Tawuran di Manggarai, Psikolog Minta Akar Masalah Diselesaikan dengan Baik
Rabu, 30 Oktober 2019 - 08:28 WIB
Tawuran di Manggarai, Psikolog Minta Akar Masalah Diselesaikan dengan Baik
A
A
A
JAKARTA - Kasus tawuran yang terjadi di Manggarai, Jakarta Selatan, dianggap hal yang biasa dan turun-temurun. Pasalnya, tawuran di Manggarai kerap terjadi dan selalu berulang tanpa diketahui akar masalah sebenarnya.
"Apa yang sebenarnya menjadi sumber masalah tidak pernah diselesaikan dengan baik, sehingga sangat mudah dipicu lagi oleh hal remeh," kata Psikolog Unieversitas Pancasila (UP) Aully Grashinta kepada SINDOnews, Rabu (30/10/2019).
Karena permasalahan awal tidak pernah terselesaikan dengan baik, kata dia, maka ketika ada pemantik akan menjadi besar. Jangankan hal besar, hanya hal kecil yang sifatnya sangat sepele pun bisa menjai pemantik tawuran terjadi di wilayah tersebut. Sehingga ada baiknya perlu diusut akar permasalahannya untuk mencari solusi dan mencegah tawuran terjadi.
"Ya banyak faktor memang yang menjadi pendorong munculnya tawuran. Misalnya karena tidak ada pekerjaan, sehingga banyak energi yang perlu disalurkan," paparnya. (Baca juga: Atasi Tawuran Manggarai, Polisi Segera Bentuk Satgas Anti-tawuran )
Jika kondisi ini dibiarkan, kata dia, bukan tidak mungkin akan menjadi permasalahan yang terus terjadi sampai kapanpun juga. Perlu diingat juga, kata dia, saat ada pemicu yang bisa memancing maka perkelahian bisa terjadi lagi kemudian hari.
"Adanya pemicu atau trigger menjadi sarana untuk meluapkan energi ini. Masalah ketidaktaan pada norma sosial, dorongan mencari hiburan atau keramaian, ini memicu terjadinya tawuran," pungkasnya.
Menurut Shinta, mengapa perkelahian di Manggarai terus terjadi lebih karena tidak ada penyelesaian masalah utama antar kelompok berbeda tersebut. Ditambah lagi, generasi sebelumnya akan mengajak generasi dibawahnya untuk ikut serta dalam perkelahian yang tak kunjung usai tersebut.
"Selama masalah utama tidak selesai ya akan terus menjadi pemicu. Masalahnya yang lebih tua akan mengajak adik-adik yang lebih muda. ‘Menanamkan’ kebencian yang sama dan akhirnya menjadi tawuran turun temurun tanpa kejelasan sebenarnya masalahnya apa," tuturnya.
Shinta menuturkan, kelompok masyarakat yang kurang beruntung secara ekonomi, pendidikan, kasih sayang dari keluarga, akan sangat rentan terpicu hal-hal seperti ini. (Baca juga: Tawuran Warga di Stasiun Manggarai Dipicu Saling Ejek di Media Sosial )
"Mereka sendiri dalam kondisi stres dengan hidup sehingga sedikit triger bisa memacu tawuran yang lebih besar yang sebenarnya merupakan pelampiasan dari kesulitan hidupnya sendiri," katanya.
"Apa yang sebenarnya menjadi sumber masalah tidak pernah diselesaikan dengan baik, sehingga sangat mudah dipicu lagi oleh hal remeh," kata Psikolog Unieversitas Pancasila (UP) Aully Grashinta kepada SINDOnews, Rabu (30/10/2019).
Karena permasalahan awal tidak pernah terselesaikan dengan baik, kata dia, maka ketika ada pemantik akan menjadi besar. Jangankan hal besar, hanya hal kecil yang sifatnya sangat sepele pun bisa menjai pemantik tawuran terjadi di wilayah tersebut. Sehingga ada baiknya perlu diusut akar permasalahannya untuk mencari solusi dan mencegah tawuran terjadi.
"Ya banyak faktor memang yang menjadi pendorong munculnya tawuran. Misalnya karena tidak ada pekerjaan, sehingga banyak energi yang perlu disalurkan," paparnya. (Baca juga: Atasi Tawuran Manggarai, Polisi Segera Bentuk Satgas Anti-tawuran )
Jika kondisi ini dibiarkan, kata dia, bukan tidak mungkin akan menjadi permasalahan yang terus terjadi sampai kapanpun juga. Perlu diingat juga, kata dia, saat ada pemicu yang bisa memancing maka perkelahian bisa terjadi lagi kemudian hari.
"Adanya pemicu atau trigger menjadi sarana untuk meluapkan energi ini. Masalah ketidaktaan pada norma sosial, dorongan mencari hiburan atau keramaian, ini memicu terjadinya tawuran," pungkasnya.
Menurut Shinta, mengapa perkelahian di Manggarai terus terjadi lebih karena tidak ada penyelesaian masalah utama antar kelompok berbeda tersebut. Ditambah lagi, generasi sebelumnya akan mengajak generasi dibawahnya untuk ikut serta dalam perkelahian yang tak kunjung usai tersebut.
"Selama masalah utama tidak selesai ya akan terus menjadi pemicu. Masalahnya yang lebih tua akan mengajak adik-adik yang lebih muda. ‘Menanamkan’ kebencian yang sama dan akhirnya menjadi tawuran turun temurun tanpa kejelasan sebenarnya masalahnya apa," tuturnya.
Shinta menuturkan, kelompok masyarakat yang kurang beruntung secara ekonomi, pendidikan, kasih sayang dari keluarga, akan sangat rentan terpicu hal-hal seperti ini. (Baca juga: Tawuran Warga di Stasiun Manggarai Dipicu Saling Ejek di Media Sosial )
"Mereka sendiri dalam kondisi stres dengan hidup sehingga sedikit triger bisa memacu tawuran yang lebih besar yang sebenarnya merupakan pelampiasan dari kesulitan hidupnya sendiri," katanya.
(mhd)