Bus Listrik di Belantara Kota, Jalan Panjang PLN Dorong Transisi Energi Nusantara
Kamis, 29 Desember 2022 - 18:20 WIB
loading...
A
A
A
Salah satu upaya PLN mendukung penurunan emisi karbon adalah dengan menggalakkan program electrifying lifestyle. Program ini mengajak masyarakat beralih ke peralatan berbasis listrik seperti kompor induksi hingga kendaraan listrik. Hal ini penting mengingat kendaraan merupakan salah satu kebutuhan utama bagi masyarakat.
"Beralihnya transportasi ke kendaraan listrik dapat mendukung terciptanya lingkungan yang lebih hijau," tambah Manager Komunikasi dan TJSL PLN UID Jabar Dindin Mulyadin.
Untuk mendukung perkembangan ekosistem kendaraan listrik, PLN terus membangun infrastruktur SPKLU. PLN juga akan menyediakan Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU). Stasiun ini akan memudahkan pengguna kendaraan listrik seperti sepeda motor mendapatkan baterai secara cepat.
PLN juga memberikan kemudahan bagi konsumen yang menggunakan kendaraan listrik, antara lain melalui promo Super Everyday. Di mana konsumen yang melakukan pasang baru listrik dengan harga spesial untuk pemilik mobil listrik, diskon tarif listrik sebesar 30 persen pada pukul 22.00 hingga 05.00 pagi. Juga terdapat fitur pendukung ekosistem EV dengan teknologi Electric Vehicle Digital Services yang terintegrasi di aplikasi PLN Mobile.
Direktur Retail dan Niaga PLN Edi Srimulyanti menambahkan, PLN mendukung penuh penggunaan kendaraan energi ramah lingkungan. Inisiatif ini merupakan upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan dan menjaga keberlanjutan generasi yang akan datang.
"Bagaimana agar lingkungan kita tetap hijau? Salah satunya adalah melalui penggunaan kendaraan listrik. PLN akan terus mendorong kemajuan ekosistem kendaran listrik ini," katanya.
Reduksi Emisi Karbon
Tak hanya mendukung kendaraan listrik, PLN juga terus menggencarkan penggunaan energi ramah lingkungan pada sumber listriknya. Secara internal, PLN mendorong penggunaan energi ramah lingkungan dengan memanfaatkan pembangkit energi baru terbarukan (EBT).
Pada November 2022 lalu, PT PLN (Persero) mengumumkan telah mengurangi 32 juta metrik ton emisi karbon gas rumah kaca sepanjang 2022.
"Dengan bangga saya katakan, tahun ini kami sukses mereduksi 32 juta metric ton emisi C02, melampaui target NDC kita," jelas Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo dalam siaran persnya, pada agenda Decarbonizing Energy Sector for Net Zero Indonesia Pavillion di COP 27 di Mesir, Senin (7/11/2022).
PLN melakukan pendekatan holistik. Di antaranya menambah kapasitas pembangkit EBT, mengolah hasil gas buang menjadi energi listrik, menggunakan teknologi pembangkit batubara yang lebih efisien, dan menerapkan co-firing biomassa.
"Kami lakukan yang terbaik dan bergerak sejauh yang kami bisa. Tahun lalu, 13 gigawatt pembangkit batubara yang masih dalam perencanaan kami hapus sehingga menghindarkan Indonesia dari 1,8 miliar metric ton emisi CO2 selama 25 tahun ke depan," ungkapnya.
Darmawan memastikan akan menambahkan ruang yang lebih besar untuk pembangkit EBT, sebagai sumber listrik PLN. Saat ini PLN terus meningkatkan pemanfaatan pembangkit EBT berbasis tenaga surya, panas bumi, hidro, hingga ombak.
"Kami secara agresif meningkatkan pemanfaatan EBT. Sehingga setiap potensi EBT yang ada akan kami maksimalkan. Bersamaan dengan itu, kami perlu meningkatkan kapasitas teknologi guna mengakomodir fluktuasi supply-demand untuk sistem baru tersebut," tambahnya.
