Ketika Biduan Pun Sepi Job saat Wabah Corona

loading...
Ketika Biduan Pun Sepi Job saat Wabah Corona
Ketika Biduan Pun Sepi Job saat Wabah Corona
KOTAWARINGIN BARAT - Dampak mewabahnya virus corona (COVID-19) di Indonesia membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan kepada warga untuk tetap di rumah, social distancing, dan phsycal distancing.

Kebijakan ini menjadi dilema di kalangan masyarakat. Di satu sisi, masyarakat harus mematuhi imbauan pemerintah agar mata rantai penyebaran corona bisa terputus. (Baca juga: Pulang dari Malaysia, Warga Tapteng PDP Corona Meninggal)

Namun di sisi yang lain, masyarakat pun berat untuk menjalani imbauan ini. Terutama bagi mereka yang menggantungkan penghasilan dari keramaian orang atau kumpulan orang.

Salah satunya profesi biduan yang ikut terimbas hebat karena pendemik corona ini. Betapa tidak, atas wabah ini, pemerintah pun melarang acara pernikahan. Padahal, para biduan ini mengandalkan acara pernikahan untuk menafkahi hidup mereka.



Selama larangan acara resepsi pernikahan dan even yang melibatkan orang banyak, maka tidak akan ada pekerjaan untuk para biduan.
Salah satu biduan cantik asal Pangkalan Bun, Citra Agustina, mengaku harus mengetatkan ikat pinggang selama beberapa bulan terakhir ini. “Bukan cuma perias pengantin yang sepi job, aku malah lebih parah, sama sekali tidak ada job menyanyi,” ungkap ibu satu anak ini, Rabu (8/4/2020) sore.

Warga Kelurahan Baru ini menceritakan, kalau rias pengantin mungkin masih ada sedikit pekerjaan saat akad nikah. “Kalau usaha musik dan nyanyi ini mati total,” ujar biduan paling laris di Pangkalan Bun ini.

Terhitung sejak Maret hingga April 2020, ada belasan pekerjaan nyanyi di acara resepsi pernikahan yang sebenarnya sudah diterimanya. Namun, semua itu harus dibatalkan. “Bulan Maret ada 5 job nyanyi dibatalkan, kemudian sampai April ini ada lagi 11 job dibatakan. Mulai acara pernikahan di gedung sampai di rumah semua dibatalkan. Dan yang terakhir ini untuk mengisi acara motor di Lamandau juga dibatalkan,” ungkap biduan berusia 28 tahun ini.



Dia mengaku, tarif bernanyi yang diterimanya mulai dari yang termurah Rp350.000 hingga Rp2 juta. “Saya tarif bernyanyi berbeda-beda dan lihat siapa orangnya. Kalau orang biasa ya sekitar Rp350.000-Rp1 jutaan itu di dalam Kota Pangkalan Bun. Kalau luar kota bisa mencapai Rp1,5 juta - Rp2 juta,” ujarnya.

Dia pun berharap agar wabah corona ini cepat selesai dan masyarakat bisa kembali beraktivitas seperti biasa. “Ya karena pekerjaan saya sebagai biduan saja. Sekarang hanya berdiam di rumah, tidak ada usaha. Cuma berhemat pengeluaraan dari hasil pemasukan yang ada saja,” paparnya.
(nbs)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top