Giri Kedaton, dari Pesantren Menjelma Jadi Kerajaan

Jum'at, 20 Desember 2019 - 05:00 WIB
Giri Kedaton, dari Pesantren...
Giri Kedaton, dari Pesantren Menjelma Jadi Kerajaan
A A A
Giri Kedaton atau Kerajaan Giri berlokasi di Jalan Sunan Giri Gang XIII H. Giri, merupakan Pegunungan Giri di wilayah Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Kedaton adalah sebutan cikal bakal kerajaan.

Jadi, Giri Kedaton, pesantren yang jadi cikal bakal kejaraan Giri. Untuk menuju lokasi, sesudah di gang sesudah Telaga Pegat, Kebomas, ada jalan setapak berupa tangga naik.

Di pintunya, ada gepura yang menandakan bahwa ada situs Giri Kedaton. Hanya bisa dilalui dengan jalan kaki. Kalaupun pakai motor, hanya sampai di 10 meter pertama.

Tangganya sudah tertata. Pejalan kali pun dibuat nyaman. Sepuluh meter sebelum dataran Giri, ada makan Mbah Puno. Naik lagi, ada lima tingkat dataran. Dengan puncak ada Masjid Giri Kedaton.

Sisi Selatan ada makam putra pertama Sunan Giri, Raden Supeno. Sisi Utara ada lima makam berderet. Menurut Mbah Mukhtar (67), juru rawat, makam itu para petinggi Kerajaan Mataram.

“Itu makamnya Mbah Larus salah satu petinggi Kerajaan Mataram. Sebab, Kerjaan Giri Kedaton dikuasai Mataram, setelah keturunan ketujuh, Giri Kedaton runtuh,” katanya saat berbincang santai dengan SINDOnews.com.

Selain masjid dan makam, kemegahan dan kemakmuran Kerajaan Giri Kedaton masih terlihat. Di antaranya ada kolam yang dipakai mandi keluarga dan tempat berwudlu. Bahkan, di sebelah baratnya ada kolam air minum.

“Dari tutur-tinutur keluarga yang menjadi juru rawat. Kerajaan Giri Kedaton merupakan kerajaam besar di Indonesia Timur. Wilayahnya sampai Lampung,” ujah Mbah Mukhtar.

Kejayaan Kerajaan Giri Kedaton yang merupakan cikal bakal Kota Gresik itu, tidak ujug-ujug. Namun, melalui tirakat dengan cara beruzla yang luar biasa yang dilakukan Raden Paku alias Sunan Giri.

Dalam catatan Mbah Mukhtar, untuk memilih Pegununan Giri sebagai lokasi tinggal Sunan Giri, banyak rintangan. Berbekal segenggam tekstur tanah yang diberikan ayahandanya dari Persia, Maulana Iskak.

Saat itu, sebelum Tahun 1486 Masehi. Sebab, tahun itu, merupakan tahun berdirinya Masjid Giri Kedaton. Sunan Giri memulai pertualangannya ke Tanah Jawa, tepatnya di Kadipaten Gresik.

Dari rumah ibu angkatnya, Nyi Ageng Pinatih di Kebungson, salah satu desa yang dekat dengan Kesyahbandaran Gresik. Raden Paku muda memulai pertualangan.

Melalui Margonoto yang saat ini jadi Jalan Veteran naik ke Pegunungan Pertukangan di Putri Cempo. Sunan Giri muda yang dikawal dua tentara hebat dari Persia pun melakukam riyadoh atau tirakat memohon petunjuk Tuhan Yang Maha Esa.

Di bukit itu tidak ada petunjuk. Sunan Giri dengan Syech Pujo bersama Syech Grigis menuju Pegunungan Batang atau Gulomantung. Di lokasi itu, Sunan Giri melakukan tirakat selama 40 hari. Lagi-lagi belum ada petunjuk.

Namun, Sunan Giri tidak putis asa. Tetap bersabar dengan menggenggam tanah dari ayahnya, Maulana Iskak. Di Putri Cempo melanjutkan uzla selama 40 hari lagi. Dan, meminta Syech Pujo serta Grigis pulang untuk datang lagi di malam ke-40 beruzla.

“Nah saat itulah, malam ke-40, ada bintang jatuh di Bukit Giri. Sunan Giri pun mendatangi lokasi itu. Saat dicocokkan dengan tekstur tanah ayahnya, ternyata sama,” beber Mbah Mukhtar lagi.

Dari situ, diputuskan bahwa Sunan Giri memulai siar Islam di Bukit Giri. Selain menjadi tempat tinggal, juga menjadi pesantren. Pesantrennya Giri Kedaton. Didirikan pada 1486 Masehi.

Pesantren Giri Kedaton pun menjadi luar biasanya. Santri-santrinya berasal dari belahan nusantara. Tidak hanya itu, Sunan Giri yang menjadi salah satu Wali Songo, menjadikan Giri Kedaton sebagai tempat diakusinya para wali dalam penyebaran Islam di Tanah Jawa.

Karena itulah, atas saran Sunan Bonang dan diperkuat para wali lainnya, Pesantren Giri Kedaton dijadikan pusat pemerintahan untuk wilayah Gresik dan sekitranya.

