Gempa kecil masih terjadi di Merapi
Selasa, 17 Juli 2012 - 09:40 WIB
Gempa kecil masih terjadi di Merapi
A
A
A
Sindonews.com – Aktivitas Gunung Merapi yang menyebabkan turunnya hujan abu dipastikan bukan aktivitas vulkanik yang perlu dikhawatirkan.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) memastikan kondisi Merapi masih normal.
Namun demikian, dari pantauan kemarin, getaran dan gempa kecil dari gunung yang baru saja meletus besar di akhir 2010 lalu itu masih terus terjadi.
Petugas pemantau Merapi di Pos Babadan, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Ismail mengatakan, hingga kemarin aktivitas Gunung Merapi masih terpantau aktif normal. Alat pemantau aktivitas Merapi di pos tersebut tidak mencatat munculnya pergerakan besar di puncak Merapi.
"Aktivitas masih aktif normal dan tenang. Tercatat beberapa kali terjadi getaran dan gempa kecil. Sifatnya hanya lokalan dan di puncak saja dan itu biasa terjadi. Jadi tidak perlu dikhawatirkan," katanya kemarin.
Ismail menyatakan, kejadian hujan abu yang melanda sebagian kawasan lereng Merapi khususnya di Kabupaten Magelang, Minggu (15/7) malam lalu, disebabkan oleh longsornya dinding kubah lava sebelah barat di puncak Merapi.
Longsor tersebut terjadi karena dinding lava mengalami pelapukan yang biasa terjadi di kawasan puncak pascaletusan. Apalagi sekarang ini, kata dia, sedang memasuki musim kemarau sehingga susunan material yang ada di kawasan puncak menjadi tidak kokoh dan gampang luruh.
"Musim kemarau menyebabkan kondisi di puncak cenderung kering, sehingga batu dan pasir tidak lengket. Akhirnya membuat material ini gampang lepas dan banyak yang longsor," jelasnya.
Longsoran tersebut, lanjutnya, membuat abu di sekitar puncak Merapi membumbung mirip kepulan asap. Lantaran tertiup angin maka, abu ini kemudian terbawa hingga menimbulkan hujan abu di sejumlah wilayah tertentu.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang, Joko Sudibyo mengimbau masyarakat agar tidak khawatir berlebihan karena status Merapi masih aktif normal.
Pihaknya akan selalu berkoordinasi dengan BPPTK Yogyakarta untuk terus memantau kondisi Gunung Merapi. Dia juga meminta, agar masyarakat tidak termakan oleh isu-isu yang tidak benar agar tidak menimbulkan kepanikan.
Informasi paling akurat, katanya, adalah dari BPPTK Yogyakarta. Sementara Kepala BPPTK Yogyakarta Subandrio menyatakan, fenomena yang terpantau di kawasan Magelang dan Boyolali pada Minggu (15/7) malam tidak menunjukan adanya peningkatan aktivitas Merapi.
Dari pemantauan yang dilakukan, Minggu (15/7) pukul 18.02 WIB terdengar bunyi gemuruh dari Pos Babadan. Kemudian pada pukul 18.10 hingga 18.15 WIB dari Pos Selo, teramati asap dengan arah condong ke barat ketinggian sekitar 1.000 meter dari puncak Merapi.
Fenomena tersebut diikuti dengan kemunculan hujan abu tipis pada pukul 18.45 WIB di Jurang Jero dan Srumbung. Asap yang muncul tersebut menurut Bandrio hanyalah kemunculan gas vulkanik dan bukan asap dari letusan.
“Saya menyebutnya akumulasi gas spontan saja,” paparnya kepada wartawan kemarin. Pascaembusan asap,dari catatan Subandrio, semenjak Minggu (15/7) malam pukul 19.00 WIB merapi sudah seperti semula.Seismograf tidak menunjukkan adanya gempagempa susulan.
