Pertempuran Pasukan Bagus Rangin Melawan Belanda di Cirebon

Jum'at, 15 Januari 2016 - 05:00 WIB
Pertempuran Pasukan...
Pertempuran Pasukan Bagus Rangin Melawan Belanda di Cirebon
A A A
Bagus Rangin merupakan tokoh kharismatik dari Majalengka yang merupakan putra dari Buyut Sentayem alias Buyut Tayem.

Mempunyai 3 saudara lelaki, kakaknya bernama Buyut Bangin, sedangkan adiknya adalah buyut Salimar dan Bagus Serit.

Meski bukan seorang Raja, namun Bagus Rangin memiliki semangat ksatria untuk melawan kekejaman dan kediktatoran penguasa, baik itu pemerintah kolonial Hindia Belanda maupun penguasa lokal di Cirebon.

Dalam setiap kesempatan Ia berdiri dan mengurai khotbah pembangkitan. Sebuah khotbah yang panjang, yang menggugah kesadaran makna hidup dan kehidupan rakyat setempat yang didera nestapa.

Juga khotbah politis yang menyoroti praktek-praktek tak benar penguasa lokal Cirebon. "Pangeran (Allah) telah menjadikan dunia, sebagai tempat kehidupan umat. Tapi oleh Sultan malah dijual kepada Cina dan Kompeni, yang tak pernah merasa kenyang," katanya bergelora.

Bagus Rangin belum berhenti. Masih banyak pesan suci yang dipompakan untuk membuka mata hati, yang sebelumnya seakan sudah mati harapan. Dia pun berhasil. Warga tersadar akan kelemahannya selama ini.

Pada waktu itu, beberapa pengusaha dari etnis Cina memang ikut menyengsarakan masyarakat. Salah satu caranya, bersama Belanda, mereka menyewa tanah-tanah dari Sultan Cirebon.

Padahal tanah-tanah itu, seperti kawasan utara Majalengka, juga termasuk wilayah Lohbener, Dermayu, Loyang, dan sekitarnya merupakan sumber kehidupan rakyat.

Walhasil, ketiadaan sumber kehidupan telah memunculkan kelaparan. Sampai-sampai rakyat terpaksa harus makan dedaunan dan rumput. Akibat lebih lanjut, banyak di antara masyarakat berguling-guling di tanah sembari memegangi perut.

Semua merintih kesakitan. Di luar itu, sulitnya kehidupan telah membuat sebagian orang menjual diri (hal ini terus berkelanjutan mungkin hingga sekarang juga, seperti dilukiskan dalam tembang pantura "remang-remang") .

Dengan kenyataan itu, masuk akal jika rakyat begitu benci dengan Babah (china) dan juga Belanda setelah mendengarkan khotbah pencerahan dari Bagus Rangin.

Setelah rakyat Karaseidenan Cirebon terbangun kesadarannya, mereka bergerak bersama Bagus Rangin. Semua ikhlas berjuang karena sudah disusupi semangat.

Pertempuran yang terjadi antara pasukan Bagus Rangin dan pasukan kolonial Hindia Belanda pertama kalinya berlangsung pada 25 Februari 1806, hal ini sesuai dengan resolusi Pemerintah Kolonial di Hindia Belanda yang menyebutkan ada kerusuhan sosial di daerah Cirebon pada tanggal tersebut.

Daerah-daerah lain yang membantu Bagus Rangin adalah berasal dari daerah Jatitujuh, Rajagaluh, Bangawan Wetan, Sumber, Bantarjati, Cikao, Kandanghaur, Kuningan, Linggarjati, Luragung, Maja, Sumedang, Karawang, dan Subang.

Gubernur Jenderal Hindia Belanda A J Wiese menugaskan kepada Nicolas Engelhaard untuk meminta bantuan agar para bupati mengirimkan pasukannya untuk melawan Bagus Rangin.
Namun tidak semua Bupati menaati perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda tersebut.

Akibat membangkang pada perintah kolonial Hindia Belanda, maka Sultan Kanoman Cirebon Pangeran Suriawijaya dibuang oleh Belanda ke Ambon, dan dipecat dari jabatan Sultan pada tanggal 2 Maret 1810 oleh Gubernur Jenderal Daendells.

Perang yang terjadi di Bantarjati dari tanggal 16 sampai 29 Februari 1812 adalah perang yang terakhir dan berakhir dengan kekalahan di pihak Bagus Rangin.

Akhirnya pada tanggal 27 Juni 1812 Bagus Rangin dapat tertangkap oleh pasukan Belanda di daerah Panongan, Jatitujuh. Pada tanggal 12 Juli 1812 Bagus Rangin dijatuhi hukuman mati dengan cara dipenggal kepalanya di daerah Karangsambung, tepian sungai Cimanuk.

Bagus Rangin pada akhirnya gugur, namun semangat pembelaan terhadap rakyat yang ditindas patut dihargai dan diteruskan perjuangannya. Akhirnya 133 tahun setelah gugurnya itu, cita-cita terbesar Bagus Rangin dapat terwujud. Apalagi kalau bukan kemerdekaan.

Kemerdekaan yang dicita-citakan oleh masyarakat adalah bukan tujuan dan bukan pula sekedar penggantian penguasa untuk kemudian ganti berkuasa dan menindas.

Tetapi kemerdekaan adalah salah satu cara untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera.

Sumber

wikipedia
serbasejarah.wordpress
diolah dari berbagai sumber
(nag)
Berita Terkait
Senjata Pemusnah Massal...
Senjata Pemusnah Massal yang Menginspirasi Persaingan Misi Antariksa
Prasasti Gondang, Situs...
Prasasti Gondang, Situs Peninggalan Kerajaan Singosari yang Usang
Gua Napalicin, Legenda...
Gua Napalicin, Legenda Si Pahit Lidah yang Kesal dan Bergumam
Kisah Pemberontakan...
Kisah Pemberontakan Rakyat Jambi terhadap Penjajah Belanda
Kisah Kampung Adat Seribu...
Kisah Kampung Adat Seribu Gonjong, Pernah Ditinggali Syafruddin Prawiranegara
Kisah Pohon Cengkeh...
Kisah Pohon Cengkeh Tertua di Dunia yang Selamat dari Pemusnahan Belanda
Berita Terkini
Kaesang Ungkap Dewan...
Kaesang Ungkap Dewan Pembina PSI Mulai Turun ke Daerah Akhir Juni
54 menit yang lalu
MNC Vision Network-MNC...
MNC Vision Network-MNC Peduli Salurkan Bantuan Seragam dan Sembako di Panti Asuhan Anak Ceria Indonesia Depok
8 jam yang lalu
Resmi Dibuka, DAIKIN...
Resmi Dibuka, DAIKIN Proshop Alvamega Hadirkan Solusi Tata Udara Premium di Serpong
8 jam yang lalu
300 Siswa-Warga Dapatkan...
300 Siswa-Warga Dapatkan Pemeriksaan Mata dan Kacamata Gratis
9 jam yang lalu
Bongkar Gudang Penyimpanan...
Bongkar Gudang Penyimpanan Kosmetik Impor Ilegal di Tangerang, BPOM Ungkap Modus Operandi dan Peredaran
9 jam yang lalu
Stop Polemik, Prof Dede:...
Stop Polemik, Prof Dede: Pengelolaan Yayasan Diserahkan ke Pemerintah melalui UIN Jakarta
11 jam yang lalu
Infografis
Skuad Timnas Spanyol...
Skuad Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Real Madrid
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved