Lombok Timur Darurat Kekeringan

Selasa, 01 Oktober 2019 - 01:37 WIB
Lombok Timur Darurat...
Lombok Timur Darurat Kekeringan
A A A
LOMBOK TIMUR - Bupati Lombok Timur H. M. Sukiman Azmy akhirnya menetapkan tanggap darurat penanganan bencana kekeringan, sejak 11 September 2019.

Penetapan ini menyusul meluasnya titik kekeringan yang sebelumnya hanya 4 kecamatan menjadi 7 kecamatan dan 37 desa. "Benar, Pak Bupati sudah meningkatkan status penanganan kekeringan dari siaga menjadi tanggap darurat," kata Kabid Logistik dan Kedaruratan BPBD Lotim, Lalu Rusnan, Senin 29 September 2019.

Status tanggap darurat ini, ungkapnya ditandai dengan kunjungan lapangan. Dia menjelaskan alasan penetapan status tersebut di antaranya, kemarau panjang, debit air yang berkurang dan permintaan air bersih dari warga meningkat. Situasi ini kemudian sebagai dasar kepala daerah menyatakan status kedaruratan itu.

Bersamaan dengan peningkatan status ini, Bupati juga membentuk pos komando tanggap darurat kekeringan yang bertugas melakukan pemantauan, menyusun rencana operasi dan mengajukan berbagai kebutuhan selama masa tanggap darurat.

Kekeringan tak hanya di wilayah yang biasa menjadi langganan kekeringan tiap tahun seperti Kecamatan Jerowaru dan Keruak. Kini meluas hingga 7 kecamatan yaitu Jerowaru, Keruak, Sakra Timur, Suela, Sambelia dan Sembalun. Sedangkan total warga yang terdampak kekeringan mencapai 5.000 kepala keluarga (KK).

Akibat kekeringan ini warga mulai kekurangan air bersih untuk kebutuhan sehari hari. Tak hanya pemerintah daerah, kepedulian pun datang dari berbagai instansi dan komunitas. Mereka menyalurkan air bersih ke warga yang terdampak kekeringan.

Sejak penetapan tanggap darurat, petugas BPBD bersama sejumlah SKPD mulai menyalurkan air bersih ke warga.Tiap hari mereka menerjunkan 12 mobil tangki untuk mendistribusikan air bersih. "Sebelumnya banyak pihak swasta yang melakukan pendistribusian, sekarang penyaluran air bersih kami tingkatkan untuk menjangkau seluruh warga yang terdampak,” ujarnya.

Pendistribusian ini, lanjut Rusnan dilakukan hingga 90 hari ke depan sampai Desember mendatang, sesuai masa tanggap darurat yaitu 90 hari. Sedangkan puncak kemarau diperkirakan pada Oktober ini. Selain distribusi air bersih, Pemerintah juga membangun sumur bor di sejumlah titik sebagai upaya jangka panjang.
(cip)
Berita Terkait
Awal Musim Kemarau 2024...
Awal Musim Kemarau 2024 Diprediksi Mundur, Ini Rincian Daerahnya
Puncak Kemarau di Maros...
Puncak Kemarau di Maros Diprediksi Pada Bulan Agustus
56% Wilayah Indonesia...
56% Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau Sejak Awal Juli 2023
37,7% Wilayah Indonesia...
37,7% Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau, BMKG: Waspada Dampak Kekeringan
BMKG Laporkan 21 Daerah...
BMKG Laporkan 21 Daerah di Indonesia Tidak Hujan Selama 2 Bulan Lebih
BMKG Laporkan 63% Wilayah...
BMKG Laporkan 63% Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau hingga Akhir Juli 2023
Berita Terkini
Gunung Semeru Erupsi,...
Gunung Semeru Erupsi, Luncurkan Abu Vulkanik 1,2 Km
21 menit yang lalu
Jaga Masa Depan, Pureco...
Jaga Masa Depan, Pureco dan LindungiHutan Tanam 300 Mangrove di Wonorejo
12 jam yang lalu
Momen Riuh di Gorontalo,...
Momen Riuh di Gorontalo, Massa Kompak Teriakkan Nama Seskab Teddy di Depan Presiden Prabowo
13 jam yang lalu
Mantan Kapolres Bima...
Mantan Kapolres Bima Terima Dana dari Bandar Narkoba, Pengacara: Tuduhan Mengada-ada
18 jam yang lalu
DPC Rampung di 9 Kecamatan,...
DPC Rampung di 9 Kecamatan, Partai Perindo Tubaba Tancap Gas Bentuk DPRt
20 jam yang lalu
Digugat Roy Suryo soal...
Digugat Roy Suryo soal Penggeledahan, Polda Metro Jaya Siap Hadir
21 jam yang lalu
Infografis
Iran-Israel Perang,...
Iran-Israel Perang, Ini Peta Pangkalan Militer AS di Timur Tengah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved