Masjid Ini Tetap Kokoh Saat Tsunami Menerjang Tabuyung 2004 Silam

Jum'at, 28 Desember 2018 - 05:00 WIB
Masjid Ini Tetap Kokoh...
Masjid Ini Tetap Kokoh Saat Tsunami Menerjang Tabuyung 2004 Silam
A A A
Dibalik dahsyatnya gempa ataupun peristiwa tsunami, selalu ada keajaiban yang sulit diterima akal. Namun, itulah kebesaran Allah yang apabila Dia berkehendak, apapun bisa terjadi.

Masjid Nurul Iman adalah masjid yang terletak di Desa Tabuyung, Kecamatan Muara Batang Gadis, Kabupaten Mandaling Natal (Madina), Sumatera Utara. Masjid ini menjadi saksi bisu dahsyatnya peristiwa tsunami Aceh tahun 2004 dan Tsunami Nias 2005 lalu yang menerjang
pesisir pantai barat Sumatera termasuk daerah Tabuyung.

Tabuyung adalah desa pesisir di Pantai Barat Sumatera yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Jaraknya sekitar 4 jam perjalanan darat dari Kota Padangsidimpuan. Dari Kota Medan, ibukota Sumatera Utara bisa menghabiskan waktu 14 jam perjalanan darat.

Bagi masyarakat Tabuyung, masjid yang didirikan pada tahun 1980-an ini sangatlah istimewa. Meski bangunannya terbilang sederhana, namun keberadaannya sangat berarti bagi masyarakat Tabuyung.

Selain menjadi tempat ibadah dan berkumpulnya warga, masjid ini menjadi kebanggaan warga karena tidak rusak saat peristiwa tsunami Aceh dan Nias 2004 silam. Padahal, jarak masjid dengan bibir pantai kurang lebih hanya 200 meter.
Masjid Ini Tetap Kokoh Saat Tsunami Menerjang Tabuyung 2004 Silam
Ketika gelombang tsunami datang, hampir seluruh rumah penduduk di kampung itu hancur disapu air laut. Ajaibnya, masjid tersebut tidak tersentuh oleh air laut. Sejumlah masyarakat yang nekat lari ke dalam mesjid tidak merasakan tinggi dan derasnya gelombang tsunami. Padahal, tinggi gelombang tsunami pada saat itu mencapai 8 meter.

Saat tsunami surut, sejumlah masyarakat pergi ke kampung dan melihat hampir seluruh pemukiman penduduk datar dengan tanah, terkecuali Masjid Nurul Iman. Di dekat mesjid itu bersandar sebuah kapal yang ikut terseret gelombang tsunami, namun tidak merusak bangunan masjid. Di dalam masjid saat itu hanya ada orang buta yang sengaja diungsikan keluarganya ke dalam masjid pada saat gelombang pasang mulai naik.

Menurut cerita masyarakat setempat, dampak tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004 itu dirasakan masyarakat di desa itu pada sore hari. Sejumlah pertanda akan datangnya tsunami sudah terlihat. Namun, masyarakat tidak tahu bahwa itu pertanda tsunami. Pagi itu, air laut tiba-tiba surut dan mengering hingga ratusan meter.

Tak heran, ratusan masyarakat di kampung tersebut spontan mengambil ikan yang ikut terdampar akibat ketiadaan air. Seolah tidak akan terjadi bencana besar, masyarakat berebut ikut di tengah laut yang mengering. Setelah ikan-ikan itu terkumpul, warga membawa pulang dan memasaknya.

Sorenya, sekitar pukul 16.00 Wib, air laut tiba-tiba naik. Namun, masyarakat menganggap itu hal biasa. Semakin lama, air laut semakin tinggi, warga mulai berkemas-kemas dan berhamburan melarikan diri. Teriakan Allahu Akbar pun bergema dari mulut masyarakat yang lari dari terjangan air laut.

Sebagian masyarakat ada yang menyelamatkan diri dengan mengendarai sepeda motor, namun umumnya warga banyak yang berjalan kaki. Ada yang menggendong anak di tangan kiri dan kanan, sebagian lagi ada yang membawa pakaian untuk persiapan pengungsian.

Hal sama juga dirasakan masyarakat Tabuyung ketika peristiwa tsunami di Pulau Nias pada 28 Maret 2005. Jika dampak tsunami Aceh dirasakan pada sore hari, dampak tsunami Nias dirasakan pada malam hari, tepatnya sekitar pukul 22.00 WIB. Saat itu, masyarakat merasakan gempa yang kencang.

Khawatir akan terjadi tsunami, masyarakat yang masih trauma dengan kejadian tsunami di Aceh langsung berkemas dan keluar rumah dan lari mencari tempat aman. Tak lama setelah masyarakat keluar rumah, gelombang tsunami langsung datang dan kembali menyapu bersih rumah penduduk warga di kampung itu.

“Masjid ini dua kali saksi sejarah peristiwa tsunami di desa kami,” ujar Zulkifli Batubara, salah seorang warga setempat.Dia menjelaskan, yang lebih menyeramkan tsunami di Nias, karena kejadiannya pada malam hari. Saat itu, dia dan anggota keluarganya berencana mau tidur. Namun, tiba-tiba dirasakan gempa yang kencang."Spontan kami berkemas dan lari dari rumah, karena kami trauma dengan kejadian yang pertama," tuturnya mengenang peristiwa kelam tersebut.
Masjid Ini Tetap Kokoh Saat Tsunami Menerjang Tabuyung 2004 Silam
(rhs)
Berita Terkait
Ratu Zaleha, Cucu Pangeran...
Ratu Zaleha, Cucu Pangeran Antasari yang Tangguh Melawan Belanda
Sejarah Baturusa, Tempat...
Sejarah Baturusa, Tempat Rusa Melahirkan Anak di Tengah Laut Mandailing Natal
Raden Sungging, Bangkit...
Raden Sungging, Bangkit dari Kubur Setelah Dibunuh Belanda dan Makamnya Dijaga Sepekan
Kisah Jaka Tingkir Menaklukan...
Kisah Jaka Tingkir Menaklukan Puluhan Buaya saat Menuju Demak
Pertarungan Pangeran...
Pertarungan Pangeran Purbaya Melawan Pasingsingan dan Berdirinya Masjid di Kalisoka
Syekh Maulana Muhammad...
Syekh Maulana Muhammad Asnawi, Tokoh Awal Penyebar Islam di Kebumen
Berita Terkini
Kapal Basarnas Terbakar...
Kapal Basarnas Terbakar di Muara Baru, 14 Unit dan 70 Personel Damkar Dikerahkan
4 jam yang lalu
Refly Harun Dampingi...
Refly Harun Dampingi Korban Dugaan Pemerasan Bangun Paulus di PN Jakpus
6 jam yang lalu
BNPP Dorong Percepatan...
BNPP Dorong Percepatan PLBN Seimanggaris, Perkuat Gerbang Negara yang Terhubung ke Koridor Ekonomi BIMP-EAGA
6 jam yang lalu
Ruko di Pasar Ciputat...
Ruko di Pasar Ciputat Tangsel Terbakar, Api Masih Berkobar
7 jam yang lalu
Jadi Kawasan Wisata,...
Jadi Kawasan Wisata, Bali Kian Dilirik Perusahaan Asuransi
7 jam yang lalu
Riau Bhayangkara Run...
Riau Bhayangkara Run 2026 Ciptakan Efek Ekonomi Rp58,9 Miliar
7 jam yang lalu
Infografis
Virus Hanta Merebak!...
Virus Hanta Merebak! Ini 5 Gejalanya yang Perlu Diwaspadai
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved