Terpapar COVID-19, Presiden Brasil Konsumsi Obat Anti Malaria
Rabu, 08 Juli 2020 - 22:31 WIB
loading...
Presiden Brasil Jair Bolsonaro meminum Hidroklrokuin untuk mengobati Covid-19. Foto/Sky News
A
A
A
BRASILIA - Virus Corona atau COVID-19 di Brasil kian meningkat, bahkan Presiden Brasil Jair Bolsonaro dinyatakan terpapar oleh virus yang menyerang pernafasan ini.
Itu diketahui setelah orang nomor satu di Brasil menderita batuk dan demam selama akhir pekan. Meski begitu, ia bersikeras bahwa pendekatannya terhadap virus yang dianggap sebagai "flu kecil" telah benar selama ini.
Baca Juga: Rusia Optimis Rampungkan Pengembangan Vaksin Covid-19 pada Akhir 2020
Bolsonaro mengatakan ia menggunakan obat anti-malaria hidroklorokuine yang kontroversial untuk mengobati infeksi virus Coronanya.
"Kami tahu ada solusi lain yang dapat membantu melawan virus Corona ," katanya beberapa jam kemudian dalam sebuah video yang ia posting di Facebook setelah menelan dosis ketiga obat itu.
"Tidak ada yang terbukti secara ilmiah, tetapi ada yang bekerja," imbuhnya seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (8/7/2020).
Hidroklorokuine telah dilarang di Prancis, dikeluarkan dari program percobaan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan dilabeli berbahaya oleh para ahli.
Itu diketahui setelah orang nomor satu di Brasil menderita batuk dan demam selama akhir pekan. Meski begitu, ia bersikeras bahwa pendekatannya terhadap virus yang dianggap sebagai "flu kecil" telah benar selama ini.
Baca Juga: Rusia Optimis Rampungkan Pengembangan Vaksin Covid-19 pada Akhir 2020
Bolsonaro mengatakan ia menggunakan obat anti-malaria hidroklorokuine yang kontroversial untuk mengobati infeksi virus Coronanya.
"Kami tahu ada solusi lain yang dapat membantu melawan virus Corona ," katanya beberapa jam kemudian dalam sebuah video yang ia posting di Facebook setelah menelan dosis ketiga obat itu.
"Tidak ada yang terbukti secara ilmiah, tetapi ada yang bekerja," imbuhnya seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (8/7/2020).
Hidroklorokuine telah dilarang di Prancis, dikeluarkan dari program percobaan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan dilabeli berbahaya oleh para ahli.
Lihat Juga :