Namun dia tidak menjamin bahwa kejadian serupa tak akan terjadi lagi. Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X mengatakan, berdasarkan laporan yang diterimanya Merapi dalam kondisi cukup normal. “Belum perlu langkah khusus,” tandasnya.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) memastikan kondisi Merapi masih normal.
Namun demikian, dari pantauan kemarin, getaran dan gempa kecil dari gunung yang baru saja meletus besar di akhir 2010 lalu itu masih terus terjadi.
Petugas pemantau Merapi di Pos Babadan, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Ismail mengatakan, hingga kemarin aktivitas Gunung Merapi masih terpantau aktif normal. Alat pemantau aktivitas Merapi di pos tersebut tidak mencatat munculnya pergerakan besar di puncak Merapi.
"Aktivitas masih aktif normal dan tenang. Tercatat beberapa kali terjadi getaran dan gempa kecil. Sifatnya hanya lokalan dan di puncak saja dan itu biasa terjadi. Jadi tidak perlu dikhawatirkan," katanya kemarin.
Ismail menyatakan, kejadian hujan abu yang melanda sebagian kawasan lereng Merapi khususnya di Kabupaten Magelang, Minggu (15/7) malam lalu, disebabkan oleh longsornya dinding kubah lava sebelah barat di puncak Merapi.
Longsor tersebut terjadi karena dinding lava mengalami pelapukan yang biasa terjadi di kawasan puncak pascaletusan. Apalagi sekarang ini, kata dia, sedang memasuki musim kemarau sehingga susunan material yang ada di kawasan puncak menjadi tidak kokoh dan gampang luruh.
"Musim kemarau menyebabkan kondisi di puncak cenderung kering, sehingga batu dan pasir tidak lengket. Akhirnya membuat material ini gampang lepas dan banyak yang longsor," jelasnya.
Longsoran tersebut, lanjutnya, membuat abu di sekitar puncak Merapi membumbung mirip kepulan asap. Lantaran tertiup angin maka, abu ini kemudian terbawa hingga menimbulkan hujan abu di sejumlah wilayah tertentu.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang, Joko Sudibyo mengimbau masyarakat agar tidak khawatir berlebihan karena status Merapi masih aktif normal.
Pihaknya akan selalu berkoordinasi dengan BPPTK Yogyakarta untuk terus memantau kondisi Gunung Merapi. Dia juga meminta, agar masyarakat tidak termakan oleh isu-isu yang tidak benar agar tidak menimbulkan kepanikan.
Informasi paling akurat, katanya, adalah dari BPPTK Yogyakarta. Sementara Kepala BPPTK Yogyakarta Subandrio menyatakan, fenomena yang terpantau di kawasan Magelang dan Boyolali pada Minggu (15/7) malam tidak menunjukan adanya peningkatan aktivitas Merapi.
Dari pemantauan yang dilakukan, Minggu (15/7) pukul 18.02 WIB terdengar bunyi gemuruh dari Pos Babadan. Kemudian pada pukul 18.10 hingga 18.15 WIB dari Pos Selo, teramati asap dengan arah condong ke barat ketinggian sekitar 1.000 meter dari puncak Merapi.
Fenomena tersebut diikuti dengan kemunculan hujan abu tipis pada pukul 18.45 WIB di Jurang Jero dan Srumbung. Asap yang muncul tersebut menurut Bandrio hanyalah kemunculan gas vulkanik dan bukan asap dari letusan.
“Saya menyebutnya akumulasi gas spontan saja,” paparnya kepada wartawan kemarin. Pascaembusan asap,dari catatan Subandrio, semenjak Minggu (15/7) malam pukul 19.00 WIB merapi sudah seperti semula.Seismograf tidak menunjukkan adanya gempagempa susulan.
Namun dia tidak menjamin bahwa kejadian serupa tak akan terjadi lagi. Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X mengatakan, berdasarkan laporan yang diterimanya Merapi dalam kondisi cukup normal. “Belum perlu langkah khusus,” tandasnya.
(lns)