Para Siswa Adu Kreatif Olah Sampah Jadi Busana
Kamis, 04 Juni 2015 - 07:58 WIB
Para Siswa Adu Kreatif Olah Sampah Jadi Busana
A
A
A
PASURUAN - Kesadaran masyarakat atas pentingnya upaya pelestarian lingkungan yang salah satunya melalui pemanfaatan sampah, kian meluas.
Hal tersebut dibuktikan para pelajar di Kabupaten Pasuruan yang beradu kreativitas mengolah limbah sampah menjadi busana. Hasil kreasi para pelajar untuk merangkai limbah plastik, kertas, kain perca, dan daun-daunan tersebut dilombakan dalam peragaan busana daur ulang di Pendopo Kabupaten Pasuruan, kemarin.
Peragaan busana yang menggambarkan keragaman dan keunikan budaya di Indonesia ini dilaksanakan sebagai rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup di Kabupaten Pasuruan. Selain peragaan busana, digelar pula lomba foto dan karya tulis ilmiah pelajar se-Kabupaten Pasuruan. Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Pasuruan, Muchaimin, mengungkapkan apresiasinya atas antusiasme dan kreativitas para pelajar dalam mendaur ulang limbah sampah menjadi busana menawan.
Hal ini menunjukkan bahwa limbah sampah masih bisa diolah dan dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomis. “Kami ingin mengubah pola pikir dan perilaku masyarakat untuk hidup sehat akibat penurunan kualitas lingkungan. Kami mengajak masyarakat peduli dan menjaga kebersihan lingkungan sekitarnya,” ungkap Muchaimin. Tidak ada tema khusus yang disyaratkan dalam lomba desain dan peragaan busana tersebut. Panitia membebaskan sepenuhnya tema pada kreativitas para pelajar.
Panitia hanya busana yang dihasilkan menunjukkan identitas dan keragaman budaya, serta menonjolkan konsep busana daur ulang yang berasal dari berbagai limbah sampah. Hasilnya, para siswa ternyata bisa menyajikan beragam desain yang menarik dan menawan tanpa meninggalkan konsep daur ulang limbah sampah sebagai bahan bakunya. Limbah plastik, kain, hingga compact disc mereka sulap menjadi busana indah dengan komposisi warna yang tertata apik hingga menarik perhatian. Muchaimin sangat mengapresiasi suksesnya kegiatan ini.
Dia berharap acara kampanye lingkungan semacam ini lebih digalakkan, tentu dalam format yang mungkin berbeda. Dia yakin, melalui kegiatan ini masyarakat bisa semakin akrab pada penggunaan sistem reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), dan recycle (mengolah) sampah. Hingga saat ini, kebanyakan sampah yang dihasilkan di dunia merupakan limbah rumah tangga.
Sebanyak 60% di antaranya masih bisa dimanfaatkan kembali untuk diolah menjadi barang yang bermanfaat untuk kehidupan dan bernilai ekonomis. Bila daur ulang sampah ini telah menjadi budaya masyarakat, sampah rumah tangga yang dibawa ke tempat pembuangan sampah (TPS) bisa dikurangi, dan mengurangsi risiko overload sampah di TPS.
“Limbah dan sampah rumah tangga masih bisa dipilah-pilah dan dipergunakan sebagai barang bermanfaat. Sampah yang dikelola dengan baik, juga bisa memiliki nilai ekonomis. Dengan demikian, sampah yang terbuang di tempat pembuangan akhir (TPA) hanya sekitar 20% dari produksi sampah rumah tangga,” ucapnya. Makdalena Dessy, siswi kelas XI SMAN 1 Kejayan, yang menjadi peserta mengaku senang bisa berpartisipasi dalam lomba peragaan busana daur ulang tersebut.
Menurut dia, konsep busana daur ulang ini menuntut setiap peserta berpikir lebih kreatif mengolah berbagai limbah sampah, sehingga terlihat padu dalam bentuk busana. “Saya juga bisa belajar berani tampil dan percaya diri di depan orang banyak. Lomba ini juga mengajarkan untuk menjaga kelestarian lingkungan sekitar,” kata siswi asal Kabupaten Biak, Papua, yang mendapatkan beasiswa belajar di SMAN 1 Kejayan tersebut.
