Kerajaan Majapahit, Dibentengi Gapura Megah dengan Alun-alun yang Dikelilingi Jalur Air Pengendali Banjir
Kamis, 29 Desember 2022 - 05:31 WIB
loading...
A
A
A
Baca: Arya Damar, Ahli Mesiu Kerajaan Majapahit Sang Penakluk Kerajaan Bali
Adapun sumber air ibu kota Kerajaan Majapahit berasal dari sungai-sungai yang ada di sebelah selatan ibu kota.
Sayang, peta utuh Kerajaan Majapahit hingga saat ini tidak pernah ditemukan. Para ahli telah berusaha membuat gambar peta itu, dengan acuan kitab Negarakertagama yang ditemukan pertama kali di Lombok, pada 1902.
Tercatat, rekonstruksi Kota Majapahit telah dilakukan oleh Kern pada 1905 dan 1914. Hasilnya lalu dipublikasikan oleh Kern dan Poerbatjaraka. Tetapi sketsa kasar itu menuai kritik dari sejumlah peneliti lainnya.
Baca: Harta Karun Gunung Penanggungan Jejak Peninggalan Kerajaan Majapahit
Mengikuti jejak Kern, Stuterheim pada 1914 dan Pigeaud tahun 1960-1963 membuat kembali rekonstruksi ibu kota Majapahit itu. Kedua peneliti ini juga saling silang pendapat. Acuan terhadap peta itu pun terus berpolemik.
Sementara para ahli terus berpolemik, kitab Negarakertagama terus menjadi acuan penulisan Kerajaan Majapahit.
Dalam kitab itu disebutkan, bahwa inti pusat Kerajaan Majapahit terdiri dari sebuah sentrum ganda dan terdapat beberapa daerah suci. Salah satu yang terpenting adalah tempat pemujaan di sebelah timur alun-alun Lor.
Baca: Penampakan Petirtaan Kerajaan Majapahit Bikin Warga Gresik Gempar
Di tengah-tengah tempat pemujaan itu, terdapat viraha Siva, lengkap dengan tempat upacara pengorbanan.
Menurut Maclaine Ponnt, luas seluruh kota Majapahit kurang lebih 8-9 km persegi dan tidak memiliki benteng kota. Hanya istana raja saja yang memiliki benteng. Dengan demikian, tidak ada jarak antara kerajaan dan warganya.
Adapun sumber air ibu kota Kerajaan Majapahit berasal dari sungai-sungai yang ada di sebelah selatan ibu kota.
Sayang, peta utuh Kerajaan Majapahit hingga saat ini tidak pernah ditemukan. Para ahli telah berusaha membuat gambar peta itu, dengan acuan kitab Negarakertagama yang ditemukan pertama kali di Lombok, pada 1902.
Tercatat, rekonstruksi Kota Majapahit telah dilakukan oleh Kern pada 1905 dan 1914. Hasilnya lalu dipublikasikan oleh Kern dan Poerbatjaraka. Tetapi sketsa kasar itu menuai kritik dari sejumlah peneliti lainnya.
Baca: Harta Karun Gunung Penanggungan Jejak Peninggalan Kerajaan Majapahit
Mengikuti jejak Kern, Stuterheim pada 1914 dan Pigeaud tahun 1960-1963 membuat kembali rekonstruksi ibu kota Majapahit itu. Kedua peneliti ini juga saling silang pendapat. Acuan terhadap peta itu pun terus berpolemik.
Sementara para ahli terus berpolemik, kitab Negarakertagama terus menjadi acuan penulisan Kerajaan Majapahit.
Dalam kitab itu disebutkan, bahwa inti pusat Kerajaan Majapahit terdiri dari sebuah sentrum ganda dan terdapat beberapa daerah suci. Salah satu yang terpenting adalah tempat pemujaan di sebelah timur alun-alun Lor.
Baca: Penampakan Petirtaan Kerajaan Majapahit Bikin Warga Gresik Gempar
Di tengah-tengah tempat pemujaan itu, terdapat viraha Siva, lengkap dengan tempat upacara pengorbanan.
Menurut Maclaine Ponnt, luas seluruh kota Majapahit kurang lebih 8-9 km persegi dan tidak memiliki benteng kota. Hanya istana raja saja yang memiliki benteng. Dengan demikian, tidak ada jarak antara kerajaan dan warganya.
Lihat Juga :