarnya seperti cangkul, linggis dan kayu. Meski penggalian dilakukan secara berhati-hati namun tetap saja sejumlah sisi bangunan rusak akibat terkena hantaman cangkul warga.
Staf Cagar Budaya Dinas Pariwisata Demak, Ahmad Widodo mengatakan bangunan kuno tersebut diduga sebagai tempat pemujaan. Sebab, selain bentuk bangunan yang menyerupai pura di lokasi tersebut warga juga menemukan sejumlah tulang hewan sebagai sesaji. Bentuk bangunan dan jenis batu bata sama dengan situs Kerajaan Majapahit di Trowulan, Jawa Timur.
"Tidak ada anggaran khusus untuk menggali bangunan yang diperkirakan telah berusia sekitar 500 tahun tersebut. Kita berharap, warga tidak merusak atau merubah kondisi situs. Bahkan bila perlu warga membuatkan pagar pembatas agar tidak semua pengunjung bebas untuk masuk dan mengambil batu bata," tandasnya.
Warga Desa Pilangrejo, Kecamatan Wonosalam terus menggali situs kuno yang ditemukan di tengah sawah. Setelah penggalian hingga kedalaman sekitar tiga meter situs mulai terlihat bentuknya. Kondisi bagian atas tampak tatanan bata merah yang berserakan, karena sebagian telah diambil warga untuk dibawa pulang. Sementara di bawahnya terlihat susunan bata merah yang tertata rapi berbentuk bujur sangkar berukuran 2,5x2,5 meter persegi.
Sepintas bentuk bangunan mirip pura atau tempat ibadah umat Hindu dengan desain bangunannya hampir sama dengan Menara Kudus. Bangunan tersusun dari batu bata merah berbagai ukuran dan bentuk. Pada setiap sambungan dan bagian luar batu bata terdapat lapisan putih yang berguna sebagai plester. Selain merekatkan sambungan antar batu bata, plester itu juga sebagai pelindung tembok bangunan dari hujan atau panas matahari agar tidak mudah runtuh dan lumutan.
Menurut salah seorang warga, Sutrisno sejak sebulan lalu warga desanya secara swadaya bergiliran terus menggali situs kuno tersebut. Warga hanya menggunakan peralatan sekedarnya seperti cangkul, linggis dan kayu. Meski penggalian dilakukan secara berhati-hati namun tetap saja sejumlah sisi bangunan rusak akibat terkena hantaman cangkul warga.
Staf Cagar Budaya Dinas Pariwisata Demak, Ahmad Widodo mengatakan bangunan kuno tersebut diduga sebagai tempat pemujaan. Sebab, selain bentuk bangunan yang menyerupai pura di lokasi tersebut warga juga menemukan sejumlah tulang hewan sebagai sesaji. Bentuk bangunan dan jenis batu bata sama dengan situs Kerajaan Majapahit di Trowulan, Jawa Timur.
"Tidak ada anggaran khusus untuk menggali bangunan yang diperkirakan telah berusia sekitar 500 tahun tersebut. Kita berharap, warga tidak merusak atau merubah kondisi situs. Bahkan bila perlu warga membuatkan pagar pembatas agar tidak semua pengunjung bebas untuk masuk dan mengambil batu bata," tandasnya.
(azh)