Ferdinand Lumban Tobing, Dokter yang Menjadi Target Pembunuhan Jepang

Jum'at, 08 Januari 2016 - 05:00 WIB
Ferdinand Lumban Tobing,...
Ferdinand Lumban Tobing, Dokter yang Menjadi Target Pembunuhan Jepang
A A A
Ferdinand lahir di Sibuluan, Sibolga, Tapanuli Tengah, pada 19 Februari 1899. Ayahnya adalah Herman Lumban Tobing. Ibunya bernama Laura Sitanggang.

Ia adalah anak keempat dari sembilan bersaudara. Pada usia 5 tahun, Ferdinand dibawa oleh ayah angkatnya, Jonathan Pasanea ke Depok dan disekolahkan di Sekolah Dasar Belanda (Europesche Lagere School).

Selepas pendidikan dasar, Ferdinand melanjutkan pendidikan sekolah dokter di STOVIA. Setamat dari STOVIA, ia bekerja sebagai dokter bagian penyakit menular di rumah sakit CBZ (sekarang Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta, red).

Selama menjadi dokter, Ferdinand sering dipindahtugaskan. Beberapa tahun bekerja di CBZ, ia dipindahkan ke Tenggarong, Kalimantan Timur.

Saat bertugas di Tenggarong, dia mengalami suatu peristiwa yang mengesankan. Saat itu, Sultan Kutai menderita sakit parah. Banyak dokter dan ahli berusaha mengobati, namun gagal. Akhirnya, Ferdinand berusaha mengobati sang Sultan. Atas ridho Tuhan, usahanya berhasil. Sultan Kutai kembali sehat. Sebagai tanda terima kasih, Sultan Kutai mengangkat Ferdinand Lumban Tobing sebagai ayah.

Pada tahun 1931, dia dipindahkan ke Surabaya dan ditugaskan di bagian penyakit dalam. Tahun 1935, dia dipindahkan lagi ke daerah Tapanuli, tanah kelahirannya. Di daerah Tapanuli, pertama-tama dia ditempatkan di Padang Sidempuan, kemudian dipindahkan ke Sibolga.

Saat Ferdinand bertugas di Sibolga, Perang Dunia II berkecamuk. Di Indonesia, pasukan pendudukan Belanda mengalami kekalahan dari pasukan Jepang. Hal ini berdampak kepada bangsa Indonesia yang tadinya merupakan koloni Belanda, kemudian digantikan oleh Jepang.

Jepang ternyata tidak berbeda dengan Belanda maupun bangsa imperialis lainnya. Bahkan, kekejaman tentara Jepang melebihi tentara Belanda. Semua laki-laki dewasa diwajibkan romusha, yakni kerja paksa untuk mengerjakan pembukaan jalan, membuat benteng, dan lain-lain tanpa diupah.

Di era pendudukan Jepang ini, Ferdinand bertugas sebagai dokter pengawas kesehatan romusha. Karena itu, ia menyaksikan dengan jelas pada romusha yang saat itu membuat benteng di Teluk Sibolga, diperlakukan tidak manusiawi oleh tentara Jepang.

Hatinya berontak. Ia protes. Akibatnya, dia dicurigai dan menjadi target pembunuhan tentara Jepang. Tapi, nasib baik berpihak pada Ferdinand.

Saat itu, seorang perwira Kempetai, satuan polisi militer Jepang yang ditempatkan di seluruh wilayah Jepang termasuk daerah jajahan, bernama Inoue, mengalami kecelakaan parah saat belajar mengendarai mobil. Dokter-dokter Jepang sudah berusaha menyembuhkannya, tetapi tak berhasil. Sementara, kondisi Inoue makin gawat. Ferdinand lalu menawarkan diri untuk membantu menyembuhkan Inoue.

Awalnya, tawaran itu ditolak karena orang-orang Jepang mencurigai Ferdinand dan juga memandang rendah kemampuannya. Akhirnyam setelah tidak ada jalan lain, tawaran Ferdinand diterima.

Atas seizin Tuhan, Inoue berangsur sembuh. Inoue dan orang-orang Jepang kemudian berterima kasih dan menghormati Ferdinand Lumban Tobing. Ferdinand diangkat menjadi Ketua Dewan Perwakilan Daerah (Syu Sangi Kai) untuk Karesidenan Tapanuli pada November 1943.

