Puncak peringatan hari pahlawan di Jakarta disoal
Rabu, 24 Oktober 2012 - 02:02 WIB
Puncak peringatan hari pahlawan di Jakarta disoal
A
A
A
Sindonews.com - Sejumlah tokoh mempersoalkan penunjukkan Jakarta sebagai lokasi puncak peringatan hari pahlawan yang jatuh pada 10 November 2012 mendatang. Pasalnya, Surabaya dianggap memiliki nilai sejarah yang lebih kuat dibandingkan Jakarta.
Ketua Panitia Nasional Hari Pahlawan Ahmad Zaini mengatakan, seharusnya puncak peringatan hari pahlawan dilaksanakan di Kota Surabaya, Jawa Timur. Karena, kota tersebut memiliki nilai sejarah dengan peperangan 10 November yang menewaskan 16 ribu orang.
"Kota Surabaya memiliki nilai sejarah dalam peperangan 10 November yang menewaskan sekira 16 ribu orang. Kami ingin pemerintah memahami agar peringatan itu dilakukan di Tugu Pahlawan," katanya di Surabaya, Jawa Timur, Selasa 23 Oktober 2012.
Untuk itu, pihaknya bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan Pemerintah Kota Surabaya akan mendesak pemerintah pusat segera merealisasikan permintaannya itu.
Sementara itu, pakar sejarah dari Universitas Soetomo (Unitomo) Sam Abede Pareno mengatakan, sejarah telah mencatat peristiwa peperangan 10 November hanya terjadi di Surabaya. Sehingga, peringatan hari pahlawan pasti sangat melekat dengan Surabaya.
Meski demikian, dia juga menegaskan jika peringatan hari pahlawan bukan hanya milik Surabaya, karena peperangan tersebut diikuti oleh arek-arek Suroboyo yang berasal dari berbagai etnis.
"Yang ikut perang pada waktu itu memang arek-arek Suroboyo. Tapi Arek-arek Suroboyo itu juga terdiri dari berbagai etnis dan suku bangsa, seperti Maluku, Madura, Tionghoa, warga keturunan Arab, dan sejumlah masyarakat dari berbagai penjuru. Semua ikut perang di Surabaya melawan sekutu," tukasnya.
Ketua Panitia Nasional Hari Pahlawan Ahmad Zaini mengatakan, seharusnya puncak peringatan hari pahlawan dilaksanakan di Kota Surabaya, Jawa Timur. Karena, kota tersebut memiliki nilai sejarah dengan peperangan 10 November yang menewaskan 16 ribu orang.
"Kota Surabaya memiliki nilai sejarah dalam peperangan 10 November yang menewaskan sekira 16 ribu orang. Kami ingin pemerintah memahami agar peringatan itu dilakukan di Tugu Pahlawan," katanya di Surabaya, Jawa Timur, Selasa 23 Oktober 2012.
Untuk itu, pihaknya bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan Pemerintah Kota Surabaya akan mendesak pemerintah pusat segera merealisasikan permintaannya itu.
Sementara itu, pakar sejarah dari Universitas Soetomo (Unitomo) Sam Abede Pareno mengatakan, sejarah telah mencatat peristiwa peperangan 10 November hanya terjadi di Surabaya. Sehingga, peringatan hari pahlawan pasti sangat melekat dengan Surabaya.
Meski demikian, dia juga menegaskan jika peringatan hari pahlawan bukan hanya milik Surabaya, karena peperangan tersebut diikuti oleh arek-arek Suroboyo yang berasal dari berbagai etnis.
"Yang ikut perang pada waktu itu memang arek-arek Suroboyo. Tapi Arek-arek Suroboyo itu juga terdiri dari berbagai etnis dan suku bangsa, seperti Maluku, Madura, Tionghoa, warga keturunan Arab, dan sejumlah masyarakat dari berbagai penjuru. Semua ikut perang di Surabaya melawan sekutu," tukasnya.
(lil)