Strategi Jokowi-Ahok tidak bisa diterapkan di Jabar
Kamis, 25 Oktober 2012 - 11:44 WIB
Strategi Jokowi-Ahok tidak bisa diterapkan di Jabar
A
A
A
Sindonews.com - Strategi kemenangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok) dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta, dianggap tidak bisa begitu saja diterapkan dalam Pilgub Jawa Barat (Jabar) yang akan diselenggarakan pada 2013 mendatang.
Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pembangunan Strategis (Puskaptis) Husin Yazid mengatakan, partai politik sebaiknya memikirkan karakteristik masyarakat Jabar yang lebih homogen dalam strategi pemenangan Pilgub.
"Janganlah euforia di Pilgub DKI Jakarta dijiplak, dan dibawa sepenuhnya ke Pilgub Jabar. Karakteristik pemilih di Jabar dan DKI Jakarta kan juga jelas berbeda," katanya melalui siaran persnya di Jakarta, Kamis (25/10/2012).
Dia mengungkapkan, jumlah pemilih di Jabar yang mencapai 40 juta pemilih, mengharuskan mesin parpol bekerja lebih keras jika ingin memenangkan Pilgub. Apalagi, Jabar terdiri dari 26 kabupaten dan kota.
Menurutnya, pemilih Jabar biasanya lebih tertarik dengan calon yang memiliki popularitas yang cukup tinggi. "Karena itu, bila ada tokoh yang popularitasnya belum tinggi, agak berisiko juga. Minimal popularitas itu 65 persen," ujarnya.
Terkait nama penggiat antikorupsi Teten Masduki yang muncul dalam bursa Pilgub Jabar, Husin menegaskan munculnya nama Teten merupakan kelanjutan dari euforia Pilgub Jabar. Padahal, belum tentu Teten memiliki elektabilitas yang memadai untuk maju.
Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pembangunan Strategis (Puskaptis) Husin Yazid mengatakan, partai politik sebaiknya memikirkan karakteristik masyarakat Jabar yang lebih homogen dalam strategi pemenangan Pilgub.
"Janganlah euforia di Pilgub DKI Jakarta dijiplak, dan dibawa sepenuhnya ke Pilgub Jabar. Karakteristik pemilih di Jabar dan DKI Jakarta kan juga jelas berbeda," katanya melalui siaran persnya di Jakarta, Kamis (25/10/2012).
Dia mengungkapkan, jumlah pemilih di Jabar yang mencapai 40 juta pemilih, mengharuskan mesin parpol bekerja lebih keras jika ingin memenangkan Pilgub. Apalagi, Jabar terdiri dari 26 kabupaten dan kota.
Menurutnya, pemilih Jabar biasanya lebih tertarik dengan calon yang memiliki popularitas yang cukup tinggi. "Karena itu, bila ada tokoh yang popularitasnya belum tinggi, agak berisiko juga. Minimal popularitas itu 65 persen," ujarnya.
Terkait nama penggiat antikorupsi Teten Masduki yang muncul dalam bursa Pilgub Jabar, Husin menegaskan munculnya nama Teten merupakan kelanjutan dari euforia Pilgub Jabar. Padahal, belum tentu Teten memiliki elektabilitas yang memadai untuk maju.
(lil)