Tepat, 9 Maret 1487 Masehi, Pesantren Giri Kedaton menjadi pusat pemerintahan. Raden Paku atau Sunan Giri pun dinobatkan sebagai raja yang bergelar Prabu Satmata.

“Tahun itulah yang diperingati juga sebagai Hari Jadi Gresik,” ujar Dr Syifaul Qulub, Ketua STAI Darut Taqwa yang pernah melakukan riset atas Giri Kedaton.

Giri Kedaton bukan lagi pesantren. Meski begitu, pesantren menjadi bagian dari kejaraan. Bahkan, pelan dan pasti, Giri Kedaton mencapai kejayaan, khususnya Indonesia Timur. Bahkan, sampai saat ini ada situs peninggalan Giri Kedaton di wilayah Lamongan.

Kondisi itulah yang cukup mengkhawatirkan Kerajaan Majapahit. Meski tidak sejaya era Hayam Wuruk dengan Patih Gajah Mada, namun pemerintahan Majapahit was-was.

Berbagai cara dilakukan untuk meruntuhkan pemerintahan Giri Kedaton. Namun, dengan berbagai upaya, Giri Kedaton bertahan hingga keturunan ke-VII Sunan Giri.

“Saat itulah, Giri Kedaton diambil alih Kerajaan Mataram. Sekarang tinggal puing-puing kejayaannya,” tegas Syfaul Qulub.

Kejayaan Giri Kedaton, bukan hanya ditunjang pemerintahan yang kuat. Namun, juga punya pelabuhan yang menjadi alur keluar masuk pedagang dari Timur Tengah dan China.

Sehingga secara ekonomi Kerajaan Giri Kedaton yang dikendalikan dari Pegunungan Giri cukup kuat. Bahkan, kondisi masyarakatnya pun cukup sejahtera.

Hidup rukun, meski tidak seagama. Buktinya, di dekat pelabuhan ada kampung pecinan yang ditandai dengan kelenteng. Juga ada kampung Arab.

Namun, cukup disayangkan, Giri Kedaton tinggal situs. Bahkan, kejayaan pemerintahan peninggalan Sunan Giri itu tidak tampak. Tinggal bikit dengan musala.

Juru Rawat Giri Kedaton, Mbah Mukhtar pun menyatakan, bila situs budaya itu masih banyak yang bisa dieksplor. Salah satunya, trap bentuk bangunan kerajaan.

“Data sejarah itu Giri Kedaton punya tujuh trap. Tapi sekarang baru ditemukan lima trap bangunan,” ungkapnya.

Luasan area, lanjut Mbah Mukhtar, juga dari tahun ke tahun berkurang. Luasan asli Giri Kedaton mencapai 5 hektare lebih. Ternyata sekarang tinggal 1 hektare.

“Itupun rehabilitasi Giri Kedaton dilakukan terakhir 2002 sampai 2005. Padahal, Giri Kedaton inilah cikal bakal Kota Gresik, harusnya ada perhatian khusus,” jelasnya.
(shf)
Berita Terkait
Ratu Zaleha, Cucu Pangeran...
Ratu Zaleha, Cucu Pangeran Antasari yang Tangguh Melawan Belanda
Sejarah Baturusa, Tempat...
Sejarah Baturusa, Tempat Rusa Melahirkan Anak di Tengah Laut Mandailing Natal
Raden Sungging, Bangkit...
Raden Sungging, Bangkit dari Kubur Setelah Dibunuh Belanda dan Makamnya Dijaga Sepekan
Kisah Jaka Tingkir Menaklukan...
Kisah Jaka Tingkir Menaklukan Puluhan Buaya saat Menuju Demak
Pertarungan Pangeran...
Pertarungan Pangeran Purbaya Melawan Pasingsingan dan Berdirinya Masjid di Kalisoka
Syekh Maulana Muhammad...
Syekh Maulana Muhammad Asnawi, Tokoh Awal Penyebar Islam di Kebumen
Berita Terkini
Parapuar 2026 Hadirkan...
Parapuar 2026 Hadirkan Senja, Budaya dan Musik di Labuan Bajo
1 jam yang lalu
Tragis! Wanita Tewas...
Tragis! Wanita Tewas usai Jatuh dari Lantai 27 Apartemen di Cempaka Putih
2 jam yang lalu
KORPRI Lebak Tantang...
KORPRI Lebak Tantang 1.700 Pelari di Ajang RUNK5BITUNG 2026
4 jam yang lalu
Momen Siswa SRMP 17...
Momen Siswa SRMP 17 Tabanan Curhat ke Prabowo
5 jam yang lalu
Tembus 16,46 Juta Pengguna,...
Tembus 16,46 Juta Pengguna, LinkUMKM BRI Sukses Dorong Pelaku Usaha Naik Kelas
5 jam yang lalu
Ciangir Disiapkan Jadi...
Ciangir Disiapkan Jadi Penampungan Kompos, Pramono Yakin 9.000 Ton Sampah Jakarta Bisa Tertangani
6 jam yang lalu
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved