Penambang Manual Tutup Akses Truk

Minggu, 05 Juli 2015 - 12:01 WIB
Penambang Manual Tutup...
Penambang Manual Tutup Akses Truk
A A A
KULONPROGO - Puluhan warga Pedukuhan Jati, Desa Banaran, Kecamatan Galur, Kulonprogo, kemarin melakukan aksi penutupan jalan tambang yang ada di wilayahnya.

Aksi ini menyusul maraknya penambangan dengan mesin sedot di aliran Sungai Progo. Dampaknya aktivitas penambangan manual kalah bersaing. Tokoh masyarakat setempat, Endro Purnomo mengatakan, warga menolak ada penambangan menggunakan mesin sedot.

Warga meyakini aktivitas penambangan seperti itu akan merusak jalan dan membuat sumur warga mengering. “Warga juga terganggu dengan suasana bising,” ungkap Endro Purnomo, kemarin. Karena itu warga menolak keberadaan alat penyedot pasir di wilayah mereka. Agar tidak ada aktivitas penambangan, mereka menutup jalan masuk menggunakan bambu dan kayu. Bahkan beberapa nisanpun ikut dipasang.

“Mesin sedot harus ditarik karena bisa membahayakan wilayah saat banjir,” katanya. Tokoh pemuda setempat, Agus Widiantara mengatakan, aktivitas penambangan mesin sedot membuat jalan rusak. Sebab bobot dibawa di atas tonase yang disepakati. Selain itu, kandungan air dari pasir yang dibawa membuat jalan menjadi cepat rusak. “Kami sengaja memutus jalan yang biasa dilewati truk dari penambang mesin,” ujarnya.

Diakuinya antara penambang manual dan mesin sedot melibatkan warga sekitar. Namun, tidak sedikit penambang mesin sedot juga melibatkan investor dari luar. Sementara operator mesin sedot berasal dari Cepu, Jawa Timur. Penambangan bermesin sedot setiap hari bisa menghasilkan pasir antara 10-15 truk. Sementara penambang dengan cara manual paling banyak empat truk dan itu pun berkelompok.

“Kami akan tunggu sampai alat-alat itu dipindah,” kata Widiantara. Salah satu penambang mesin sedot, Nur Karyono mengatakan, sebenarnya penambangan mereka mengambil pasir di aliran sungai. Cara ini lebih ramah dan tidak merusak lingkungan. Dia menuding penambangan manual justru merusak dataran baru yang terbentuk pascaerupsi merapi. Hal itu berbahaya dan bisa membuat aliran air kembali berbelok.

Kuntadi
(bbg)
Berita Terkait
Barista AHA! Cafe Juara...
Barista AHA! Cafe Juara Satu Turnamen Barista di Yogyakarta!
SIG Jamin Kekokohan...
SIG Jamin Kekokohan Konstruksi Tol Jogja-Solo
AHA Cafe Next Hotel...
AHA Cafe Next Hotel Yogyakarta Sukses Gelar Latte Art Competition
LBH Yogya Terima 51...
LBH Yogya Terima 51 Aduan Orang Hilang Usai Aksi Tolak Omnibus Law
Antusiasme Mahasiswa...
Antusiasme Mahasiswa di Yogya Ikuti Bimbingan Remaja Usia Nikah dari Kemenag
Telan Investasi Rp14...
Telan Investasi Rp14 Triliun, Tol Yogya-Bawen Satukan Kawasan Joglosemar di 2023
Berita Terkini
Rekam Jejak Eks Ketua...
Rekam Jejak Eks Ketua PN Kudus yang Dipecat karena Tilep Uang Rp2 Miliar
7 menit yang lalu
HUT ke-80 Bhayangkara,...
HUT ke-80 Bhayangkara, Polda NTT Perkuat Kesehatan Mental Personel lewat USEFT
20 menit yang lalu
Menkes Pastikan Korban...
Menkes Pastikan Korban Penyekapan di Bandung Jalani Rehabilitasi dan Rekonstruksi secara Optimal
49 menit yang lalu
Ketua Komisi I DPRK...
Ketua Komisi I DPRK Mimika: Perlindungan Warga Sipil Papua Butuh Kolaborasi
52 menit yang lalu
Homedoki Umumkan Pemenang...
Homedoki Umumkan Pemenang Umrah, Perjalanan ke Tanah Suci Agustus 2026
56 menit yang lalu
2 Polisi Dibacok OTK...
2 Polisi Dibacok OTK saat Sedang Bertugas, Gus Falah: Ancaman Serius terhadap Supremasi Hukum
58 menit yang lalu
Infografis
Balas Serangan AS, Parlemen...
Balas Serangan AS, Parlemen Iran Setuju Tutup Selat Hormuz
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved