Ahok Dinilai Terapkan Pola Direktif Pimpin Jakarta
Selasa, 26 April 2016 - 19:21 WIB
Ahok Dinilai Terapkan Pola Direktif Pimpin Jakarta
A
A
A
JAKARTA - Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dinilai menggunakan gaya direktif dalam kepemimpinannya sebagai Gubernur DKI Jakarta.
Psikolog Universitas Airlangga Surabaya Bagus Ani Putra menjelaskan, hubungan antara pimpinan dan bawahan terbagi dalam beberapa hal di antaranya, asertif yakni, terbuka tanpa melukai perasaan orang lain.
Kemudian agresif yang menimbulkan korban karena sifat memojokkan serta direktif. Menurut Bagus, dua pola inilah dipergunakan oleh Ahok. Gaya direktif, kata Bagus, ialah memberikan perintah sesuai dengan keinginan atasan dan bersifat satu arah.
Pola ini, menunjukan bahwa bawahan tidak diberikan kesempatan untuk memberikan saran. Sehingga apa yang menjadi kebijakan atasan menjadi wajib dilakukan. Kondisi itu, membuat korbannya menjadi subjek feeling yang berartinya tertekan dan merasa.
Sekalipun hal itu hanya sindiran yang ditujukan bukan kepadanya. "Kalau jaman sekarang masyarakat mengenalnya dengan istilah Baper (bawa perasaan)," jelas Bagus Ani Putra kepada Sindonews kemarin.
Bagus menyarankan, agar tak ada lagi korban selanjutnya, Ahok harus melakukan perubahan pola tutur kata serta menghargai pendapat orang lain. Hal ini dipercaya akan membuat perasaan pegawai menjadi terjaga.
Setiap saran yang diberikan pegawai sudah sewajarnya ditampung dan didiskusikan dengan orang lain. Sehingga problem menyalahkan orang tidak terjadi. Sementara, bagi bawahan, Bagus menyarankan agar melakukan sikap cuek, pola masuk telinga kanan, keluar telinga kiri menjadi salah satu cara aman menyikapi gaya kepemimpinan ahok.
"Yang jelas akan menjadi sorotan, apapun yang dilakukan Ahok bagaimana kinerja dan kebijakannya menjadi perhatian masyarakat. Hal yang berbau sara akan di perhatikan masyarakat," tutup Bagus.
Psikolog Universitas Airlangga Surabaya Bagus Ani Putra menjelaskan, hubungan antara pimpinan dan bawahan terbagi dalam beberapa hal di antaranya, asertif yakni, terbuka tanpa melukai perasaan orang lain.
Kemudian agresif yang menimbulkan korban karena sifat memojokkan serta direktif. Menurut Bagus, dua pola inilah dipergunakan oleh Ahok. Gaya direktif, kata Bagus, ialah memberikan perintah sesuai dengan keinginan atasan dan bersifat satu arah.
Pola ini, menunjukan bahwa bawahan tidak diberikan kesempatan untuk memberikan saran. Sehingga apa yang menjadi kebijakan atasan menjadi wajib dilakukan. Kondisi itu, membuat korbannya menjadi subjek feeling yang berartinya tertekan dan merasa.
Sekalipun hal itu hanya sindiran yang ditujukan bukan kepadanya. "Kalau jaman sekarang masyarakat mengenalnya dengan istilah Baper (bawa perasaan)," jelas Bagus Ani Putra kepada Sindonews kemarin.
Bagus menyarankan, agar tak ada lagi korban selanjutnya, Ahok harus melakukan perubahan pola tutur kata serta menghargai pendapat orang lain. Hal ini dipercaya akan membuat perasaan pegawai menjadi terjaga.
Setiap saran yang diberikan pegawai sudah sewajarnya ditampung dan didiskusikan dengan orang lain. Sehingga problem menyalahkan orang tidak terjadi. Sementara, bagi bawahan, Bagus menyarankan agar melakukan sikap cuek, pola masuk telinga kanan, keluar telinga kiri menjadi salah satu cara aman menyikapi gaya kepemimpinan ahok.
"Yang jelas akan menjadi sorotan, apapun yang dilakukan Ahok bagaimana kinerja dan kebijakannya menjadi perhatian masyarakat. Hal yang berbau sara akan di perhatikan masyarakat," tutup Bagus.
(whb)