Korban Sampang terancam kelaparan
Jum'at, 31 Agustus 2012 - 07:57 WIB
Korban Sampang terancam kelaparan
A
A
A
Sindonews.com - Dampak penyerangan warga Syiah masih berbuntut panjang. Puluhan warga Syiah di Desa Karanggayam, Kecamatan Omben, Sampang, Madura, Jawa Timur (Jatim) terancam kelaparan karena sembunyi di dalam hutan.
Petugas menemukan dua korban penyerangan saat kelaparan di semak belukar. Keduanya dievakuasi dalam kondisi lemas. Sebanyak 50 orang lainnya diperkirakan masih sembunyi di hutan.
”Dua orang ditemukan kelaparan. Ada sekitar 50 orang pengikut Syiah yang hingga kini masih bersembunyi dan belum berhasil dievakuasi,” kata juru bicara relawan kemanusiaan dari Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Surabaya, di Sampang, Fatkhul Khoir, Kamis 30 Agustus 2012.
Ia menjelaskan, tim relawan bersama petugas dari kepolisian terus berupaya melakukan evakuasi korban penyerangan yang masih bersembunyi tersebut dengan cara menanyakan kepada para tetangga yang telah berhasil dievakuasi. Warga yang keluar dari tempat persembunyiannya terlebih dahulu menghubungi relawan, baik dari Ahlul Bait Indonesia (ABI) ataupun dari Kontras.
”Kalau tidak ada tim relawan yang menjemput, mereka tidak mau.Makanya, kawan-kawan relawan selalu ada yang ditugaskan menjemput mereka,” kata Fatkhul Khoir.
Ketua jamaah Syiah Iklil Almilal mengakui,memang belum semua jamaah Syiah tinggal di penampungan dan hanya sebagian saja yang telah dievakuasi. Pada aksi penyerangan yang terjadi pada akhir Desember 2011, warga Syiah yang dievakuasi sebanyak 335, sedang yang saat ini berada di gedung olahraga (GOR) Sampang baru 276 orang. Jumlah warga yang masih belum berhasil dievakuasi yang bersembunyi karena ketakutan mencapai 59 orang. Polisi menduga mereka ketakutan sehingga sembunyi di hutan.
”Kami memperkirakan masih ada puluhan korban kerusuhan diDesa Karang gayam dan Desa Geding Laok bersembunyi di hutan,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Mabes Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar,di Jakarta.
Polisi dan TNI bekerja sama dengan relawan berusaha memulangkan mereka. ”Kita harap mereka jangan jauh meninggalkan desanya, dan nanti dibantu akomodasi di tempat keluarga atau pengungsian,” ujar Boy.
Seperti diberitakan, pascapenyerangan kelompok Syiah di Desa Karanggayam,Kecamatan Ombeng, Sampang, Minggu 26 Agustus yang menewaskan dua orang, petugas sudah mengambil langkah tegas. Selain menetapkan tersangka dan menahan Rois, polisi masih memeriksa tujuh orang sebagai saksi. Polres Sampang juga memeriksa Iklil Almilal sebagai saksi.
Dia dijemput langsung oleh polisi dari lokasi pengungsian di GOR Wijaya Kusuma, Kota Sampang. Warga Dusun Ganding Laok, Desa Bluuran, Kecamatan Karangpenang, Kabupaten Sampang ini diperiksa terkait penyerangan, Minggu lalu. Sejauh ini, polisi sudah memeriksa AS (25), T (20), N (25), AF (19), N (23), semuanya asal Desa Tambak, Kecamatan Omben, serta M (30), Desa Pakarenan, Kecamatan Kedundung dan AM (22), Desa Klenteng, Kecamatan Proppo, Pamekasan.
”Nanti saja ya, tunggu hasilnya saja,” ujar Kabag Ops Polres Sampang, Kompol Alfian Nurrizal dikonfirmasi terkait pemeriksaan Iklil. Polisi juga memburu rekan Rois Al Hukama, yang diduga terlibat dalam penyerangan warga Syiah. Saat diperiksa penyidik kemarin, Rois dicecar seputar pelaku lain di balik kerusuhan itu. Adik kandung Ustad Tajul Muluk itu dipaksa menjawab sekitar 20 pertanyaan selama tujuh jam.
”Materinya ya seputar kerusuhan,” tutur salah seorang anggota di Polda Jatim. Saat dibawa ke ruang penyidikan Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jatim, Rois menutup kepalanya menggunakan sarung, menyerupai ninja. Proses pemeriksaan pun sangat tertutup. Di ruang pemeriksaan itu hanya ada tiga orang,yaitu dua penyidik dan satu lagi Rois yang duduk di atas kursi lipat merah menghadap ke selatan.
