Warga Dusun Gempol menolak direlokasi
Kamis, 25 Oktober 2012 - 15:51 WIB
Warga Dusun Gempol menolak direlokasi
A
A
A
Suasana dusun yang sempat ditinggal penghuninya setelah diterjang bencana lahar dingin Gunung Merapi, kini perlahan mulai kembali ramai. Sejumlah warga bergotong-royong membangun rumah secara bergantian dengan biaya semampunya.
Kerukunan sesama itu ditunjukkan oleh warga Dusun Gempol, Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, Magelang yang memilih menolak program relokasi dari pemerintah setempat. Mereka mengaku begitu mencintai kampung kelahiran yang menyimpan berbagai kenangan dan kerinduan.
Sedikitnya 106 kepala keluarga bertekad membangun kembali dusun, selain rumah, mereka memulihkan budaya yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu.
"Kami sudah seperti keluarga besar, sehingga begitu berat untuk meninggalkan tempat ini," kata Warto, salah seorang warga Dusun Gempol menjelaskan, Kamis (25/10/2012).
Warto sendiri adalah warga yang kurang beruntung. Di antara yang lain, dia salah satu yang belum bisa membangun kembali rumahnya lantaran hidup dengan keterbatasan dana. Saat ini, dia bersama istrinya tinggal di sebuah gubuk, yang sekaligus dibuat sebagai warung makan.
"Ingin membangun kembali, tapi belum ada dana. Meskipun begitu kami tidak mengeluh, dan tetap akan berusaha mengumpulkan dana lewat usaha warung ini," lanjutnya.
Sebab memiliki tanggungjawab menjaga kerukunan, Warto juga merekalan diri untuk ikut bergotong-royong membangun rumah warga lain. Bahkan, dia kerap menjadi panutan di tiap kegiatan.
Kerukunan Dusun Gempol juga dibuktikan melalui pembentukan tim siaga bencana secara mandiri. Penanggung jawab tim siaga, Sudiyanto mengatakan inisiatif tersebut juga merupakan sikap antisipatif warga yang memilih kembali ke Gempol ketika musim penghujan tiba.
"Kita memutuskan untuk kembali ke Gempol bukan berarti modal nekat, kami juga berpikir untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi," ujarnya.
Ia juga mengisahkan perihal persiapan tim siaga dalam upaya melindungi warga. Menurutnya, saat ini dia dan tim sudah membuat jalur evakuasi, termasuk beberapa titik kumpul warga.
"Jalur tersebut nantinya akan digunakan apabila banjir datang lagi," ungkapnya.
Secara swadaya, warga juga sudah membuat tower antena untuk keperluan komunikasi Handy Talky (HT). Menggunakan Frekuensi 148.740 RPU dusun Gempol, segala informasi dan pantauan curah hujan di Gunung Merapi akan terus dipantau. Kemudian, informasi tersebut diteruskan ke warga sekitar melalui pengeras suara yang sudah terpasang di tower.
Sudiyanto menambahkan, sampai saat ini tim memiliki kelengkapan siaga bencana berupa 15 unit HT, empat unit tandu, dua unit megaphone, serta empat unit truk untuk keperluan evakuasi.
"Sebagian besar perlengkapan tersebuit adalah hasil swadaya masyarakat," imbuhnya.
Dalam waktu dekat, lanjutnya, akan dilakukan pemindahan balai yang ada di hunian sementara (huntara) ke Dusun Gempol sebagai sentral kegiatan tim siaga. Semua kegiatan dan tempat berkumpul tim akan dipusatkan di balai tersebut.
"Ada 55 personel yang tergabung dalam tim siaga. Mereka terlatih dan pernah mempunyai pengalaman simulasi evakuasi dengan pendampingan relawan sewaktu tinggal di huntara," paparnya.
Pria yang juga sebagai kepala Dusun Gempol ini berharap tim siaga dapat menjadikan warga gempol hidup tenang dan harmoni dikala bencana. dia juga berharap kepada pemerintah untuk memperlakukan sama terhadap warga yang bersedia relokasi, ataupun yang memilih untuk kembali.
