Kesenian Kuda Lumping Suku Jawa Berkembang di Pangandaran

Minggu, 15 Januari 2017 - 16:56 WIB
Kesenian Kuda Lumping...
Kesenian Kuda Lumping Suku Jawa Berkembang di Pangandaran
A A A
PANGANDARAN - Kesenian tradisional kuda lumping yang berasal dari suku Jawa memiliki eksistensi kuat di Pangandaran. Hal ini menandakan kehidupan sosial suku Jawa dan Sunda di Pangandaran terjalin baik.

Kepala Bidang Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pemberdayaan Lembaga Kemasyarakatan Lembaga Adat dan Masyarakat Hukum Adat Dinas Sosial Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Erik Krisnayudha Astrawijaya Saputra mengatakan, kesenian kuda lumping datang ke Pangandaran dari suku Jawa melalui daerah Cirebon.

"Kesenian tradisional kuda lumping ini banyak berkembang di daerah perbatasan suku Sunda dengan suku Jawa seperti Kecamatan Mangunjaya, Kecamatan Kalipucang dan Kecamatan Pangandaran," kata Erik.

Erik menambahkan, kesenian kuda lumping lebih akrab dan dikenal oleh masyarakat dengan sebutan ebeg.

Dalam gelarannya kesenian ebeg sangat simpel untuk dipentaskan dalam pertunjukan acara resepsi seperti pesta pernikahan, khitanan dan beberapa acara yang melibatkan banyak orang.

"Karena pertunjukan ebeg lebih simpel arenanya, banyak warga yang minat untuk mementaskan kesenian tradisional ini jika dibandingkan dengan kesenian tradisional lainnya," tambah Erik.

Lebih lanjut dijelaskan Erik, keunikan dari pementasan kesenian tradisional ebeg diantaranya adegan tarian orang yang menunggangi poperti kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu yang dirias layaknya kuda beneran.

"Adegan pertunjukan ebeg tersebut mengkalaborasikan antara bunyi musik gambelan tradisional dengan gerakan drama yang mengandung unsur magis sehingga para pemain akan kehilangan kesadaran seolah dikendalikan roh halus, adegan tersebut biasa disebut meundeum," jelasnya.

Wito (50), salah satu Pimpinan kesenian ebeg sanggar Witmisulastri Lingkung Seni Setia Muda Budaya Dusun Kedungrejo, Desa Wonoharjo, Kecamatan Pangandaran mengatakan, kesenian tersebut masih tetap dilestarikan oleh komunitas suku Jawa yang saat ini berdomisili di Kabupaten Pangandaran.

"Sanggar ini dibentuk pada tahun 2004 lantaran kekhawatiran kami jika tidak dikembangkan akan punah," kata Wito.

Wito menambahkan, nilai jual yang disajikan kepada penonton dari gelaran kesenian ebeg diantaranya saat para penari dalam kondisi meundeum pemain melakukan adegan yang mengejutkan penonton seperti, memakan kaca, mengupas buah kelapa menggunakan gigi dan menirukan gaya gerakan binatang.

"Keunikan itulah yang hingga saat ini tetap kita lestarikan sehingga minat masyarakat untuk menonton kesenian tradisional ini tetap bertahan," pungkas Wito.
(nag)
Berita Terkait
Bangun dan Revitalisasi...
Bangun dan Revitalisasi Sistem Pendidikan Seni dan Budaya lewat ODA
Menghidupkan Budaya...
Menghidupkan Budaya dan Kebersamaan dalam Bedhayan Topeng Abdi Sekartaji
Art Love U Fest 2024:...
Art Love U Fest 2024: Bertemunya Seni dan Cinta di JDC
Indonesia Bertutur 2024,...
Indonesia Bertutur 2024, Upaya Perkuat Ekosistem Budaya
Napak Jagat Nusantara...
Napak Jagat Nusantara Penampil Utama dalam Gelaran Seni Budaya untuk Meriahkan Rangkaian HUT ke-79 TNI
Pecah, Puluhan Ribu...
Pecah, Puluhan Ribu Orang Padati Sakura Matsuri 2025 di Jababeka
Berita Terkini
Pimpin ASEAN Smart Cities,...
Pimpin ASEAN Smart Cities, Indonesia Paparkan Pengelolaan Sampah dari Hulu hingga Hilir
16 menit yang lalu
Kemenhut Bongkar Jalur...
Kemenhut Bongkar Jalur Distribusi Tambang Ilegal di NTB, 8 Orang Ditangkap
1 jam yang lalu
Perkuat Layanan Kesehatan,...
Perkuat Layanan Kesehatan, Pemkot Tangsel Tingkatkan Kapasitas 1.389 Kader Posyandu
3 jam yang lalu
7 Pengeroyok Prajurit...
7 Pengeroyok Prajurit TNI Kodam Cenderawasih hingga Tewas Ditetapkan sebagai Tersangka
6 jam yang lalu
Peradi Profesional-Unisba...
Peradi Profesional-Unisba Perkuat Pendidikan Hukum dan Pengembangan Profesi Advokat
6 jam yang lalu
Perkuat Ekonomi Maluku...
Perkuat Ekonomi Maluku Utara, APHI Dorong Penerapan Multiusaha Kehutanan
6 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved