Kisah Parakanlima dan Pantangan Menikah dengan Tentara

Sabtu, 16 Maret 2019 - 05:00 WIB
Kisah Parakanlima dan...
Kisah Parakanlima dan Pantangan Menikah dengan Tentara
A A A
Peristiwa penyerangan Mataram ke benteng VOC di Batavia antara tahun 1628–1629 M membawa pengaruh cukup besar terhadap perkembangan daerah di sekitar Batavia dan Karawang, termasuk Purwakarta, Jawa Barat.

Di beberapa tempat muncul daerah-daerah atau perkampungan baru yang bersinggungan langsung dengan pasukan Mataram. Umumnya, setelah pasukan Mataram mengalami kegagalan dalam penyerangan tersebut. Salah satunya adalah Parakanlima, kini nama sebuah desa di Kecamatan Jatiluhur.

Menurut cerita rakyat setempat, sebelum pasukan Mataram menyerang Batavia, mereka membangun gudang-gudang perbekalan di sepanjang Sungai Cikao, yang melintasi daerah tersebut.

Pasukan Mataram dipimpin oleh lima orang ngabei yakni Rd. Ngabei Singawijaya, Rd. Ngabei Singadilaga, Rd. Ngabei Singadipura, Rd. Ngabei Singodimejo, dan Rd. Ngabei Singomenggolo, sehingga kemudian daerah tersebut dinamai Parakanlima. Ketika saatnya penyerangan ke Batavia tiba, kelima ngabei itu pergi meninggalkan Parakanlima dan tak pernah kembali lagi.

Menurut budayawan Purwakarta Budi Rahayu Tamsyah, kehadiran kelima ngabei tersebut di Parakanlima menyisakan kisah lain yang tak kalah menariknya. Salah seorang dari ngabei tersebut menikah dengan putri Patinggi Colobong, kampung yang berada di kawasan Parakanlima sekarang. Sayang, perkawinannya tak berlangsung lama.

"Karena sang ngabei harus pergi menunaikan tugasnya, bersama dengan pasukannya menyerang Batavia. Sebelum pergi, sang ngabei berjanji, akan kembali ke Colobong menemui istrinya," ujar Budi.

Sang istri, putri Patinggi Colobong, dengan setia menanti suaminya kembali. Hari berganti hari, bahkan sampai berganti bulan, yang dinanti tak kunjung datang. Bosan menanti, sampai akhirnya sang istri turun cadu (berpantrang), dia dan anak keturunannya pantang menikah dengan tentara.

Konon, sampai sekarang masih ada sebagian orang setempat yang memegang pantangan tersebut. Pantang menikah dengan tentara, bahkan lebih jauh lagi, pantang menjadi tentara.

Tentu saja seiring perkembangan zaman, pantangan itu mulai memudar dan sebagian warganya telah mengabaikan pantangan tersebut. Apalagi, banyak warga Parakanlima yang berinteraksi dengan orang-orang berpemikiran modern di Ibu Kota Jakarta. Pantangan itu hanya dinilai sebagai bentuk legenda masa lalu.
(zik)
Berita Terkait
Sejarah Kota Natal dan...
Sejarah Kota Natal dan Hubungannya dengan Kerajaan Pagaruyung
Sejarah Baturusa, Tempat...
Sejarah Baturusa, Tempat Rusa Melahirkan Anak di Tengah Laut Mandailing Natal
Gagal Meracuni Sawunggaling,...
Gagal Meracuni Sawunggaling, Belanda Murka dan Rakyat Surabaya Digilas
RS Simpang, Perjalanan...
RS Simpang, Perjalanan Penuh Wabah dan Penampung Korban Perang
Mengembalikan Identitas...
Mengembalikan Identitas Sejati Kota Medan sebagai Kota Perdagangan dan Saudagar
Kisah Purnawarman, Raja...
Kisah Purnawarman, Raja Tarumanegara Penunggang Gajah yang Miliki Kekuatan Bak Dewa Wisnu
Berita Terkini
Soroti Kasus Penyiksaan...
Soroti Kasus Penyiksaan di Bandung, Wakil Ketua DPRD Jabar Gagas Siskamling Digital
13 menit yang lalu
Gunung Semeru Erupsi...
Gunung Semeru Erupsi Setinggi 1,4 Km, PVMBG: Waspada Awan Panas dan Guguran Lava
1 jam yang lalu
BNN dan Bea Cukai Gagalkan...
BNN dan Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan 3,37 Ton Kuncup Bunga Kanabis Asal Thailand
10 jam yang lalu
Pemprov Jatim Dukung...
Pemprov Jatim Dukung BYD Tech-Culture Fest 2026
10 jam yang lalu
Gen Z Berekspresi, 510...
Gen Z Berekspresi, 510 STUDIOS Bawa Tren Self-Photo ke Lampung Selatan
10 jam yang lalu
Penampakan Lamborghini...
Penampakan Lamborghini hingga Aset Mewah Tersangka Aseng yang Disita Kejagung
11 jam yang lalu
Infografis
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved