Bupati Pertama Serang, Ulama yang Juga Pejuang

Sabtu, 10 November 2018 - 05:00 WIB
Bupati Pertama Serang,...
Bupati Pertama Serang, Ulama yang Juga Pejuang
A A A
BRIGJEN (Anumerta) KH Syam’un merupakan Bupati Pertama Serang yang memimpin pada periode 1945-1949. KH Syam’un merupakan sosok ulama yang disegani dan juga pejuang sejak zaman penjajahan Jepang dan Belanda.

KH Syam’un yang juga dikenal sebagai pendiri Perguruan Islam Al-Khairiyah Citangkil, Kota Cilegon, pada 8 November 2018 dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo. Pemberian gelar Pahlawan Nasional ini sesuai Keputusan Presiden RI No 123/TK/2018 tanggal 6 November 2018 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.

KH Syam’un merupakan anak dari pasangan H Alwiyan dan Hj Hajar, lahir di Kampung Beji, Desa Bojonegara, Kecamatan Bojonegara, Kawedanan, Cilegon, Serang, pada 5 April 1894. Dia adalah cucu dari Ki Wasid, tokoh Pemberontakan Geger Cilegon. Masa kecilnya Syam’un diasuh oleh seorang ibu yang berkarakter kuat dan bermental pejuang, Hj Siti Hajar.

Sejak berusia 4 tahun, KH Syam'un dikirim orang tuanya menimba ilmu di Pesantren Delingseng, Cilegon (1898-1900). Di bawah asuhan KH Sa'i, dia mulai mengenal prinsip-prinsip dan dasar-dasar agama. Pada 1901 sampai 1904, KH Syam'un melanjutkan pendidikan di Pesantren Kamasan di bawah didikan KH Jasim. Ketika berusia 11 tahun, dia pun meneruskan pendidikan ke Mekkah selama lima tahun (1905-1910).

Semangat KH Syam'un untuk menimba ilmu tidak berhenti sampai di Mekkah saja. Pada 1910 sampai 1915, dia menempuh pendidikan akademisnya di Universitas Al Azhar Kairo, Mesir. Pada 1916, dia memutuskan untuk kembali ke tanah air dan mendirikan Pesantren Citangkil.

Sembilan tahun kemudian, KH Syam'un melakukan modernisasi pendidikan serta membangun Madrasah Al Khairiyah. Dia mendirikan Koperasi Boemi Poetra, Organisasi Kebangkitan Pemuda Islam, dan sekolah ala Belanda bernama HIS Al Khairiyah.

Jejak peninggalannya berupa lembaga pendidikan dan pengajaran Al-Khairiah yang memiliki 417 cabang lebih di enam provinsi, yaitu Banten, Jakarta, Lampung, Sumatera Selatan, Jambi, dan Kalimantan Barat. Perguruan Al Khairiah tidak hanya memberikan khidmat pengajaran kepada masyarakat jenjang pendidikan MI, MTS, MA, tetapi juga SMP, SMEA, SMU, dan SLB.

Bahkan kini di Perguruan Al-Khairiah Pusat telah berdiri gagah dan megah tiga perguruan tinggi sesuai dengan rumpun ilmu yang disebarluaskannya: Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT), Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE), Sekolah Tinggi Ilmu Komputer (STIKOM).

Pada masa penjajahan Jepang, KH Syam'un pernah mendapat pendidikan militer dan bergabung bersama Pembela Tanah Air (Peta). Berkat kegigihannya, dia kemudian diangkat menjadi Daidanco (Komandan Batalion).

Di masa pergerakan tersebut, KH Syam'un merupakan salah satu pejuang yang militan dan gigih dalam menentang Belanda. Dia diberi kepercayaan membentuk Barisan Keamanan Rakyat (BKR) Divisi I Banten dan Bogor, kemudian diangkat menjadi panglimanya.

Pada 23 Mei 1946 Divisi I Banten diganti menjadi Brigade I Tirtayasa Divisi Siliwangi. KH Syam'un diangkat menjadi komandannya berpangkat kolonel. Disamping itu, Korem Maulana Yusuf adalah jejak lainnya sumbangsih KH Syam’un dalam membangun Tentara Nasional di Banten.

Selain gemilang dalam dunia militer, pada periode 1945-1949 KH Syam'un juga mendapat tugas menjadi Bupati Serang. Meski menjabat sebagai bupati, peran perjuangan KH Syam'un tidak bisa dilepaskan begitu saja. Pada 1948, saat meletus Agresi Militer Belanda II, dia bergerilya dari Gunung Karang, Pandeglang hingga Kampung Kamasan, Kecamatan Cinangka, Serang.

Di kampung itu pula KH Syam'un mengembuskan napas terakhir pada 1949 lantaran sakit ketika memimpin gerilya dari hutan sekitar Kamasan. Saat meninggal, KH Syam'un berpangkat kolonel. Namun, atas jasanya dia mendapat kenaikan pangkat menjadi Brigadir Jenderal Anumerta.

Diolah Dari Berbagai Sumber
(sms)
Berita Terkait
Senjata Pemusnah Massal...
Senjata Pemusnah Massal yang Menginspirasi Persaingan Misi Antariksa
Prasasti Gondang, Situs...
Prasasti Gondang, Situs Peninggalan Kerajaan Singosari yang Usang
Gua Napalicin, Legenda...
Gua Napalicin, Legenda Si Pahit Lidah yang Kesal dan Bergumam
Kisah Pemberontakan...
Kisah Pemberontakan Rakyat Jambi terhadap Penjajah Belanda
Kisah Kampung Adat Seribu...
Kisah Kampung Adat Seribu Gonjong, Pernah Ditinggali Syafruddin Prawiranegara
Kisah Pohon Cengkeh...
Kisah Pohon Cengkeh Tertua di Dunia yang Selamat dari Pemusnahan Belanda
Berita Terkini
Perkuat Kolaborasi Inovasi...
Perkuat Kolaborasi Inovasi Perikanan, Bupati Bogor Tinjau Fasilitas Raiser Ikan Hias BRIN
4 jam yang lalu
Sudah 2 Tahun SDN Kebayoran...
Sudah 2 Tahun SDN Kebayoran Lama 09 Roboh, Pramono: Saya Baru Tahu Pas Viral
4 jam yang lalu
Integrasi Satuan Pendidikan,...
Integrasi Satuan Pendidikan, UIN Jakarta: Tak Bergantung pada Satu Putusan PTUN
4 jam yang lalu
2 Gudang Besar Narkoba...
2 Gudang Besar Narkoba di Bogor Dibongkar, Polisi Sita Jutaan Butir Obat Keras Ilegal
6 jam yang lalu
Pipa Gas Meledak di...
Pipa Gas Meledak di Medan, 1 Tewas dan 2 Orang Lainnya Masih Tertimbun
7 jam yang lalu
Dukung Fatwa MUI Jatim,...
Dukung Fatwa MUI Jatim, APVI Ajak Perkuat Kolaborasi Cegah Penyalahgunaan Narkotika
9 jam yang lalu
Infografis
Profil Letjen TNI (Purn)...
Profil Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso yang Dikait-kaitkan dengan Tiyo UGM
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved