GIA dituding tak siap angkut satwa langka
Kamis, 04 Oktober 2012 - 12:59 WIB
GIA dituding tak siap angkut satwa langka
A
A
A
Sindonews.com - Kematian Harimau Sumatera di dalam pesawat Boing 737 dituding merupakan kesalahan pihak Garuda Indonesia Airlines (GIA). Harimau yang dinamai Tengku Agam tersebut mati setelah kekurangan oksigen di dalam pesawat.
"Dari pihak Garuda sendiri tidak memenuhi standar dan prosedur ketika pengiriman satwa itu. Sehingga Tengku Agam mati," ungkap mantan pengurus PKBSI Perhimpunan Kebun Binatang se-Indonesia (PKBSI) menjelaskan, Kamis (4/10/2012).
Ia menjelaskan, dalam pengiriman satwa bernama latin Panthera Trigis Sumatrae asal Aceh ini tidak didampingi oleh penjaga. Menurut Singky, jika memang penjaga tidak bisa ikut dalam pesawat minimal, penjaga ikut ke bagasi dan memastikan kondisi tempat untuk pengiriman satwa itu layak.
Lebih jauh ia menjelaskan, selain pihak Garuda, ada sejumlah pihak yang bertanggung jawab, yakni Jatim Park. Karena tidak menyertakan penjaga pendamping yang berpengalaman sehingga mengerti tentang Standar Operasional Prosedur (SOP).
"Kalau tidak memenuhi standart jangan diberangkatkan. Lebih baik lewat darat saja atau jangan-jangan pihak Jatim Park juga enggak punya tenaga seperti itu, jadi asal bayar, keluar uang dan hanya tahu beres saja," paparnya.
Namun, lanjut Singky, yang paling bertanggung jawab adalah Garuda. bentuk tanggung jawab yang harus dilakukan oleh GIA bukan lantas didenda dengan membayar sejumlah uang akibat kematian Satwa dilindungi itu.
"Bentuk tanggung jawabnya adalah pihak Garuda merasa menyesal karena kematian satwa liar ini. Bentuk kongkritnya adalah ikut berkampanye melalui pamflet atau bentuk lain yang bertujuan 'Save Harimau Sumatera'. Saya kira itu lebih bijak," tandasnya.
"Dari pihak Garuda sendiri tidak memenuhi standar dan prosedur ketika pengiriman satwa itu. Sehingga Tengku Agam mati," ungkap mantan pengurus PKBSI Perhimpunan Kebun Binatang se-Indonesia (PKBSI) menjelaskan, Kamis (4/10/2012).
Ia menjelaskan, dalam pengiriman satwa bernama latin Panthera Trigis Sumatrae asal Aceh ini tidak didampingi oleh penjaga. Menurut Singky, jika memang penjaga tidak bisa ikut dalam pesawat minimal, penjaga ikut ke bagasi dan memastikan kondisi tempat untuk pengiriman satwa itu layak.
Lebih jauh ia menjelaskan, selain pihak Garuda, ada sejumlah pihak yang bertanggung jawab, yakni Jatim Park. Karena tidak menyertakan penjaga pendamping yang berpengalaman sehingga mengerti tentang Standar Operasional Prosedur (SOP).
"Kalau tidak memenuhi standart jangan diberangkatkan. Lebih baik lewat darat saja atau jangan-jangan pihak Jatim Park juga enggak punya tenaga seperti itu, jadi asal bayar, keluar uang dan hanya tahu beres saja," paparnya.
Namun, lanjut Singky, yang paling bertanggung jawab adalah Garuda. bentuk tanggung jawab yang harus dilakukan oleh GIA bukan lantas didenda dengan membayar sejumlah uang akibat kematian Satwa dilindungi itu.
"Bentuk tanggung jawabnya adalah pihak Garuda merasa menyesal karena kematian satwa liar ini. Bentuk kongkritnya adalah ikut berkampanye melalui pamflet atau bentuk lain yang bertujuan 'Save Harimau Sumatera'. Saya kira itu lebih bijak," tandasnya.
(azh)