"Terlebih dalam masalah penanganan bencana," pungkasnya.
Kerukunan sesama itu ditunjukkan oleh warga Dusun Gempol, Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, Magelang yang memilih menolak program relokasi dari pemerintah setempat. Mereka mengaku begitu mencintai kampung kelahiran yang menyimpan berbagai kenangan dan kerinduan.
Sedikitnya 106 kepala keluarga bertekad membangun kembali dusun, selain rumah, mereka memulihkan budaya yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu.
"Kami sudah seperti keluarga besar, sehingga begitu berat untuk meninggalkan tempat ini," kata Warto, salah seorang warga Dusun Gempol menjelaskan, Kamis (25/10/2012).
Warto sendiri adalah warga yang kurang beruntung. Di antara yang lain, dia salah satu yang belum bisa membangun kembali rumahnya lantaran hidup dengan keterbatasan dana. Saat ini, dia bersama istrinya tinggal di sebuah gubuk, yang sekaligus dibuat sebagai warung makan.
"Ingin membangun kembali, tapi belum ada dana. Meskipun begitu kami tidak mengeluh, dan tetap akan berusaha mengumpulkan dana lewat usaha warung ini," lanjutnya.
Sebab memiliki tanggungjawab menjaga kerukunan, Warto juga merekalan diri untuk ikut bergotong-royong membangun rumah warga lain. Bahkan, dia kerap menjadi panutan di tiap kegiatan.
Kerukunan Dusun Gempol juga dibuktikan melalui pembentukan tim siaga bencana secara mandiri. Penanggung jawab tim siaga, Sudiyanto mengatakan inisiatif tersebut juga merupakan sikap antisipatif warga yang memilih kembali ke Gempol ketika musim penghujan tiba.
"Kita memutuskan untuk kembali ke Gempol bukan berarti modal nekat, kami juga berpikir untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi," ujarnya.
Ia juga mengisahkan perihal persiapan tim siaga dalam upaya melindungi warga. Menurutnya, saat ini dia dan tim sudah membuat jalur evakuasi, termasuk beberapa titik kumpul warga.
"Jalur tersebut nantinya akan digunakan apabila banjir datang lagi," ungkapnya.
Secara swadaya, warga juga sudah membuat tower antena untuk keperluan komunikasi Handy Talky (HT). Menggunakan Frekuensi 148.740 RPU dusun Gempol, segala informasi dan pantauan curah hujan di Gunung Merapi akan terus dipantau. Kemudian, informasi tersebut diteruskan ke warga sekitar melalui pengeras suara yang sudah terpasang di tower.
Sudiyanto menambahkan, sampai saat ini tim memiliki kelengkapan siaga bencana berupa 15 unit HT, empat unit tandu, dua unit megaphone, serta empat unit truk untuk keperluan evakuasi.
"Sebagian besar perlengkapan tersebuit adalah hasil swadaya masyarakat," imbuhnya.
Dalam waktu dekat, lanjutnya, akan dilakukan pemindahan balai yang ada di hunian sementara (huntara) ke Dusun Gempol sebagai sentral kegiatan tim siaga. Semua kegiatan dan tempat berkumpul tim akan dipusatkan di balai tersebut.
"Ada 55 personel yang tergabung dalam tim siaga. Mereka terlatih dan pernah mempunyai pengalaman simulasi evakuasi dengan pendampingan relawan sewaktu tinggal di huntara," paparnya.
Pria yang juga sebagai kepala Dusun Gempol ini berharap tim siaga dapat menjadikan warga gempol hidup tenang dan harmoni dikala bencana. dia juga berharap kepada pemerintah untuk memperlakukan sama terhadap warga yang bersedia relokasi, ataupun yang memilih untuk kembali.
"Terlebih dalam masalah penanganan bencana," pungkasnya.
(azh)