Untuk mencapai target NZE di 2060, PLN melakukan pendekatan holistik melalui delapan inisiatif. Terdiri atas pensiun dini pembangkit fosil, pilot proyek co-firing hidrogen dan amonia, menambah pembangkit energi terbarukan (EBT), layanan energi hijau, co-firing biomassa, inisiasi carbon capture storage, peluncuran smart grid control system, dan membangun ekosistem kendaraan listrik.
Darmawan menegaskan, pemanasan global adalah tantangan bersama. Dibutuhkan strategi dan kolaborasi bersama dari seluruh dunia baik dari teknologi, inovasi, hingga investasi.
Energi Bersih Menuju NZE 2060
Sebagai perusahaan yang menyuplai listrik ke seluruh daerah di Indonesia, PLN menyatakan komitmennya memimpin transisi energi di Indonesia dengan menghadirkan peta jalan mencapai Net Zero Emission (NZE) 2060. Di kancah global, peta jalan tersebut telah disampaikan pada KTT COP26 di Glasgow pada 2021 lalu.
Darmawan Prasodjo mengatakan, PLN sudah menyiapkan peta jalan early retirement pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) untuk mencapai NZE pada tahun 2060. Tahapan mekanisme retirement PLTU batubara akan dilaksanakan secara bertahap hingga tahun 2056 dan PLN akan menggantinya dengan EBT.
Percepatan retirement PLTU sebesar 3,5 GW juga dilakukan sebelum 2040, untuk PLTU dengan teknologi subcritical. Namun, percepatan retirement tersebut dapat dilakukan ketika kapasitas EBT pengganti sudah beroperasi. Kemudian aspek just transition terpenuhi, tidak menyebabkan peningkatan beban keuangan yang memberatkan pemerintah, dan adanya bantuan pendanaan dari komunitas internasional.
PLN juga akan mengoperasikan PLTU dengan Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) sebesar 19 GW. Inisiatif lainnya seperti biomass co firing di beberapa PLTU juga akan dilakukan untuk mencegah emisi di masa mendatang
"Kami juga tidak akan melakukan pembangunan PLTU, kecuali penyelesaian pembangunan yang saat ini sudah dalam tahap konstruksi," tegas Darmawan.
Walaupun, diakuinya, untuk menghentikan PLTU, PLN membutuhkan dana yang tidak sedikit. Namun pemerintah telah meluncurkan Energy Transition Mechanism (ETM) sebagai salah satu strategi pembiayaan untuk mempensiunkan PLTU ini.
Darmawan menjelaskan meski mempensiunkan PLTU dilakukan secara bertahap, namun PLN tidak tinggal diam dalam upaya mengurangi emisi di PLTU yang telah beroperasi. PLN berinovasi dengan melaksanakan program co-firing biomassa untuk PLTU.
Pelaksanaan program co-firing di PLTU milik PLN yang dimulai dari tahun 2020 telah berhasil dilakukan pada 32 lokasi PLTU. Melalui substitusi sebagian batubara dengan biomassa sehingga berdampak terhadap peningkatan bauran EBT dan penurunan emisi karbon.
“Ini adalah ekosistem energi berbasis kerakyatan karena pasokan biomassa akan dipenuhi dari kolaborasi seluruh elemen masyarakat,” ujarnya.
Tak hanya menekan emisi lewat pengurangan batubara di pembangkit, PLN juga melakukan program dedieselisasi 5.200 pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) eksisting di seluruh Indonesia. PLN menggantinya dengan pembangkit EBT yang berbasis pada potensi alam setempat.
“Ini adalah perubahan besar karena mengubah energi berbasis impor menjadi energi berbasis domestik yang lebih murah,” katanya.
Sebagai gantinya, PLN juga mengembangkan pembangkit listrik berbasis EBT sebesar 20,9 GW pada 2030. "Kami menjadi garda depan dalam mendukung upaya pemerintah mengurangi emisi karbon dan transisi energi. Kami percaya upaya ini butuh kolaborasi dan kerja sama semua pihak. Kami, PLN membuka peluang kerja sama untuk bisa menyukseskan agenda ini," pungkas Darmawan.
"Beralihnya transportasi ke kendaraan listrik dapat mendukung terciptanya lingkungan yang lebih hijau," tambah Manager Komunikasi dan TJSL PLN UID Jabar Dindin Mulyadin.
Untuk mendukung perkembangan ekosistem kendaraan listrik, PLN terus membangun infrastruktur SPKLU. PLN juga akan menyediakan Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU). Stasiun ini akan memudahkan pengguna kendaraan listrik seperti sepeda motor mendapatkan baterai secara cepat.
PLN juga memberikan kemudahan bagi konsumen yang menggunakan kendaraan listrik, antara lain melalui promo Super Everyday. Di mana konsumen yang melakukan pasang baru listrik dengan harga spesial untuk pemilik mobil listrik, diskon tarif listrik sebesar 30 persen pada pukul 22.00 hingga 05.00 pagi. Juga terdapat fitur pendukung ekosistem EV dengan teknologi Electric Vehicle Digital Services yang terintegrasi di aplikasi PLN Mobile.
Direktur Retail dan Niaga PLN Edi Srimulyanti menambahkan, PLN mendukung penuh penggunaan kendaraan energi ramah lingkungan. Inisiatif ini merupakan upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan dan menjaga keberlanjutan generasi yang akan datang.
"Bagaimana agar lingkungan kita tetap hijau? Salah satunya adalah melalui penggunaan kendaraan listrik. PLN akan terus mendorong kemajuan ekosistem kendaran listrik ini," katanya.
Reduksi Emisi Karbon
Tak hanya mendukung kendaraan listrik, PLN juga terus menggencarkan penggunaan energi ramah lingkungan pada sumber listriknya. Secara internal, PLN mendorong penggunaan energi ramah lingkungan dengan memanfaatkan pembangkit energi baru terbarukan (EBT).
Pada November 2022 lalu, PT PLN (Persero) mengumumkan telah mengurangi 32 juta metrik ton emisi karbon gas rumah kaca sepanjang 2022.
"Dengan bangga saya katakan, tahun ini kami sukses mereduksi 32 juta metric ton emisi C02, melampaui target NDC kita," jelas Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo dalam siaran persnya, pada agenda Decarbonizing Energy Sector for Net Zero Indonesia Pavillion di COP 27 di Mesir, Senin (7/11/2022).
PLN melakukan pendekatan holistik. Di antaranya menambah kapasitas pembangkit EBT, mengolah hasil gas buang menjadi energi listrik, menggunakan teknologi pembangkit batubara yang lebih efisien, dan menerapkan co-firing biomassa.
"Kami lakukan yang terbaik dan bergerak sejauh yang kami bisa. Tahun lalu, 13 gigawatt pembangkit batubara yang masih dalam perencanaan kami hapus sehingga menghindarkan Indonesia dari 1,8 miliar metric ton emisi CO2 selama 25 tahun ke depan," ungkapnya.
Darmawan memastikan akan menambahkan ruang yang lebih besar untuk pembangkit EBT, sebagai sumber listrik PLN. Saat ini PLN terus meningkatkan pemanfaatan pembangkit EBT berbasis tenaga surya, panas bumi, hidro, hingga ombak.
"Kami secara agresif meningkatkan pemanfaatan EBT. Sehingga setiap potensi EBT yang ada akan kami maksimalkan. Bersamaan dengan itu, kami perlu meningkatkan kapasitas teknologi guna mengakomodir fluktuasi supply-demand untuk sistem baru tersebut," tambahnya.