Tahun 1945, Perang Dunia II berakhir. Jepang menyerah kepada pasukan Sekutu. Jepang dipaksa meninggalkan Indonesia. Indonesia pun merdeka. Di awal kemerdekaan, Ferdinand diangkat menjadi Residen Tapanuli, sejak Oktober 1945.

Namun, Pemerintah Belanda tidak mengakui kemerdekaan Indonesia. Mereka berusaha kembali merebut kemerdekaan Indonesia dengan melancarkan Agresi Militer I dan II.

Pada awal revolusi inilah Ferdinand berperan aktif mempertahankan kemerdekaan. Selanjutnya, pada Agresi Militer II, Ferdinand bersedia diangkat menjadi Gubernur Milter Tapanuli

Singkat cerita, kemerdekaan Indonesia diakui internasional. Ferdinand lalu ditawari menjadi Gubernur Provinsi Sumatera Utara yang meliputi Aceh, Sumatera Timur, dan Tapanuli. Namun, ia menolak. Menurutnya, penggabungan tiga wilayah tersebut menjadi satu provinsi tidaklah tepat karena corak kebudayaan masing-masing daerah itu berbeda.

Pada Kabinet Ali Sastroamijoyo I (Juli 1953-Juli 1955), Ferdinand menjadi Menteri Penerangan dan Menteri Kesehatan. Ia juga pernah menjadi Menteri Urusan Hubungan Antardaerah dan terakhir menjadi Menteri Negara Urusan Transmigrasi.

Ferdinand meninggal dunia pada tanggal 7 Oktober 1962 di Jakarta. Dia dimakamkan di Kolang-Sibolga Sumatera Utara.

Pada 17 November 1962, Pemerintah Republik Indonesia menganugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional kepadanya, melalui Surat Keputusan Presiden RI No. 316 Tahun 1962.

Namanya kemudian diabadikan sebagai nama sebuah bandara di Kecamatan Pinangsori, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Sumber: Buku Pahlawan-Pahlawan Bangsa yang Terlupakan (Penulis Johan Prasetya, Penerbit Saufa, Agustus 2014) dan www.pahlawancenter.com.

PILIHAN:
Abdulrachman Saleh, Dokter yang Menjadi Perintis TNI AU
(zik)
Berita Terkait
Senjata Pemusnah Massal...
Senjata Pemusnah Massal yang Menginspirasi Persaingan Misi Antariksa
Prasasti Gondang, Situs...
Prasasti Gondang, Situs Peninggalan Kerajaan Singosari yang Usang
Gua Napalicin, Legenda...
Gua Napalicin, Legenda Si Pahit Lidah yang Kesal dan Bergumam
Kisah Pemberontakan...
Kisah Pemberontakan Rakyat Jambi terhadap Penjajah Belanda
Kisah Kampung Adat Seribu...
Kisah Kampung Adat Seribu Gonjong, Pernah Ditinggali Syafruddin Prawiranegara
Kisah Pohon Cengkeh...
Kisah Pohon Cengkeh Tertua di Dunia yang Selamat dari Pemusnahan Belanda
Berita Terkini
MNC Vision Network-MNC...
MNC Vision Network-MNC Peduli Salurkan Bantuan Seragam dan Sembako di Panti Asuhan Anak Ceria Indonesia Depok
7 jam yang lalu
Resmi Dibuka, DAIKIN...
Resmi Dibuka, DAIKIN Proshop Alvamega Hadirkan Solusi Tata Udara Premium di Serpong
7 jam yang lalu
300 Siswa-Warga Dapatkan...
300 Siswa-Warga Dapatkan Pemeriksaan Mata dan Kacamata Gratis
7 jam yang lalu
Bongkar Gudang Penyimpanan...
Bongkar Gudang Penyimpanan Kosmetik Impor Ilegal di Tangerang, BPOM Ungkap Modus Operandi dan Peredaran
8 jam yang lalu
Stop Polemik, Prof Dede:...
Stop Polemik, Prof Dede: Pengelolaan Yayasan Diserahkan ke Pemerintah melalui UIN Jakarta
10 jam yang lalu
Hari Lingkungan Hidup...
Hari Lingkungan Hidup Sedunia, UMJ Tanam 3.650 Bibit Pohon di Ciputat
11 jam yang lalu
Infografis
5 Buah Rendah Gula yang...
5 Buah Rendah Gula yang Aman untuk Diet, Tetap Manis dan Menyegarkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved