Gunung Merapi Masih Sering Erupsi, Hal Ini Ditengarai Pemicunya

Sabtu, 09 November 2019 - 09:41 WIB
Gunung Merapi Masih...
Gunung Merapi Masih Sering Erupsi, Hal Ini Ditengarai Pemicunya
A A A
SLEMAN - Merapi yang berada di perbatasan Sleman DIY, Magelang, Boyolali dan Klaten, Jawa Tengan, kembali mengeluarkan awan panas letusan, Sabtu (9/11/2019) pagi. Kolom abu teramati berawarna putih hingga kelabu denga intensitas sedang hingga tebal.
Erupsi Merapi masih terjadi relatif cukup sering. Lantas apa penyebab Gunung Merapi kerap erupsi? Dikutip dari laman Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), http://merapi.bgl.esdm.go.id, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi karakteristik atau perilaku erupsi, di antaranya sifat magma, termasuk komposisi kimia, kekentalan, kandungan gas dan air. Kemudian, struktur dan dimensi pipa saluran magma, serta posisi serta volume kantong magma yang menentukan besarnya pasokan. Besarnya suplai magma dari zona yang lebih dalam adalah motor utama dari aktivitas vulkanis dan yang membuat sistim vulkanis berjalan.
Suplai magma Merapi dari kedalaman terkait dengan sistim tektonik yaitu subduksi oleh tumbukan antara lempeng samudera Indo-australia dan lempeng benua Asia. Dalam zona subduksi, pada kedalaman antara 60-150 km, terjadi pelelehan karena tekanan dan suhu tinggi. Pelelehan tersebut memproduksi magma asal, disebut juga magma primitif. (Baca juga: Gunung Merapi Semburkan Awan Panas Setinggi 1.500 Meter)

Kedalaman zona pelelehan, tingginya tekanan dan suhu mempengaruhi jenis atau komposisi kimia magma primitif. Tiga parameter ini menyebabkan gunung api di Indonesia mempunyai magma yang komposisinya berbeda satu sama lain. Magma primitif akan bermigrasi menuju permukaan yang digerakan oleh energi permukaan dari cairan hasil lelehan, faktor gravitasi dan efek tektonik.

Dalam proses migrasi magma sistim tektonik termasuk evolusinya merupakan faktor penting. Aktivitas tektonik menghasilkan zona lemah yang memberi kemudahan bagi magma untuk menerobos mencapai permukaan menjamin kontinuitas suplai magma. Konstelasi tektonik ini juga yang memungkinkan, dua gunung yang berdekatan bisa berbeda keadaannya, misalnya yang satu "mati", yang lain sangat aktif.

Erupsi Merapi terjadi relatif sering ditengarai karena faktor geometri internal system vulkanis. Dari data kegempaan Merapi tahun 1991 yang kaya gempa vulkanik dari berbagai jenis, terlihat bahwa distribusi gempa Merapi lateral tidak jauh dari garis vertikal puncak Merapi ke bawah dan tidak tersebar luas. (Baca juga: Gunung Merapi Muntahkan 2 Kali Lava Pijar dan 3 Kali Awan Panas)

Pada kedalaman 1,5 - 2 km di bawah puncak, tidak dijumpai adanya hiposenter gempa. Demikian pula pada kedalaman kurang dari 5 km. Gempa volkano-tektonik (VT) memerlukan medium yang solid dan bisa patah (brittle) sehingga zona-zona tidak terdapat hiposenter dianggap zona yang lembek (duktil) karena pengaruh suhu tinggi magma.

Dalam proses perjalanan menuju ke permukaan magma memasuki zona tampungan magma, dapat disebut sebagai kantong magma atau dapur magma apabila ukurannya lebih besar. Di Merapi terdapat dua zona tampungan magma yang menentukan sifat khas Merapi. Karena letaknya relatif tidak jauh, maka kenaikan tekanan di dapur magma akan menyebabkan aliran magma menuju kantong magma di atasnya menyebabkan naiknya tekanan di sana.

Dalam hal ini kantong magma berfungsi sebagai katup bagi magma yang naik ke permukaan. Waktu tenang antar erupsi di Merapi merupakan fase dimana terjadi proses peningkatan tekanan magma di dalam kantong magma. Apabila tekanan melebihi batas ambang tertentu magma akan keluar dalam bentuk erupsi explosive atau efusif berupa pembentukan kubah lava. (Baca juga: 7 Kali Muntahkan Lava Pijar, Gunung Merapi Masih Berstatus Waspada)

Volume produk yang dikeluarkan kira-kira sebesar 0,1% dari volume kantong/dapur magma. Produk erupsi Merapi rata-rata 10 juta m3 dalam suatu erupsi, bahkan sering di bawah 4 juta m3, yang artinya volume kantong magma relative kecil. Sangat kecil bila dibandingkan dengan Kilauea dan Reunion yang dalam sekali fase erupsi mengeluarkan masing–masing lebih dari 40 juta m3 dan 100 juta m3 lava. Kantong magma dangkal di Merapi menyebabkan hanya dengan peningkatan tekanan yang tidak terlalu besar sudah dapat mengalirkan magma cukup lancar sampai permukaan tanpa perlu waktu panjang.
(thm)
Berita Terkait
Erupsi, Gunung Marapi...
Erupsi, Gunung Marapi Semburkan Abu Vulkanik Setinggi 800 Meter di Atas Puncak
Keren, Mahasiswi Ini...
Keren, Mahasiswi Ini Bikin Solusi untuk Minimalisir Korban Erupsi Gunung Berapi
BPPTKG Prediksi Erupsi...
BPPTKG Prediksi Erupsi Merapi Menuju Selatan dan Tenggara
PVMBG: Gunung Marapi...
PVMBG: Gunung Marapi Telah Alami Erupsi Sebanyak 18 Kali di Awal 2023
Awas! Gunung Merapi...
Awas! Gunung Merapi Erupsi Luncurkan Wedus Gembel Sejauh 1.300 Meter
BNPB Tegaskan Letusan...
BNPB Tegaskan Letusan Gunung Semeru Tidak Memicu Tsunami
Berita Terkini
Breaking News! Gempa...
Breaking News! Gempa M5,8 Guncang Bone Bolango Gorontalo
44 menit yang lalu
Perjalanan KRL Tanah...
Perjalanan KRL Tanah Abang-Duri Terlambat Imbas Kebakaran di Sekitar Rel
2 jam yang lalu
Bripka Dedy Wiratama...
Bripka Dedy Wiratama yang Bekingi Kampung Narkoba Samarinda Dipecat
8 jam yang lalu
GBK Diprediksi Dipadati...
GBK Diprediksi Dipadati Puluhan Ribu Pengunjung Akhir Pekan Ini, Dishub Siapkan Rekayasa Lalin
8 jam yang lalu
Soal Aturan Baru Kemenkes,...
Soal Aturan Baru Kemenkes, Bupati Bondowoso Komitmen Lindungi Petani Tembakau
8 jam yang lalu
Mengukur Kunci Sukses...
Mengukur Kunci Sukses Daerah, RGSS Resmi Hadir
9 jam yang lalu
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved