Cerita Kengerian saat Tragedi Kerusuhan Pecah di Stadion Kanjuruhan
Minggu, 02 Oktober 2022 - 13:07 WIB
loading...
A
A
A
Dalam situasi dilanda kepanikan tersebut, tiba-tiba terdengar ada tembakan kedua. Helmi mengaku langsung mengalami sesak nafas, dan perih di mata. Bahkan, hidungnya sampai mengeluarkan lendir, hingga mual-mual ingin muntah.
Helmi yang datang bersama rombongan sebanyak 63 orang tersebut, berupaya untuk tidak panik. Namun, anggota rombongannya sudah kocar-kacir berlarian di tengah kerumunan massa yang mencoba berlarian ke luar stadion.
"Saya berupaya tidak panik, meskipun sambil menahan sesak napas dan mata sudah berair karena tak kuat menahan penih. Secara perlahan-lahan akhirnya saya bisa ke luar stadion," ungkapnya.
Baca juga: Warga Datangi Posko di Balai Kota Malang, Cari Korban Tragedi Kanjuruhan
Saat berjalan pelan menuju pintu ke luar stadion, Helmi mengaku sempat melihat banyak orang berjatuhan dan saling injak karena panik. Kondisi di tribun juga sangat gelap, sehingga pandangan mata semakin kabur.
Selain orang dewasa, di dalam 63 orang rombongan Aremania yang berangkat ke Stadion Kanjuruhan tersebut, menurut Helmi ada dua yang masih anak-anak sekitar usia delapan tahun. "Kami semua terpisah tidak tentu arah," ungkap Helmi.
Helmi yang datang bersama rombongan sebanyak 63 orang tersebut, berupaya untuk tidak panik. Namun, anggota rombongannya sudah kocar-kacir berlarian di tengah kerumunan massa yang mencoba berlarian ke luar stadion.
"Saya berupaya tidak panik, meskipun sambil menahan sesak napas dan mata sudah berair karena tak kuat menahan penih. Secara perlahan-lahan akhirnya saya bisa ke luar stadion," ungkapnya.
Baca juga: Warga Datangi Posko di Balai Kota Malang, Cari Korban Tragedi Kanjuruhan
Saat berjalan pelan menuju pintu ke luar stadion, Helmi mengaku sempat melihat banyak orang berjatuhan dan saling injak karena panik. Kondisi di tribun juga sangat gelap, sehingga pandangan mata semakin kabur.
Selain orang dewasa, di dalam 63 orang rombongan Aremania yang berangkat ke Stadion Kanjuruhan tersebut, menurut Helmi ada dua yang masih anak-anak sekitar usia delapan tahun. "Kami semua terpisah tidak tentu arah," ungkap Helmi.
Lihat Juga :