Rumah duka Budi Kasih kebakaran, 7 tewas
Sabtu, 04 Agustus 2012 - 19:32 WIB
Rumah duka Budi Kasih kebakaran, 7 tewas
A
A
A
Sindonews.com - Tujuh orang tewas dalam insiden kebakaran yang menghanguskan dua rumah di Jalan Tirtoyoso Gang IX, RT 07/RW 12, Kelurahan Rejosari, Semarang Timur, Kota Semarang. Dua rumah yang terbakar adalah Rumah Pelayanan Kematian (rumah duka) Budi Kasih milik Katanaeil Andrean, dan rumah milik Ansori Kadim yang terletak di sebelahnya.
Diketahui, tujuh orang yang tewas merupakan penghuni Rumah Pelayanan Kematian (RPK) Budi Kasih, yakni Luciana (50), Vini (34), Gabriel (9 bulan), Gio (2,5 Bulan), dan tiga orang suster masing-masing Tari (20), Desi (20), dan Rafiah (20).
Sementara Kristanto (37) yang semula juga berada di dalam rumah tersebut berhasil menyelamatkan diri bersama satu orang anaknya, Dominic yang berusia 1 tahun.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun di lokasi kejadian, kebakaran tersebut terjadi sekira pukul 13.45 WIB. Kebakaran diduga karena meledaknya genset yang ada di RPK Budi Kasih. Pasalnya, sebelum kejadian sekira pukul 13.30 WIB listrik di kawasan padat penduduk tersebut padam.
Ketika itu, salah satu dari penghuni rumah berusaha menyalakan genset yang berada di ruangan depan bagian kiri. Namun, saat dinyalakan, genset tersebut justru meledak dan menimbulkan percikan api, serta langsung menyambar benda-benda yang
mudah terbakar.
"Saya dengar ada ledakan dan asap hitam keluar dari dalam rumah, tahu itu saya langsung lari berteriak," terang Sabini (43), seorang warga setempat, di lokasi kejadian, Sabtu (4/8/2012).
Mengetahui kebakaran tersebut, seluruh penghuni rumah yang pada saat itu berada di bagian belakang langsung panik, namun tidak berani keluar rumah, karena api sudah membesar di ruang genset yang berada di depan.
Hanya Kristanto (37) yang berani menerobos api dengan menggendong anaknya Dominic. Kristanto berusaha mencoba untuk kembali masuk menyelamatkan yang lain, namun dicegah oleh warga karena api terlampau besar.
Cuaca panas dan hembusan angin kencang semakin memperbesar kobaran api. Mengetahui api membesar warga sekitar pun langsung berhamburan keluar rumah, dan berusaha untuk memadamkan api. Tapi, usaha pemadaman dengan menggunakan peralatan seadanya tidak membuahkan hasil, karena api semakin membesar, dan merembet ke rumah sebelah.
Empat unit mobil pemadam kebakaran pun didatangkan untuk memadamkan api. Api baru dapat dijinakkan dua jam kemudian. Setelah api padam, petugas pemadam bersama tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan kepolisian langsung melakukan evakuasi terhadap jenasah korban.
Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Elan Subilan yang datang ke lokasi kejadian mengatakan, sampai saat ini pihaknya belum mengetahui secara pasti penyebab kebakaran tersebut, namun dugaan sementara api berasal dari genset yang meledak.
"Dari keterangan saksi-saksi, genset yang ada di ruang depan meledak dan menimbulkan api," katanya.
Diketahui, tujuh orang yang tewas merupakan penghuni Rumah Pelayanan Kematian (RPK) Budi Kasih, yakni Luciana (50), Vini (34), Gabriel (9 bulan), Gio (2,5 Bulan), dan tiga orang suster masing-masing Tari (20), Desi (20), dan Rafiah (20).
Sementara Kristanto (37) yang semula juga berada di dalam rumah tersebut berhasil menyelamatkan diri bersama satu orang anaknya, Dominic yang berusia 1 tahun.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun di lokasi kejadian, kebakaran tersebut terjadi sekira pukul 13.45 WIB. Kebakaran diduga karena meledaknya genset yang ada di RPK Budi Kasih. Pasalnya, sebelum kejadian sekira pukul 13.30 WIB listrik di kawasan padat penduduk tersebut padam.
Ketika itu, salah satu dari penghuni rumah berusaha menyalakan genset yang berada di ruangan depan bagian kiri. Namun, saat dinyalakan, genset tersebut justru meledak dan menimbulkan percikan api, serta langsung menyambar benda-benda yang
mudah terbakar.
"Saya dengar ada ledakan dan asap hitam keluar dari dalam rumah, tahu itu saya langsung lari berteriak," terang Sabini (43), seorang warga setempat, di lokasi kejadian, Sabtu (4/8/2012).
Mengetahui kebakaran tersebut, seluruh penghuni rumah yang pada saat itu berada di bagian belakang langsung panik, namun tidak berani keluar rumah, karena api sudah membesar di ruang genset yang berada di depan.
Hanya Kristanto (37) yang berani menerobos api dengan menggendong anaknya Dominic. Kristanto berusaha mencoba untuk kembali masuk menyelamatkan yang lain, namun dicegah oleh warga karena api terlampau besar.
Cuaca panas dan hembusan angin kencang semakin memperbesar kobaran api. Mengetahui api membesar warga sekitar pun langsung berhamburan keluar rumah, dan berusaha untuk memadamkan api. Tapi, usaha pemadaman dengan menggunakan peralatan seadanya tidak membuahkan hasil, karena api semakin membesar, dan merembet ke rumah sebelah.
Empat unit mobil pemadam kebakaran pun didatangkan untuk memadamkan api. Api baru dapat dijinakkan dua jam kemudian. Setelah api padam, petugas pemadam bersama tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan kepolisian langsung melakukan evakuasi terhadap jenasah korban.
Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Elan Subilan yang datang ke lokasi kejadian mengatakan, sampai saat ini pihaknya belum mengetahui secara pasti penyebab kebakaran tersebut, namun dugaan sementara api berasal dari genset yang meledak.
"Dari keterangan saksi-saksi, genset yang ada di ruang depan meledak dan menimbulkan api," katanya.
(lil)