Ribuan Balita di Sleman Kurang Asupan Gizi

Kamis, 25 Januari 2018 - 22:37 WIB
Ribuan Balita di Sleman...
Ribuan Balita di Sleman Kurang Asupan Gizi
A A A
SLEMAN - Ribuan bayi di bawah lima tahun (Balita) di Sleman ditenggarai kurang asupan gizi. Terutama asupan protein pada masa pertumbuhan. Indikasinya balita tersebut mengalami stunting (tubuh pendek).

Data dinas kesehatan (Dinkes) setempat pada tahun 2017 dari 6900 balita, 8211 atau 11,9% balita di antaranya mengalami stunting .

Pola asuh dan kurangnya asupan gizi saat kehamilan diduga menjadi penyebabnya. Terbukti dari jumlah stunting itu paling banyak terjadi di lima kecamatan, yaitu kecamatan Minggir, Sayegan, Moyudan, Prambanan dan Kalasan. Padahal daerah tersebut merupakan lubung pangan di Sleman.

Kepala Bagian (Kabid) Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Sleman, Bambang Suharjana mengatakan ada beberapa faktor penyebab stunting pada balita ini.
Selain faktor ekonomi, penyakit dan keturuan, juga pola asuh orang tua. Terutama dalam pemberian air susu ibu (ASI) maupun asupan gizi kepada mereka.

Hal ini lantaran sang ibu terlalu sibuk, sehingga tidak memberi ASI secara ekslusif pada bayinya. Padahal untuk mendapatkan gizi yang ideal, bayi harus diberi ASI ekslusif selama enam bulan pertama. Setelah itu, baru bisa diberi makanan pendamping ASI.

"Karena itu masalah gizi tersebut harus mendapatkan perhatian bersama," kata Bambang, saat sosialisasi penanggulangan stunting dini dalam rangka peringatan Hari Gizi Nasional ke-58 tingkat Sleman, di pendopo rumah dinas bupati Sleman, Kamis (25/1/2018)

Bambang menjelaskan untuk mengatasai masalah ini, selain dengan penyuluhan, workshop dan seminar kepada para ibu dan orang tua, juga dengan edukasi dan pemahanan, khususnya yang menyangkut dengan pola pikir masyarakat dalam mengasuh anak. Baik yang menyangkut dengan perkembangan maupun asupan gizi kepada balita.

"Kami juga telah memberikan pelatihan kepada petugas Puskesmas untuk mengampanyekan pentingnya pemberian ASI ekslusif dan membentuk konselor inisiatif menyusui dini (IMD)," pungkasnya.
(nag)
Berita Terkait
PERMINESIA Dorong Edukasi...
PERMINESIA Dorong Edukasi Kesehatan Tubuh dan Hormonal bagi Perempuan Menopause
Generali Health Cities...
Generali Health Cities di 17 Kota Demi Kesehatan Masyarakat
Mutu Fasilitas Kesehatan...
Mutu Fasilitas Kesehatan Menentukan Kesehatan Masyarakat
Optimalisasi Kesehatan...
Optimalisasi Kesehatan Pencernaan Anak untuk Kesehatan Holistik
Vaksinasi Tenaga Kesehatan...
Vaksinasi Tenaga Kesehatan Lansia
Idap Gangguan Kesehatan...
Idap Gangguan Kesehatan akibat Banjir, Para Lansia Serbu Layanan Kesehatan Gratis
Berita Terkini
KORPRI Lebak Tantang...
KORPRI Lebak Tantang 1.700 Pelari di Ajang RUNK5BITUNG 2026
2 jam yang lalu
Momen Siswa SRMP 17...
Momen Siswa SRMP 17 Tabanan Curhat ke Prabowo
2 jam yang lalu
Tembus 16,46 Juta Pengguna,...
Tembus 16,46 Juta Pengguna, LinkUMKM BRI Sukses Dorong Pelaku Usaha Naik Kelas
2 jam yang lalu
Ciangir Disiapkan Jadi...
Ciangir Disiapkan Jadi Penampungan Kompos, Pramono Yakin 9.000 Ton Sampah Jakarta Bisa Tertangani
3 jam yang lalu
Pramono Tegaskan 2.843...
Pramono Tegaskan 2.843 Lowongan Padat Karya Program Jangka Pendek
4 jam yang lalu
Prabowo Tinjau SRMP...
Prabowo Tinjau SRMP 17 Tabanan, Disambut Yel-yel hingga Tari Kecak dari Siswa
5 jam yang lalu
Infografis
10 Universitas Paling...
10 Universitas Paling Diminati di SNBT 2026, UI Paling Favorit
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved