Perebutan Tahta saat Portugis Belum Diusir, Kerajaan Demak Runtuh
Selasa, 20 Desember 2022 - 05:03 WIB
loading...
A
A
A
Pasalnya, Pangeran Sekar Ing Seda Lepen ayahnya, dibunuh secara tragis oleh Sunan Prawoto. Arya Penangsang yang didukung gurunya, Sunan Kudus untuk merebut takhta Demak kemudian berniat balas dendam.Arya Penangsang lalu bersiasat dengan mengirim anak buahnya yang bernama Rangkud untuk membalas kematian ayahnya.
Dalam Babad Tanah Jawi, dikisahkan bahwa pada 1549 Rangkud berhasil menyusup ke dalam kamar tidur Sunan Prawoto. Pada malam itu, Sunan Prawoto mengakui kesalahannya telah membunuh Pangeran Seda Lepen.
Dia rela dihukum mati asalkan keluarganya tidak diapa-apakan. Usai mendengar penjelasan tersebut Rangkud lalu menusuk dada Sunan Prawoto yang pasrah tanpa perlawanan sampai tembus ke belakang. Celakanya, ternyata istri Sunan Prawoto sedang berlindung di balik punggung suaminya.
Akibatnya istri Sunan Prawoto pun tewas terkena tusukan dari Rangkud. Melihat istrinya meninggal, Sunan Prawoto marah dan dengan sisa tenaganya ia membunuh Rangkud.
Belum puas. Usai berhasil membunuh Sunan Prawoto, Arya Penangsang juga membunuh Adipati Jepara, Sultan Hadlirin yang sangat besar pengaruhnya di Kerajaan Demak.
Pangeran Hadiri dibunuh karena diduga sebagai penghalang Arya Penangsang untuk menjadi Sultan Demak. Setelah berhasil membunuh Sultan Prawoto dan pengikutnya, naiklah Arya Penangsang ke tahta kerajaan Demak.
Pembunuhan itu menimbulkan babak baru dendam kesumat. Istri Sultan Hadlirin yaitu Ratu Kalinyamat membuat sayembara. Insinya, “Siapa saja yang bisa membunuh Arya Penangsang, akan menjadi suamiku dan mendapatkan harta bendaku”.
Sayembara itu didengar oleh Jaka Tingkir yang bergelar Sultan Hadiwijaya yang saat itu berkuasa di Pajang. Jaka Tingkir yang pernah menjadi prajurit Demak menyanggupi untuk membunuh Arya Penangsang.
Jaka Tingkir sendiri merupakan adik ipar dari Sunan Prawoto dan Ratu Kalinyamat yang dibunuh oleh kaki tangan Arya Penangsang. Jaka Tingkir bersama Ki Ageng Penjawi dan Ki Ageng Pemanahan akhirnya berhasil membunuh Arya Penangsang dan merebut kekuasan Kerajaan Demak.
Karena membantu dalam pertempuran melawan Arya Penangsang, Jaka Tingkir memberi hadiah Ki Ageng Penjawi berupa tanah di wilayah Pati. Sedangkan Ki Ageng Pemanahan mendapat hadiah tanah wilayah Mataram.
Sementara Bupati Surabaya yang banyak menundukkan daerah-daerah wilayah Jawa Timur diangkat menjadi wakil raja dengan daerah kekuasaan Sedayu, Gresik, Surabaya dan Panarukan.
Jaka Tingkir lalu memindahkan pusat kerajaan Demak ke Pajang. Tak hanya itu, putra Ki Ageng Pemanahan bernama Sutawijaya yang berhasil mengalahkan Arya Penangsang kemudian diangkat sebagai anak angkat Sultan Hadiwijaya dan menjadi saudara Pangeran Benawa yang merupakan putera mahkota Kesultanan Pajang.
Dalam Babad Tanah Jawi, dikisahkan bahwa pada 1549 Rangkud berhasil menyusup ke dalam kamar tidur Sunan Prawoto. Pada malam itu, Sunan Prawoto mengakui kesalahannya telah membunuh Pangeran Seda Lepen.
Dia rela dihukum mati asalkan keluarganya tidak diapa-apakan. Usai mendengar penjelasan tersebut Rangkud lalu menusuk dada Sunan Prawoto yang pasrah tanpa perlawanan sampai tembus ke belakang. Celakanya, ternyata istri Sunan Prawoto sedang berlindung di balik punggung suaminya.
Akibatnya istri Sunan Prawoto pun tewas terkena tusukan dari Rangkud. Melihat istrinya meninggal, Sunan Prawoto marah dan dengan sisa tenaganya ia membunuh Rangkud.
Belum puas. Usai berhasil membunuh Sunan Prawoto, Arya Penangsang juga membunuh Adipati Jepara, Sultan Hadlirin yang sangat besar pengaruhnya di Kerajaan Demak.
Pangeran Hadiri dibunuh karena diduga sebagai penghalang Arya Penangsang untuk menjadi Sultan Demak. Setelah berhasil membunuh Sultan Prawoto dan pengikutnya, naiklah Arya Penangsang ke tahta kerajaan Demak.
Pembunuhan itu menimbulkan babak baru dendam kesumat. Istri Sultan Hadlirin yaitu Ratu Kalinyamat membuat sayembara. Insinya, “Siapa saja yang bisa membunuh Arya Penangsang, akan menjadi suamiku dan mendapatkan harta bendaku”.
Sayembara itu didengar oleh Jaka Tingkir yang bergelar Sultan Hadiwijaya yang saat itu berkuasa di Pajang. Jaka Tingkir yang pernah menjadi prajurit Demak menyanggupi untuk membunuh Arya Penangsang.
Jaka Tingkir sendiri merupakan adik ipar dari Sunan Prawoto dan Ratu Kalinyamat yang dibunuh oleh kaki tangan Arya Penangsang. Jaka Tingkir bersama Ki Ageng Penjawi dan Ki Ageng Pemanahan akhirnya berhasil membunuh Arya Penangsang dan merebut kekuasan Kerajaan Demak.
Karena membantu dalam pertempuran melawan Arya Penangsang, Jaka Tingkir memberi hadiah Ki Ageng Penjawi berupa tanah di wilayah Pati. Sedangkan Ki Ageng Pemanahan mendapat hadiah tanah wilayah Mataram.
Sementara Bupati Surabaya yang banyak menundukkan daerah-daerah wilayah Jawa Timur diangkat menjadi wakil raja dengan daerah kekuasaan Sedayu, Gresik, Surabaya dan Panarukan.
Jaka Tingkir lalu memindahkan pusat kerajaan Demak ke Pajang. Tak hanya itu, putra Ki Ageng Pemanahan bernama Sutawijaya yang berhasil mengalahkan Arya Penangsang kemudian diangkat sebagai anak angkat Sultan Hadiwijaya dan menjadi saudara Pangeran Benawa yang merupakan putera mahkota Kesultanan Pajang.
Lihat Juga :