Komunitas belajar Jawa kuno Disuguhi Benda Purbakala

Jum'at, 27 Januari 2012 - 08:16 WIB
Komunitas belajar Jawa...
Komunitas belajar Jawa kuno Disuguhi Benda Purbakala
A A A
Sindonews.com - Memang tak banyak orang yang masih tertarik belajar Bahasa Jawa Kuno.Selain dianggap sulit,tak banyak pula tempat untuk belajar bahasa Jawa. Satu di antara sedikit tempat belajar Bahasa Jawa itu adalah museum Balai Pelestarian Peninggalan Purbaka (BP3) Trowulan.

Di tempat ini terdapat sebuah komunitas Bahasa Jawa Kuno yang telah eksis sejak beberapa tahun terakhir. ”Ini adalah bahasa yang dipakai pada abad ke empat,” ujar seorang pemuda kepada delapan pemuda lain,yang tampak sangat serius menyimak rangkaian kata di papan tulis. Pemuda berambut klemis itu adalah Rakaihino,ahli bahasa Jawa Kuno asal Kota Malang.

Beberapa bulan terakhir, dia menjadi ketua komunitas bahasa Jawa kuno di museum Trowulan.”Yang kita bahas di sini bukan Bahasa Jawa baru,bukan yang hanacarakaitu. Tapi yang jauh sebelumnya,” terang pemuda yang akrab disapa Raka ini. Bahasa Jawa baru memang masih banyak diajarkan di sekolah- sekolah.Namun Bahasa Jawa? Tak satu pun sekolah yang mengajarkan bahasa ini di bangku kelas.

Bahasa Jawa Kuno dipelajari di tingkat perguruan tinggi,itu pun pada jurusan- jurusan tertentu seperti Satra Jawa atau Arekologi. ”Dan memang tak mudah untuk mencari tempat belajar Bahasa Jawa Kuno,”ungkapnya.

Fenomena ini menggugah Raka untuk uri-uri budaya Jawa,khususnya Majapahit melalui komunitas Bahasa Jawa Kuno. Pemilihan museum Trowulan sebagai tempat belajar dianggap sangat tepat karena dengan begitu, anggota komunitas bisa lebih mudah mempraktikkan teori.

Komunitas yang rutin bertemu pada setiap hari Sabtu, minggu pertama dan ketiga ini memfokuskan pembahasan pada Bahasa Jawa Kuno,yang pernah populer pada abad ke IV-XVI.Mulai dari abjad Pallawa, Sansekerta,hingga huruf pada masa millenium I. ”Sejarah juga kita selipkan.Karena keduanya saling berhubungan,” katanya. Rakaihino meyakini, belajar bahasa Jawa kuno tak begitu sulit.

Kuncinya pun hanya dengan kontinyuitas dan praktik.”Selama ini,orang yang mampu membaca bahasa di prasasti,benda-benda purbakala, justru mereka yang berasal dari negara lain.Padahal itu bahasa Jawa.Kayaknya kita ini orang yang bodoh saja,” tegasnya. Kepala museum Trowulan, Wicaksono Dwi Nugroho menegaskan, sampai sejauh ini, komunitas tersebut memang sangat minim peminat.

Pasalnya, minimnya kesadaran masyarakat terhadap budaya, menjadi salah satu penyebabnya.” Saya berharap bisa terus berkembang.Biar budaya kita bisa terus berkembang,”kata. (wbs)
()
Berita Terkini
Kaesang Ungkap Dewan...
Kaesang Ungkap Dewan Pembina PSI Mulai Turun ke Daerah Akhir Juni
1 jam yang lalu
MNC Vision Network-MNC...
MNC Vision Network-MNC Peduli Salurkan Bantuan Seragam dan Sembako di Panti Asuhan Anak Ceria Indonesia Depok
8 jam yang lalu
Resmi Dibuka, DAIKIN...
Resmi Dibuka, DAIKIN Proshop Alvamega Hadirkan Solusi Tata Udara Premium di Serpong
9 jam yang lalu
300 Siswa-Warga Dapatkan...
300 Siswa-Warga Dapatkan Pemeriksaan Mata dan Kacamata Gratis
9 jam yang lalu
Bongkar Gudang Penyimpanan...
Bongkar Gudang Penyimpanan Kosmetik Impor Ilegal di Tangerang, BPOM Ungkap Modus Operandi dan Peredaran
9 jam yang lalu
Stop Polemik, Prof Dede:...
Stop Polemik, Prof Dede: Pengelolaan Yayasan Diserahkan ke Pemerintah melalui UIN Jakarta
11 jam yang lalu
Infografis
Keunikan Macan Tutul...
Keunikan Macan Tutul Jawa di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved