Invasi Majapahit ke Pagaruyung dan Pertarungan Dua Kerbau

Sabtu, 11 Maret 2017 - 05:00 WIB
Invasi Majapahit ke Pagaruyung dan Pertarungan Dua Kerbau
Invasi Majapahit ke Pagaruyung dan Pertarungan Dua Kerbau
A A A
Invasi Majapahit ke Pagaruyung terjadi pada tahun 1409. Dalam sebuah teks yang luar biasa versi Majapahit yang tersimpan di museum Jawa Timur diceritakan tentang invasi penaklukkan ke Sumatera terutama ke Pagaruyung.

Dimana dalam teks tersebut disebutkan Majapahit mengerahkan 500 kapal perang lengkap dengan patih dan hulubalang serta 200.000 prajurit dan seekor kerbau jantan raksasa sebesar gajah.

Bala tentara Majapahit tanpa halangan sampai di Jambi yang merupakan pintu masuk ke dataran tinggi Minangkabau melalui sungai besar dan berair dalam yang ada di dataran rendah bagian timur Sumatera.

Sesampai di Pariangan para patih dan hulubalang Majapahit berunding dengan Patih Suatang (Datuk Perpatih Nan Sebatang) serta Patih Ketemanggungan (Datuk Katumanggungan), lalu muncul usulan dari Patih Majapahit untuk mengadu kerbau sebagai simbolisasi perang. Pemilik kerbau yang menang berarti memenangkan peperangan, begitu pula sebaliknya.

Setelah datang waktunya adu kerbau itu pun dilaksanakan. Orang Majapahit mengeluarkan kerbau raksasa sementara orang Patih Suatang mengeluarkan seekor anak kerbau kecil yang kelaparan dan kehausan.

Anak kerbau itu secepat kilat menyeruak ke perut kerbau jantan nan besar hendak menyusui. Anak kerbau tersebut menggigit kelamin sapi jantan itu hingga roboh.

Sesuai kesepakatan, maka pihak Majapahit dianggap kalah, lalu mereka akan pergi namun ditahan oleh Patih Suatang karena mereka akan dijamu makan dan minum.
Masih menurut teks versi Majapahit, setelah jamuan makan dan minum itulah terjadi peristiwa kekerasan yang menewaskan patih dan para hulubalang serta separuh prajurit Majapahit.

Sementara yang selamat pulang ke Majapahit dan melaporkan peristiwa itu kepada Sang Nata (raja) yang menerimanya dengan amat masygul karena kekalahan besar dan kehilangan para patih dan hulubalang yang diandalkan serta banyak prajurit.

Peristiwa tersebut terjadi di sebuah padang luas yang kemudian diberi nama 'Padang Sibusuk' karena begitu banyaknya mayat bergelimpangan yang kemudian menimbulkan bau busuk.

Kisah ini juga tercatat dalam Hikayat Raja-raja Pasai yang merekam berbagai peristiwa di Sumatera sekitar abad tersebut. Sekarang Padang Sibusuk masuk dalam wilayah kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.1202 seconds (10.101#12.26)