MEA Perlu Payung Hukum

Minggu, 24 Mei 2015 - 11:31 WIB
MEA Perlu Payung Hukum
MEA Perlu Payung Hukum
A A A
SURABAYA - Negara-negara di wilayah Asean perlu menyepakati payung hukum yang menjadi landasan pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Terutama menyangkut banyak bidang, ekonomi, hukum, ketenagakerjaan dan lainnya di lintas negara. Tanpa adanya kesepakatan regional, MEA justru bisa membenturkan antarnegara.

Ini ini disampaikan sejumlah dosen sekaligus pakar hukum dari sejumlah perguruan tinggi (PT) di Asean saat menjadi pembicara seminar internasional bertema ”2015 Asean Economic Community: Legal and Business Challenges” di seminar room, Universitas Hang Tuah (UHT), Jalan Arif Rahman Hakim 150 Surabaya, kemarin.

Dua di antara pembicara asing yang hadir, Joshua Snider dari The University of Nottingham Malaysia Campus) yang menyampaikan materi Asean and Economic Policy; serta Edmund W SIM dari Associate Professor at The National University of Singapore Law School yang memaparkan materi The Foundation of the Asean Economic Community: An Institutional and Legal Profile. Dekan Fakultas Hukum UHT Surabaya Choirul Huda selaku penyelenggara seminar menyatakan, negara-negara di Asean hingga saat ini belum menyepakati payung hukum terkait MEA.

”Sebenarnya keberadaan payung hukum ini bisa dikatakan terlambat jika baru akan dibahas karena pemberlakuan MEA kurang beberapa bulan lagi. Tapi dari pada tidak ada (payung hukum) sama sekali,” kata Choirul. Belum adanya kesepakatan ini membuat negara-negara menjadi renntan, tidak terkecuali Indonesia.

”Misalkan ada sengketa ketenagakerjaan lintas negara, penyelesaiannya bagaimana?. Maka harus ada payung hukum yang disepakati negara-negara. Perlu ada hukum yang disepakati bersama, untuk banyak bidang,” imbuhnya. Choirul juga menyayangkan belum adanya pakar hukum di Tanah Air yang menyikapi masalah ini. Jangan lantas baru bersuara setelah ada masalah.

Sementara itu, Edmund W SIM dari Associate Professor at The National University of Singapore Law School mengingatkan bahwa pondasi kesepakatan antarnegara di asean sudah ada, yakni Bali Concord tahun 1976 yang mencakup dukungan makanan dan energi, berdirinya proyek industri dengan materi yang ada untuk peningkatan produksi makanan dan meningkatkan perdagangan, serta menciptakan lapangan pekerjaan. Bangkon Declaration 1967 juga bisa menjadi dasar.

Karena ini mencakup promosi yang untungkan semua pihak dengan tujuan bermacam- macam. Joshua Snider dari The University of Nottingham Malaysia Campus mengingatkan, tidak adanya kejelasan aturan hukum akan berimplikasi besar pada negara-negara di Asean.

Soeprayitno
(ars)
Berita Terkait
DPW PKS Jawa Timur Siap...
DPW PKS Jawa Timur Siap Sinergi dan Kolaborasi Bangun Jawa Timur
Inflasi Jawa Timur September...
Inflasi Jawa Timur September Tertinggi di Pulau Jawa
China Mendominasi Impor...
China Mendominasi Impor Jawa Timur
Hari Pertama PPKM, 792...
Hari Pertama PPKM, 792 Warga Jatim Positif COVID-19
Gubernur Khofifah dan...
Gubernur Khofifah dan Dubes Finlandia Jajaki Potensi Kerjasama Pendidikan dan Teknologi
BPH Migas bersama Anggota...
BPH Migas bersama Anggota Komisi VII DPR RI Gelar Sosialisasi
Berita Terkini
MNC Vision Network-MNC...
MNC Vision Network-MNC Peduli Salurkan Bantuan Seragam dan Sembako di Panti Asuhan Anak Ceria Indonesia Depok
11 menit yang lalu
Resmi Dibuka, DAIKIN...
Resmi Dibuka, DAIKIN Proshop Alvamega Hadirkan Solusi Tata Udara Premium di Serpong
21 menit yang lalu
300 Siswa-Warga Dapatkan...
300 Siswa-Warga Dapatkan Pemeriksaan Mata dan Kacamata Gratis
33 menit yang lalu
Bongkar Gudang Penyimpanan...
Bongkar Gudang Penyimpanan Kosmetik Impor Ilegal di Tangerang, BPOM Ungkap Modus Operandi dan Peredaran
55 menit yang lalu
Stop Polemik, Prof Dede:...
Stop Polemik, Prof Dede: Pengelolaan Yayasan Diserahkan ke Pemerintah melalui UIN Jakarta
2 jam yang lalu
Hari Lingkungan Hidup...
Hari Lingkungan Hidup Sedunia, UMJ Tanam 3.650 Bibit Pohon di Ciputat
4 jam yang lalu
Infografis
Perlu Diwaspadai, Ini...
Perlu Diwaspadai, Ini 15 Tanda Tubuh Kelebihan Kafein
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved