Liput sengketa lahan, 2 wartawan dipukuli preman
Selasa, 28 Agustus 2012 - 23:56 WIB
Liput sengketa lahan, 2 wartawan dipukuli preman
A
A
A
Sindonews.com - Wiro dan Khoirul, dua orang kamerawan stasiun televisi lokal menjadi korban kekerasan sejumlah orang yang diduga preman sewaan perkebunan PT Suwaru Buluroto, Desa Karangrejo, Kabupaten Blitar. Keduanya sudah melaporkan kekerasan yang dialaminya ke Polres Blitar.
Selain menjalani visum medis, keduanya dimintai keterangan terkait kronologis penganiayaan yang mereka dapatkan. "Saat ini pemeriksaan masih berlanjut," ujar Kasatreskrim Polres Blitar Ajun Komisaris Polisi Ngadiman kepada wartawan Selasa (28/8/2012).
Aksi kekerasan itu terjadi saat kedua wartawan itu hendak menjalankan tugas peliputan sengketa tanah antara warga Dusun Buluroto dengan pihak perkebunan milik PT Suwaru Buluroto. Tiba-triba, Wiro dan Khoirul diserang sejumlah orang tidak dikenal.
Bagian kepala Khoirul dipukul dengan sebatang kayu. Beruntung, wartawan Surabaya TV itu mengenakan helm pelindung kepala. "Jika memang terbukti ada pelanggaran hukum, tentunya kita akan memberikan tindakan tegas," tegas Ngadiman.
Arif Prabowo, wartawan media cetak yang melihat langsung aksi penyerangan itu mengaku, menyaksikan dengan mata kepala bagaimana Khoirul dengan sepeda motornya berusaha meloloskan diri dari kepungan massa.
"Untungnya Khoirul tidak sempat jatuh. Kalau jatuh paling akan dihajar. Karena saat itu ada sekitar 50-an orang yang diduga sebagai teman-teman pelaku," timpal Arif.
Sementara itu, Wiro bernasib lebih buruk. Pukulan pada bagian dada, perut, punggung dan kepala membuat wartawan Rajawali TV (RTV) itu jatuh terjengkang.
Aksi kekerasan tersebut berhenti, setelah Wiro berteriak mengatakan dirinya tidak jadi mengambil gambar peristiwa sengketa antara warga dengan sejumlah preman yang diduga sengaja didatangkan pihak perkebunan.
"Setelah tahu Wiro memasukkan kamera yang sempat dikeluarkan, orang-orang itu kemudian berhenti memukuli dan pergi," terang Arif.
Seperti diketahui, para wartawan datang ke lokasi perkebunan Suwaru Buluroto setelah mendengar kabar situasi yang memanas di sana. Puluhan warga yang bertempat tinggal di sekitar perkebunan menghalangi rencana pihak perkebunan yang hendak melakukan panen tebu.
Warga mengklaim seluruh tanaman tebu tersebut berada di tanah mereka. Karenannya mereka membentuk barisan pagar betis dengan membawa senjata seadanya.
Sementara pihak perkebunan tetap bersikukuh perkebunan yang memiliki luas puluhan hektar tersebut masih menjadi hak pengelolaanya. Hal itu didasarkan pada izin Hak Guna Usaha (HGU) yang dikantonginya.
Selain menjalani visum medis, keduanya dimintai keterangan terkait kronologis penganiayaan yang mereka dapatkan. "Saat ini pemeriksaan masih berlanjut," ujar Kasatreskrim Polres Blitar Ajun Komisaris Polisi Ngadiman kepada wartawan Selasa (28/8/2012).
Aksi kekerasan itu terjadi saat kedua wartawan itu hendak menjalankan tugas peliputan sengketa tanah antara warga Dusun Buluroto dengan pihak perkebunan milik PT Suwaru Buluroto. Tiba-triba, Wiro dan Khoirul diserang sejumlah orang tidak dikenal.
Bagian kepala Khoirul dipukul dengan sebatang kayu. Beruntung, wartawan Surabaya TV itu mengenakan helm pelindung kepala. "Jika memang terbukti ada pelanggaran hukum, tentunya kita akan memberikan tindakan tegas," tegas Ngadiman.
Arif Prabowo, wartawan media cetak yang melihat langsung aksi penyerangan itu mengaku, menyaksikan dengan mata kepala bagaimana Khoirul dengan sepeda motornya berusaha meloloskan diri dari kepungan massa.
"Untungnya Khoirul tidak sempat jatuh. Kalau jatuh paling akan dihajar. Karena saat itu ada sekitar 50-an orang yang diduga sebagai teman-teman pelaku," timpal Arif.
Sementara itu, Wiro bernasib lebih buruk. Pukulan pada bagian dada, perut, punggung dan kepala membuat wartawan Rajawali TV (RTV) itu jatuh terjengkang.
Aksi kekerasan tersebut berhenti, setelah Wiro berteriak mengatakan dirinya tidak jadi mengambil gambar peristiwa sengketa antara warga dengan sejumlah preman yang diduga sengaja didatangkan pihak perkebunan.
"Setelah tahu Wiro memasukkan kamera yang sempat dikeluarkan, orang-orang itu kemudian berhenti memukuli dan pergi," terang Arif.
Seperti diketahui, para wartawan datang ke lokasi perkebunan Suwaru Buluroto setelah mendengar kabar situasi yang memanas di sana. Puluhan warga yang bertempat tinggal di sekitar perkebunan menghalangi rencana pihak perkebunan yang hendak melakukan panen tebu.
Warga mengklaim seluruh tanaman tebu tersebut berada di tanah mereka. Karenannya mereka membentuk barisan pagar betis dengan membawa senjata seadanya.
Sementara pihak perkebunan tetap bersikukuh perkebunan yang memiliki luas puluhan hektar tersebut masih menjadi hak pengelolaanya. Hal itu didasarkan pada izin Hak Guna Usaha (HGU) yang dikantonginya.
(san)