Kisah Pangeran Diponegoro dan Wanita-wanita di Sekelilingnya

Minggu, 24 April 2016 - 05:00 WIB
Kisah Pangeran Diponegoro dan Wanita-wanita di Sekelilingnya
Kisah Pangeran Diponegoro dan Wanita-wanita di Sekelilingnya
A A A
Kisah kehidupan pemimpin Perang Jawa, Pangeran Diponegoro ternyata tak luput dari wanita-wanita yang mendampinginya baik yang dinikahi secara resmi maupun tidak. Selain itu ibu kandung, nenek buyut dan kerabat perempuan sang pangeran juga diakui membentuk watak dan pandangan hidup Pangeran Diponegoro dalam mengisi hidupnya.

Para wanita tersebut turut mendampingi Pangeran Diponegoro mulai dari Tegalrejo, masa perang Jawa hingga akhir hayatnya di pengasingan.

Sosok yang paling berpengaruh terhadap Diponegoro muda adalah nenek buyutnya sendiri yang bergelar Ratu Ageng (istri Sultan Hamengkubowono I) atau sering disebut Ratu Ageng Tegalrejo, anak perempuan Kiai Ageng Derpoyudo.

Ratu Ageng adalah perempuan gagah perkasa yang pernah memimpin korps prajurit estri atau pengawal perempuan elite di Kesultanan Yogyakarta. Diponegoro muda pernah dibawa Ratu Ageng untuk menemani masa tuanya di Tegalrejo.

Ratu Ageng yang kala itu telah berusia 65 tahun adalah sosok perempuan yang sangat energik dan berkemauan keras yang disegani oleh Diponegoro muda (sesuai Babad Diponegoro). Diponegoro terus digembleng pendidikan agama maupun ilmu berperang oleh nenek buyutnya hingga wafatnya Ratu Ageng pada 17 Oktober 1803.

Satu lagi wanita yang mungkin juga ikut membentuk kepribadian Pangeran Diponegoro adalah neneknya Ratu Kedaton. Ketaatan neneknya yang berasal dari Madura dalam menjalankan ajaran Islam mengesankan bagi Diponegoro.

Kemudian pada 1803, tahun dimana Pangeran Diponegoro kehilangan sosok nenek buyutnya dia mulai berkenalan dengan Raden Ayu (RA) Retna Madubrongto. Sehingga Raden Ontowiryo ini akhirnya melangsungkan pernikahan yang pertama dengan putri Kiai Gedhe Dadapan, ulama terkenal dari Desa Dadapan, sub distrik Tempel, dekat perbatasan Kedu dan Yogyakarta. Dari perkawinannya dengan RA Retna Madubrongto ini sang pangeran dikarunai seorang putra Raden Mantri Muhamad Ngarip atau Pangeran Diponegoro II.

Selang beberapa tahun kemudian rupanya ayahandanya Sultan Hamengku Buwono III membujuk Diponegoro agar putranya ini menikahi wanita ningrat yang lebih bergengsi secara politis. Sang Pangeran pun dipisahkan dari istri pertamanya.

Akhirnya sang pangeran dinikahkan dengan Raden Ajeng Supadmi (RA Retnakusuma), putri Raden Tumenggung Natawijaya III, Bupati Panolan, Jipang. Pesta perkawinan digelar besar-besaran pada 27 Februari 1807. Diponegoro bertemu untuk pertama kali dengan istri keduanya hanya tiga bulan sebelum mereka menikah. Namun perkawinan mereka tidak membawa kebahagiaan dan berumur pendek.

Dalam otobiografinya, sang pangeran tidak pernah sekali pun menyebut-nyebut istrinya yang satu ini. Nampaknya mereka dipisahkan saat kelahiran putra pertama dan satu-satunya yaitu Pangeran Diponingrat.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.1572 seconds (11.210#12.26)