Kisah Raden Kikin Dibunuh usai Salat Jumat di Masjid Demak Picu Balas Dendam Arya Penangsang
Minggu, 06 November 2022 - 07:59 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Kitab Kapunggawan Jipang, jumenengan Arya Penangsang baru di laksanakan empat tahun kemudian yakni pada 1525. Saat itu Arya Penangsang berumur 20 tahun.
Arya Penangsang merupakan murid kesayangan Sunan Kudus yang kemudian mewarisi keris pusaka Setan Kober. Sosok Arya Penangsang dikenal sakti dan kepribadiannya yang tegas dan tidak kompromi dalam membela dan mempertahankan kebenaran. Hal itulah yang membuatnya disegani.
Riwayat mengenai Arya Penangsang tercantum dalam beberapa serat dan babad yang ditulis ulang pada periode bahasa Jawa Baru (abad ke-19), seperti Babad Tanah Jawi dan Babad Demak. Dalam Babad Tanah Jawi dikisahkan karakter Arya Penangsang sebagai pribadi yang mudah marah, kurang hati-hati dan kejam.
Arya Penangsang lahir di Lasem pada 1505. Dia merupakan putra pertama Pangeran Surowiyoto atau Raden Kikin atau sering disebut juga sebagai Pangeran Sekar Sedo Lepen putra dari Raden Patah, Raja Demak Bintoro.
Ibu Raden Kikin adalah cucu dari Sunan Ampel bernama Putri Solekha anak dari pasangan P Wironegorao Raja adipati Lasem dengan Nyi Ageng Malokha putri dari Raden Rahmat Sunan Ampel.
Ibu Arya Penangsang bernama Putri Ayu Retno Panggung anak dari Adipati Jipang Ratu Ayu Retno Kumolo, anak dari Raja Majapahit Prabu Brawijaya V, istri dari Ki Hajar Windusana, sehingga Arya Penangsang juga mewarisi kedudukan neneknya sebagai Adipati Jipang.
Dalam perjalanan waktu, Arya Penangsang akhirnya mengetahui siapa pembunuh ayahnya dari Sunan Kudus berniat membalas dendam. Arya Penangsang mencoba membalas dendam kepada Raden Mukmin yang telah membunuh ayahnya.
Arya Penangsang akhirnya mengutus Rangkud untuk membunuh Raden Mukmin, Sultan Demak yang bergelar Sunan Prawata. Sebutan Sunan Prawata lantaran pusat pemerintahan Demak saat itu bukan lagi di Demak Bintara, melainkan di Gunung Prawata.
Berbekal Keris Kiai Betok yang diberikan oleh Arya Penangsang, Rangkut pergi ke Gunung Prawata. Setiba di tujuan, Rangkut memasuki ruang peraduan Sunan Prawata.
Saat itulah ia menikam keris Kiai Betok ke tubuh Sunan Prawata, yang tengah tertidur pulas. Keris itu pun juga membunuh sang istri yang juga tengah tertidur pulas.
Namun sebelum menghembuskan napas terakhir bersama sang istri, Sunan Prawata sempat memberikan perlawanan dengan keris Kiai Betok itu. Ia menarik keris itu dari tubuhnya dan menghujamkan kembali ke tubuh Rangkud. Eksekutor yang dikirim Arya Penangsang pun turut tewas bersamaan tewasnya Sunan Prawata dan istrinya.
Hingga akhirnya setelah meninggalnya Sunan Prawoto, Arya Penangsang menjadi Penguasa Demak sebagai Sultan Demak V, ibu kota Kerajaan Demak ia pindahkan ke Jipang. Periode ini dikenal dengan sebutan Demak Jipang (1549-1554).
Arya Penangsang Terbunuh
Arya Penangsang merupakan murid kesayangan Sunan Kudus yang kemudian mewarisi keris pusaka Setan Kober. Sosok Arya Penangsang dikenal sakti dan kepribadiannya yang tegas dan tidak kompromi dalam membela dan mempertahankan kebenaran. Hal itulah yang membuatnya disegani.
Riwayat mengenai Arya Penangsang tercantum dalam beberapa serat dan babad yang ditulis ulang pada periode bahasa Jawa Baru (abad ke-19), seperti Babad Tanah Jawi dan Babad Demak. Dalam Babad Tanah Jawi dikisahkan karakter Arya Penangsang sebagai pribadi yang mudah marah, kurang hati-hati dan kejam.
Arya Penangsang lahir di Lasem pada 1505. Dia merupakan putra pertama Pangeran Surowiyoto atau Raden Kikin atau sering disebut juga sebagai Pangeran Sekar Sedo Lepen putra dari Raden Patah, Raja Demak Bintoro.
Ibu Raden Kikin adalah cucu dari Sunan Ampel bernama Putri Solekha anak dari pasangan P Wironegorao Raja adipati Lasem dengan Nyi Ageng Malokha putri dari Raden Rahmat Sunan Ampel.
Ibu Arya Penangsang bernama Putri Ayu Retno Panggung anak dari Adipati Jipang Ratu Ayu Retno Kumolo, anak dari Raja Majapahit Prabu Brawijaya V, istri dari Ki Hajar Windusana, sehingga Arya Penangsang juga mewarisi kedudukan neneknya sebagai Adipati Jipang.
Dalam perjalanan waktu, Arya Penangsang akhirnya mengetahui siapa pembunuh ayahnya dari Sunan Kudus berniat membalas dendam. Arya Penangsang mencoba membalas dendam kepada Raden Mukmin yang telah membunuh ayahnya.
Arya Penangsang akhirnya mengutus Rangkud untuk membunuh Raden Mukmin, Sultan Demak yang bergelar Sunan Prawata. Sebutan Sunan Prawata lantaran pusat pemerintahan Demak saat itu bukan lagi di Demak Bintara, melainkan di Gunung Prawata.
Berbekal Keris Kiai Betok yang diberikan oleh Arya Penangsang, Rangkut pergi ke Gunung Prawata. Setiba di tujuan, Rangkut memasuki ruang peraduan Sunan Prawata.
Saat itulah ia menikam keris Kiai Betok ke tubuh Sunan Prawata, yang tengah tertidur pulas. Keris itu pun juga membunuh sang istri yang juga tengah tertidur pulas.
Namun sebelum menghembuskan napas terakhir bersama sang istri, Sunan Prawata sempat memberikan perlawanan dengan keris Kiai Betok itu. Ia menarik keris itu dari tubuhnya dan menghujamkan kembali ke tubuh Rangkud. Eksekutor yang dikirim Arya Penangsang pun turut tewas bersamaan tewasnya Sunan Prawata dan istrinya.
Hingga akhirnya setelah meninggalnya Sunan Prawoto, Arya Penangsang menjadi Penguasa Demak sebagai Sultan Demak V, ibu kota Kerajaan Demak ia pindahkan ke Jipang. Periode ini dikenal dengan sebutan Demak Jipang (1549-1554).
Arya Penangsang Terbunuh
Lihat Juga :