Petugas menemukan dua korban penyerangan saat kelaparan di semak belukar. Keduanya dievakuasi dalam kondisi lemas. Sebanyak 50 orang lainnya diperkirakan masih sembunyi di hutan.
”Dua orang ditemukan kelaparan. Ada sekitar 50 orang pengikut Syiah yang hingga kini masih bersembunyi dan belum berhasil dievakuasi,” kata juru bicara relawan kemanusiaan dari Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Surabaya, di Sampang, Fatkhul Khoir, Kamis 30 Agustus 2012.
Ia menjelaskan, tim relawan bersama petugas dari kepolisian terus berupaya melakukan evakuasi korban penyerangan yang masih bersembunyi tersebut dengan cara menanyakan kepada para tetangga yang telah berhasil dievakuasi. Warga yang keluar dari tempat persembunyiannya terlebih dahulu menghubungi relawan, baik dari Ahlul Bait Indonesia (ABI) ataupun dari Kontras.
”Kalau tidak ada tim relawan yang menjemput, mereka tidak mau.Makanya, kawan-kawan relawan selalu ada yang ditugaskan menjemput mereka,” kata Fatkhul Khoir.
Ketua jamaah Syiah Iklil Almilal mengakui,memang belum semua jamaah Syiah tinggal di penampungan dan hanya sebagian saja yang telah dievakuasi. Pada aksi penyerangan yang terjadi pada akhir Desember 2011, warga Syiah yang dievakuasi sebanyak 335, sedang yang saat ini berada di gedung olahraga (GOR) Sampang baru 276 orang. Jumlah warga yang masih belum berhasil dievakuasi yang bersembunyi karena ketakutan mencapai 59 orang. Polisi menduga mereka ketakutan sehingga sembunyi di hutan.
”Kami memperkirakan masih ada puluhan korban kerusuhan diDesa Karang gayam dan Desa Geding Laok bersembunyi di hutan,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Mabes Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar,di Jakarta.
Polisi dan TNI bekerja sama dengan relawan berusaha memulangkan mereka. ”Kita harap mereka jangan jauh meninggalkan desanya, dan nanti dibantu akomodasi di tempat keluarga atau pengungsian,” ujar Boy.
Seperti diberitakan, pascapenyerangan kelompok Syiah di Desa Karanggayam,Kecamatan Ombeng, Sampang, Minggu 26 Agustus yang menewaskan dua orang, petugas sudah mengambil langkah tegas. Selain menetapkan tersangka dan menahan Rois, polisi masih memeriksa tujuh orang sebagai saksi. Polres Sampang juga memeriksa Iklil Almilal sebagai saksi.
Dia dijemput langsung oleh polisi dari lokasi pengungsian di GOR Wijaya Kusuma, Kota Sampang. Warga Dusun Ganding Laok, Desa Bluuran, Kecamatan Karangpenang, Kabupaten Sampang ini diperiksa terkait penyerangan, Minggu lalu. Sejauh ini, polisi sudah memeriksa AS (25), T (20), N (25), AF (19), N (23), semuanya asal Desa Tambak, Kecamatan Omben, serta M (30), Desa Pakarenan, Kecamatan Kedundung dan AM (22), Desa Klenteng, Kecamatan Proppo, Pamekasan.
”Nanti saja ya, tunggu hasilnya saja,” ujar Kabag Ops Polres Sampang, Kompol Alfian Nurrizal dikonfirmasi terkait pemeriksaan Iklil. Polisi juga memburu rekan Rois Al Hukama, yang diduga terlibat dalam penyerangan warga Syiah. Saat diperiksa penyidik kemarin, Rois dicecar seputar pelaku lain di balik kerusuhan itu. Adik kandung Ustad Tajul Muluk itu dipaksa menjawab sekitar 20 pertanyaan selama tujuh jam.
”Materinya ya seputar kerusuhan,” tutur salah seorang anggota di Polda Jatim. Saat dibawa ke ruang penyidikan Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jatim, Rois menutup kepalanya menggunakan sarung, menyerupai ninja. Proses pemeriksaan pun sangat tertutup. Di ruang pemeriksaan itu hanya ada tiga orang,yaitu dua penyidik dan satu lagi Rois yang duduk di atas kursi lipat merah menghadap ke selatan.
(azh)