Arie yoenianto
Hal tersebut dibuktikan para pelajar di Kabupaten Pasuruan yang beradu kreativitas mengolah limbah sampah menjadi busana. Hasil kreasi para pelajar untuk merangkai limbah plastik, kertas, kain perca, dan daun-daunan tersebut dilombakan dalam peragaan busana daur ulang di Pendopo Kabupaten Pasuruan, kemarin.
Peragaan busana yang menggambarkan keragaman dan keunikan budaya di Indonesia ini dilaksanakan sebagai rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup di Kabupaten Pasuruan. Selain peragaan busana, digelar pula lomba foto dan karya tulis ilmiah pelajar se-Kabupaten Pasuruan. Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Pasuruan, Muchaimin, mengungkapkan apresiasinya atas antusiasme dan kreativitas para pelajar dalam mendaur ulang limbah sampah menjadi busana menawan.
Hal ini menunjukkan bahwa limbah sampah masih bisa diolah dan dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomis. “Kami ingin mengubah pola pikir dan perilaku masyarakat untuk hidup sehat akibat penurunan kualitas lingkungan. Kami mengajak masyarakat peduli dan menjaga kebersihan lingkungan sekitarnya,” ungkap Muchaimin. Tidak ada tema khusus yang disyaratkan dalam lomba desain dan peragaan busana tersebut. Panitia membebaskan sepenuhnya tema pada kreativitas para pelajar.
Panitia hanya busana yang dihasilkan menunjukkan identitas dan keragaman budaya, serta menonjolkan konsep busana daur ulang yang berasal dari berbagai limbah sampah. Hasilnya, para siswa ternyata bisa menyajikan beragam desain yang menarik dan menawan tanpa meninggalkan konsep daur ulang limbah sampah sebagai bahan bakunya. Limbah plastik, kain, hingga compact disc mereka sulap menjadi busana indah dengan komposisi warna yang tertata apik hingga menarik perhatian. Muchaimin sangat mengapresiasi suksesnya kegiatan ini.
Dia berharap acara kampanye lingkungan semacam ini lebih digalakkan, tentu dalam format yang mungkin berbeda. Dia yakin, melalui kegiatan ini masyarakat bisa semakin akrab pada penggunaan sistem reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), dan recycle (mengolah) sampah. Hingga saat ini, kebanyakan sampah yang dihasilkan di dunia merupakan limbah rumah tangga.
Sebanyak 60% di antaranya masih bisa dimanfaatkan kembali untuk diolah menjadi barang yang bermanfaat untuk kehidupan dan bernilai ekonomis. Bila daur ulang sampah ini telah menjadi budaya masyarakat, sampah rumah tangga yang dibawa ke tempat pembuangan sampah (TPS) bisa dikurangi, dan mengurangsi risiko overload sampah di TPS.
“Limbah dan sampah rumah tangga masih bisa dipilah-pilah dan dipergunakan sebagai barang bermanfaat. Sampah yang dikelola dengan baik, juga bisa memiliki nilai ekonomis. Dengan demikian, sampah yang terbuang di tempat pembuangan akhir (TPA) hanya sekitar 20% dari produksi sampah rumah tangga,” ucapnya. Makdalena Dessy, siswi kelas XI SMAN 1 Kejayan, yang menjadi peserta mengaku senang bisa berpartisipasi dalam lomba peragaan busana daur ulang tersebut.
Menurut dia, konsep busana daur ulang ini menuntut setiap peserta berpikir lebih kreatif mengolah berbagai limbah sampah, sehingga terlihat padu dalam bentuk busana. “Saya juga bisa belajar berani tampil dan percaya diri di depan orang banyak. Lomba ini juga mengajarkan untuk menjaga kelestarian lingkungan sekitar,” kata siswi asal Kabupaten Biak, Papua, yang mendapatkan beasiswa belajar di SMAN 1 Kejayan tersebut.
Arie yoenianto
(ars)