Sejarah Kotagede, Kota Lama Tempat Lahirnya Bumi Mataram di Jogjakarta
Rabu, 28 Desember 2022 - 16:16 WIB
loading...
A
A
A
Perjalanan periodesasi pemerintahan yang memiliki pengaruh besar di Kotagede saat ini dapat dilihat dari segi arsitektur rumah dan bangunannya, yaitu masa Mataram awal (Abad 17) yang bercorak Hindu-Jawa-Islam. Selanjutnya masa Kotagede yang bercorak Jawa-Islam, dan masa awal abad 20 yang bercorak Indische perpaduan Jawa.
Bangunan joglo pada periode Jawa Hindu memiliki ornamen berupa ukiran daun-daunan , sulur-suluran, bunga teratai, dan gambar binatang.
Sedangkan bangunan Joglo periode Jawa-Islam memiliki ukiran dengan ornamen kaligrafi Islam. Sementara itu, joglo periode Jawa-kolonial ukirannya berupa mahkota kerajaan Belanda dengan perpaduan besi, jendela besar, atau kaca patri khas Barat.
Pada masa pemerintahan Sultan Agung (1613-1645) ibukota Kerajaan Mataram Islam dipindahkan ke Kerto, jaraknya 4,5 kilometer ke arah selatan. Sementara itu, Kotagede menjadi pusat perdagangan penduduk yang kemudian muncul sebutan Pasar Gede.
Meskipun saat ini Kotagede sudah tidak lagi berfungsi sebagai pusat pemerintahan, Kotagede tetap hidup sebagai daerah di Yogyakarta yang penuh dengan hiruk pikuk aktivitas manusia. Di kawasan itu masih dapat disaksikan rumah-rumah tradisional kuno, meskipun tidak sezaman dengan masa keemasan Kotagede.
Fasad bangunan di Kotagede secara tidak langsung telah memberikan identitas kawasan Kotagede sebagai kawasan bersejarah.
Saat ini, Kotagede lebih dikenal dengan sebutan Kota Perak. Hal ini karena banyak industri perak yang berdiri di Kotagede sekitar tahun 1920-1930-an. Kotagede saat ini bukan lagi sebagai pusat pemerintahan melainkan sebagai salah satu tempat kunjungan destinasi wisata budaya.
Baca pembahasan mengenai Peradaban Kerajaan di Indonesia selengkapnya di iNews.id melalui link berikut https://www.inews.id/tag/spesial-isu
Bangunan joglo pada periode Jawa Hindu memiliki ornamen berupa ukiran daun-daunan , sulur-suluran, bunga teratai, dan gambar binatang.
Sedangkan bangunan Joglo periode Jawa-Islam memiliki ukiran dengan ornamen kaligrafi Islam. Sementara itu, joglo periode Jawa-kolonial ukirannya berupa mahkota kerajaan Belanda dengan perpaduan besi, jendela besar, atau kaca patri khas Barat.
Pada masa pemerintahan Sultan Agung (1613-1645) ibukota Kerajaan Mataram Islam dipindahkan ke Kerto, jaraknya 4,5 kilometer ke arah selatan. Sementara itu, Kotagede menjadi pusat perdagangan penduduk yang kemudian muncul sebutan Pasar Gede.
Meskipun saat ini Kotagede sudah tidak lagi berfungsi sebagai pusat pemerintahan, Kotagede tetap hidup sebagai daerah di Yogyakarta yang penuh dengan hiruk pikuk aktivitas manusia. Di kawasan itu masih dapat disaksikan rumah-rumah tradisional kuno, meskipun tidak sezaman dengan masa keemasan Kotagede.
Fasad bangunan di Kotagede secara tidak langsung telah memberikan identitas kawasan Kotagede sebagai kawasan bersejarah.
Saat ini, Kotagede lebih dikenal dengan sebutan Kota Perak. Hal ini karena banyak industri perak yang berdiri di Kotagede sekitar tahun 1920-1930-an. Kotagede saat ini bukan lagi sebagai pusat pemerintahan melainkan sebagai salah satu tempat kunjungan destinasi wisata budaya.
Baca pembahasan mengenai Peradaban Kerajaan di Indonesia selengkapnya di iNews.id melalui link berikut https://www.inews.id/tag/spesial-isu
(shf)
Lihat Juga :