Blogong, kampung terisolir di perbukitan
Senin, 09 Juli 2012 - 09:07 WIB
Blogong, kampung terisolir di perbukitan
A
A
A
TIGA lelaki duduk di depan rumah, menikmati alunan gending Jawa yang sayup dari sebuah radio usang. Obrolan kecil mengiringi cangkrukan di sore hari itu.
Dimanjakan pemandangan hutan dan perbukitan, kehidupan warga Dusun Blogong, Desa Gumeng, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto terlihat tenang. Dusun itu sepi. Akses jalan yang buruk memaksa warga untuk menahan diri keluar dari kampung.
Jalanan terjal dan mendaki merupakan rute yang harus ditempuh agar sampai di Dusun Blogong, satu wilayah permukiman yang jauh dari keramaian. Tidak ada penerangan sama sekali di sepanjang jalan dari kampung menuju jalan raya. Lokasinya yang berada di balik bukit,memaksa kita untuk ekstra hati-hati.
Dari gapura masuk, hanya ada dua rumah dan satu musala. Hampir tak terlihat warga berlalu-lalang di jalan kampung.Mereka lebih suka “mendekam”di dalam rumah setelah seharian di beraktivitas sawah. Kampung ini berjarak sekitar lima kilometer dari Jalan Raya Gondang–Pacet.
Tak banyak warga Kabupaten Mojokerto yang tahu keberadaan kampung ini meski sebenarnya sudah ada sejak masa pendudukan Belanda. Hidup dengan segala keterbatasan. Itulah yang dialami warga Dusun Blogong. Hanya dihuni 24 kepala, wilayah ini tak memilik kepala dusun.Untuk urusan administrasi, mereka harus menempuh jarak yang sangat jauh supaya sampai ke kantor desa.
”Kepala dusun ikut Dusun Gumeng,” ungkap Arifin, salah satu warga.
Pria berumur 71 tahun ini menuturkan,warga sudah terbiasa dengan hidup yang apa adanya. Bahkan listrik saja baru mereka nikmati beberapa tahun terakhir. Itu pun berkat kerelaan salah satu pengusaha peternakan yang memberikan meteran listrik untuk dipakai warga sekampung.
”Meteran listrik hanya satu.Dan itu jaraknya dua kilometer dari pemukiman,” ungkapnya.
Lima rumah dan satu musala yang menggunakan satu meteran listrik,memaksa warga untuk berhemat daya. Sekadar untuk menyalakan televisi, mereka harus rela bergantian. Tapi satu rumah tetap membayar ongkos ratarata Rp70.000 per bulan.
”Kalau pakai listrik berdaya tinggi, kami harus izin dulu.Contohnya kalau mau menyalakan televisi,” katanya.
Lalu apa yang sudah dilakukan pemerintah? Bagi warga pemerintah seakan tutup mata. Arifin menyebutkan, sejak tinggal di dusun ini sekitar 38 tahun lalu, hanya sekali dia menerima bantuan dari pemerintah.
”Bantuan kompensasi BBM. Raskin pun kami tak menerima,” ujarnya.
Perjuangan keras juga harus dilakukan anak-anak. Untuk sekolah,siswa SD harus berjalan lima kilometer melewati hutan dan perbukitan. Saat musim hujan, tak jarang siswa terpaksa membolos karena alam yang tak bersahabat. ”Serba jauh, tapi kami hidup damai di sini,” ujarnya.
Dimanjakan pemandangan hutan dan perbukitan, kehidupan warga Dusun Blogong, Desa Gumeng, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto terlihat tenang. Dusun itu sepi. Akses jalan yang buruk memaksa warga untuk menahan diri keluar dari kampung.
Jalanan terjal dan mendaki merupakan rute yang harus ditempuh agar sampai di Dusun Blogong, satu wilayah permukiman yang jauh dari keramaian. Tidak ada penerangan sama sekali di sepanjang jalan dari kampung menuju jalan raya. Lokasinya yang berada di balik bukit,memaksa kita untuk ekstra hati-hati.
Dari gapura masuk, hanya ada dua rumah dan satu musala. Hampir tak terlihat warga berlalu-lalang di jalan kampung.Mereka lebih suka “mendekam”di dalam rumah setelah seharian di beraktivitas sawah. Kampung ini berjarak sekitar lima kilometer dari Jalan Raya Gondang–Pacet.
Tak banyak warga Kabupaten Mojokerto yang tahu keberadaan kampung ini meski sebenarnya sudah ada sejak masa pendudukan Belanda. Hidup dengan segala keterbatasan. Itulah yang dialami warga Dusun Blogong. Hanya dihuni 24 kepala, wilayah ini tak memilik kepala dusun.Untuk urusan administrasi, mereka harus menempuh jarak yang sangat jauh supaya sampai ke kantor desa.
”Kepala dusun ikut Dusun Gumeng,” ungkap Arifin, salah satu warga.
Pria berumur 71 tahun ini menuturkan,warga sudah terbiasa dengan hidup yang apa adanya. Bahkan listrik saja baru mereka nikmati beberapa tahun terakhir. Itu pun berkat kerelaan salah satu pengusaha peternakan yang memberikan meteran listrik untuk dipakai warga sekampung.
”Meteran listrik hanya satu.Dan itu jaraknya dua kilometer dari pemukiman,” ungkapnya.
Lima rumah dan satu musala yang menggunakan satu meteran listrik,memaksa warga untuk berhemat daya. Sekadar untuk menyalakan televisi, mereka harus rela bergantian. Tapi satu rumah tetap membayar ongkos ratarata Rp70.000 per bulan.
”Kalau pakai listrik berdaya tinggi, kami harus izin dulu.Contohnya kalau mau menyalakan televisi,” katanya.
Lalu apa yang sudah dilakukan pemerintah? Bagi warga pemerintah seakan tutup mata. Arifin menyebutkan, sejak tinggal di dusun ini sekitar 38 tahun lalu, hanya sekali dia menerima bantuan dari pemerintah.
”Bantuan kompensasi BBM. Raskin pun kami tak menerima,” ujarnya.
Perjuangan keras juga harus dilakukan anak-anak. Untuk sekolah,siswa SD harus berjalan lima kilometer melewati hutan dan perbukitan. Saat musim hujan, tak jarang siswa terpaksa membolos karena alam yang tak bersahabat. ”Serba jauh, tapi kami hidup damai di sini,” ujarnya.
(azh)