Diskusi Syiah di IAIN Sunan Ampel dibubarkan
Selasa, 23 Oktober 2012 - 02:06 WIB
Diskusi Syiah di IAIN Sunan Ampel dibubarkan
A
A
A
Sindonews.com - Diskusi publik Pergerakkan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) rayon Fakultas Usuluddin IAIN Sunan Ampel, Surabaya, berlangsung ricuh. Diskusi yang mengambil tema. "Haruskah Syiah dibubarkan?" terpaksa dibubarkan, karena terjadi kericuhan.
Dialog yang dihelat di Fakultas Ushuluddin ini, dihadiri budayawan Emha Ainun Nadjib, pengarang buku Atlas Wali Songo yang juga Wakil Ketua Lembaga Kajian Sosial dan Budaya NU Agus Sunyoto, Ketua Dewan Syuro Ahlul Bait Indonesia (ABI) Umar Shihab dan beberapa dosen perbandingan agama Fakultas Usuluddin.
Acara dialog ini juga dihadiri oleh ratusan mahasiswa di kampus tersebut. Panitia diskusi Mudatzir mengatakan, dialog ini bubar lantaran ada ada sekelompok orang yang menamakan diri anti Syiah yang meminta agar diskusi ini dihentikan.
"Ada sekelompok orang yang datang ke ruang diskusi dan meminta agar acara disuksi ini dihentikan," kata Mudatzir, di kampus IAIN Sunan Ampel, Senin (22/10/2012).
Kericuhan dalam dialog itu terjadi ketika Ketua Bidang Organisasi Al-Bayyinat Indonesia Habib Achmad Zein Alkaf melalukan interupsi dalam acara tersebut. Pria yang juga Anggita Bidang Ukhuwah Islamiyah MUI Jatim ini, menolak ajaran Syiah di Indonesia.
Kontan saja, interuspi tersebut disambut dengan teriakkan sejumlah peserta diskusi yang lain mendukung Habib Zein. Suasana diskusi pun mendadak panas. Hingga akhirnya, Moderator acara pun berdiri dan meminta diskusi publik ini diakhiri saja.
Cak Nun yang hadir di tempat itupun langsung berdiri dan meminta segenap hadiri yang hadir untuk bersalawat. Usai bersalawat, dialog bubar dengan sendirinya.
Sementara itu, Habib Zein ketika dikonfirmasi mengaku, sebenarnya acara tersebut tidak perlu diadakan. Pasalnya, akan semakin menjustifikasi keberadaan Syiah. Di Jawa Timur sendiri, payung hukumnya sudah jelas atas keberadaan Syiah ini.
"Fatwa MUI sudah ada. Dan sudah dikuatkan dengan SK Gubernur. Payung hukumnya sudah jelas. Acara seperti ini tidak perlu diadakan agar tidak memicuk konflik," kata Habib Zein ketika dihubungi.
Sebagaimana diketahui, terhadap ajaran Syiah ini, MUI Jatim telah mengeluarkan Fatwa dengan nomer Kep-01/SKF-MUI/JTM/I/2012 tentang kesesatan ajaran Syiah.
"MUI sudah mengeluarkan fatwa. Bahwa ajaran Syiah atau yang juga disebut Syiah Imamiyyah Itsna'asyriyyah adalah sesat. Tak layak ada di Indonesia. Karena ini adalah MUI Jatim, artinya tidak boleh ada di Jawa Timur," terangnya.
Untuk memperkuat fatwa tersebut, Gubernur Jawa Timur mengeluarkan Surat Keputusan (SK) nomer 55 Tahun 2012 tentang Pembinaan kegiatan Keagamaan dan Pengawasan Aliran sesat di Jatim.
Dialog yang dihelat di Fakultas Ushuluddin ini, dihadiri budayawan Emha Ainun Nadjib, pengarang buku Atlas Wali Songo yang juga Wakil Ketua Lembaga Kajian Sosial dan Budaya NU Agus Sunyoto, Ketua Dewan Syuro Ahlul Bait Indonesia (ABI) Umar Shihab dan beberapa dosen perbandingan agama Fakultas Usuluddin.
Acara dialog ini juga dihadiri oleh ratusan mahasiswa di kampus tersebut. Panitia diskusi Mudatzir mengatakan, dialog ini bubar lantaran ada ada sekelompok orang yang menamakan diri anti Syiah yang meminta agar diskusi ini dihentikan.
"Ada sekelompok orang yang datang ke ruang diskusi dan meminta agar acara disuksi ini dihentikan," kata Mudatzir, di kampus IAIN Sunan Ampel, Senin (22/10/2012).
Kericuhan dalam dialog itu terjadi ketika Ketua Bidang Organisasi Al-Bayyinat Indonesia Habib Achmad Zein Alkaf melalukan interupsi dalam acara tersebut. Pria yang juga Anggita Bidang Ukhuwah Islamiyah MUI Jatim ini, menolak ajaran Syiah di Indonesia.
Kontan saja, interuspi tersebut disambut dengan teriakkan sejumlah peserta diskusi yang lain mendukung Habib Zein. Suasana diskusi pun mendadak panas. Hingga akhirnya, Moderator acara pun berdiri dan meminta diskusi publik ini diakhiri saja.
Cak Nun yang hadir di tempat itupun langsung berdiri dan meminta segenap hadiri yang hadir untuk bersalawat. Usai bersalawat, dialog bubar dengan sendirinya.
Sementara itu, Habib Zein ketika dikonfirmasi mengaku, sebenarnya acara tersebut tidak perlu diadakan. Pasalnya, akan semakin menjustifikasi keberadaan Syiah. Di Jawa Timur sendiri, payung hukumnya sudah jelas atas keberadaan Syiah ini.
"Fatwa MUI sudah ada. Dan sudah dikuatkan dengan SK Gubernur. Payung hukumnya sudah jelas. Acara seperti ini tidak perlu diadakan agar tidak memicuk konflik," kata Habib Zein ketika dihubungi.
Sebagaimana diketahui, terhadap ajaran Syiah ini, MUI Jatim telah mengeluarkan Fatwa dengan nomer Kep-01/SKF-MUI/JTM/I/2012 tentang kesesatan ajaran Syiah.
"MUI sudah mengeluarkan fatwa. Bahwa ajaran Syiah atau yang juga disebut Syiah Imamiyyah Itsna'asyriyyah adalah sesat. Tak layak ada di Indonesia. Karena ini adalah MUI Jatim, artinya tidak boleh ada di Jawa Timur," terangnya.
Untuk memperkuat fatwa tersebut, Gubernur Jawa Timur mengeluarkan Surat Keputusan (SK) nomer 55 Tahun 2012 tentang Pembinaan kegiatan Keagamaan dan Pengawasan Aliran sesat di Jatim.
(san)