Untuk mencapai target NZE di 2060, PLN melakukan pendekatan holistik melalui delapan inisiatif. Terdiri atas pensiun dini pembangkit fosil, pilot proyek co-firing hidrogen dan amonia, menambah pembangkit energi terbarukan (EBT), layanan energi hijau, co-firing biomassa, inisiasi carbon capture storage, peluncuran smart grid control system, dan membangun ekosistem kendaraan listrik.
Darmawan menegaskan, pemanasan global adalah tantangan bersama. Dibutuhkan strategi dan kolaborasi bersama dari seluruh dunia baik dari teknologi, inovasi, hingga investasi.
Energi Bersih Menuju NZE 2060
Sebagai perusahaan yang menyuplai listrik ke seluruh daerah di Indonesia, PLN menyatakan komitmennya memimpin transisi energi di Indonesia dengan menghadirkan peta jalan mencapai Net Zero Emission (NZE) 2060. Di kancah global, peta jalan tersebut telah disampaikan pada KTT COP26 di Glasgow pada 2021 lalu.
Darmawan Prasodjo mengatakan, PLN sudah menyiapkan peta jalan early retirement pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) untuk mencapai NZE pada tahun 2060. Tahapan mekanisme retirement PLTU batubara akan dilaksanakan secara bertahap hingga tahun 2056 dan PLN akan menggantinya dengan EBT.
Percepatan retirement PLTU sebesar 3,5 GW juga dilakukan sebelum 2040, untuk PLTU dengan teknologi subcritical. Namun, percepatan retirement tersebut dapat dilakukan ketika kapasitas EBT pengganti sudah beroperasi. Kemudian aspek just transition terpenuhi, tidak menyebabkan peningkatan beban keuangan yang memberatkan pemerintah, dan adanya bantuan pendanaan dari komunitas internasional.
PLN juga akan mengoperasikan PLTU dengan Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) sebesar 19 GW. Inisiatif lainnya seperti biomass co firing di beberapa PLTU juga akan dilakukan untuk mencegah emisi di masa mendatang
"Kami juga tidak akan melakukan pembangunan PLTU, kecuali penyelesaian pembangunan yang saat ini sudah dalam tahap konstruksi," tegas Darmawan.
Walaupun, diakuinya, untuk menghentikan PLTU, PLN membutuhkan dana yang tidak sedikit. Namun pemerintah telah meluncurkan Energy Transition Mechanism (ETM) sebagai salah satu strategi pembiayaan untuk mempensiunkan PLTU ini.
Darmawan menjelaskan meski mempensiunkan PLTU dilakukan secara bertahap, namun PLN tidak tinggal diam dalam upaya mengurangi emisi di PLTU yang telah beroperasi. PLN berinovasi dengan melaksanakan program co-firing biomassa untuk PLTU.
Pelaksanaan program co-firing di PLTU milik PLN yang dimulai dari tahun 2020 telah berhasil dilakukan pada 32 lokasi PLTU. Melalui substitusi sebagian batubara dengan biomassa sehingga berdampak terhadap peningkatan bauran EBT dan penurunan emisi karbon.
“Ini adalah ekosistem energi berbasis kerakyatan karena pasokan biomassa akan dipenuhi dari kolaborasi seluruh elemen masyarakat,” ujarnya.
Tak hanya menekan emisi lewat pengurangan batubara di pembangkit, PLN juga melakukan program dedieselisasi 5.200 pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) eksisting di seluruh Indonesia. PLN menggantinya dengan pembangkit EBT yang berbasis pada potensi alam setempat.
“Ini adalah perubahan besar karena mengubah energi berbasis impor menjadi energi berbasis domestik yang lebih murah,” katanya.
Sebagai gantinya, PLN juga mengembangkan pembangkit listrik berbasis EBT sebesar 20,9 GW pada 2030. "Kami menjadi garda depan dalam mendukung upaya pemerintah mengurangi emisi karbon dan transisi energi. Kami percaya upaya ini butuh kolaborasi dan kerja sama semua pihak. Kami, PLN membuka peluang kerja sama untuk bisa menyukseskan agenda ini," pungkas Darmawan.
(msd)
Lihat Juga :